Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Ajakan Menikah


__ADS_3

"Sulit dipercaya." Kata-kata itu muncul didalam benak Dika. Keputusan Lia yang telah rujuk kembali dengan Agus kembali menyisakan luka yang mendalam baginya. Terlebih ia berharap sebelumnya dapat kembali memperjuangkan kembali cintanya dan berakhir di pelaminan. Namun, harapan itu pupus seketika setelah mendengar kalau Lia kini tengah mengandung anak dari Agus dan harus rujuk kembali demi sang anak.


"Apa boleh buat. Yang terjadi biarlah ini terjadi. Aku harus ikhlas." ucapnya dengan hati yang sedih.


"Tapi kenapa Ya Allah ini semua mesti terjadi pada diriku. Mestinya tak kau titipkan anak itu saat ini. Sehingga aku harus sekali lagi mengalami kekecewaan yang mendalam." rutuknya di dalam hatinya.


Der....Der...Der... Suara ponsel bergetar seketika menghentikan pergulatan batin yang tengah dihadapi oleh Dika.


Tertulis nama Winda di balik layar ponsel milik Dika.


"Hallo." Ucap Dika dengan nada malas dan menghembuskan nafas panjang.


"Ada apa nelepon sepagi ini?" Tanya Dika.


"Dika, aku tahu kamu saat ini lagi galau tingkat tinggi tapi kan engga seharusnya kamu galau terus. Yuk kita olahraga bersama kita senam pagi biar badan sehat pikiran juga tenang. Lumayan pagi ini cuacanya bagus untuk berolahraga udaranya juga sejuk." ucap Winda sambil menghirup udara pagi yang sangat segar.


"Malas ah. Kamu aja yang olahraga. Aku mau dirumah mau rebahan seharian." Jawab Dika.


"Engga boleh malas-malasan. Ayo bangun dan bersiap-siap. Aku udah ada didepan rumahmu." Ucap Winda.

__ADS_1


"Ah kamu sedang bergurau yah. Jam segini sepagi ini kamu di depan rumah aku. Mana mungkin." Ungkap Dika tak percaya.


"Lihat saja keluar jika tak percaya." Ucap Winda dan menutup sambungan teleponnya.


Karena merasa tak percaya, Dika mengintip dari kaca jendela rumahnya. Ia sibakkan gorden setengah terbuka untuk melihat keluar sambil masih menggenggam ponselnya. Seketika matanya membelalak tak percaya. Benar saja kalau Winda sudah berada di depan rumahnya.


Winda melihat dari arah luar kemudian melambaikan tangan kepada Dika seolah sedang menyapa. Maka dari itu, mau tidak mau alasan apapun tetap ia tidak bisa menolak ajakan Winda untuk berolahraga. Ia pun bergegas bersiap-siap. Dengan setelan trening berwana navy ia keluar rumah dengan sangat malas.


Cuaca pagi itu, sangat cerah. Langit biru yang membentang disertai pancaran sinar mentari yang hangat berhasil membuat Winda dan Dika berkeringat setelah menyelesaikan lari pagi berkeliling lapangan.


"Huh, katanya malas lari pagi. Giliran lari paling semangat." Celetuk Winda menggerutu karena disetiap putaran ia selalu paling belakang.


"Udah dulu yuk, kita istirahat aja dulu." Ajak Winda.


"Iya bolehlah." Lagi-lagi menjawab dengan singkat.


Winda dan Dika pun berisitirahat di sebuah warung yang tak jauh dari lapangan tempat mereka berlari. Keduanya sama-sama memesan sebotol air minuman. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja, Winda menghabiskan sebotol air minum. Kemudian memakan beberapa gorengan yang tersaji di sebuah nampan. Melihat kelakuan Winda, Dika tiba-tiba terkekeh seolah senyumannya mengejek Winda. Namun, Winda mengira kalau Dika merasa sudah tidak galau lagi.


"Eh ngomong-ngomong, kelihatanya kamu sudah engga galau lagi." Celoteh Winda membuka pembicaraan.

__ADS_1


"Tuh buktinya kamu ketawa terus." tunjuk Winda pada bibir Dika yang terus-menerus tersenyum.


"Hmmm. Aku tersenyum karena lihat tingkah kamu dari tadi." Ungkapnya


"Tingkahku yang mana?" tanya Winda heran.


" Itu." tunjuk Dika pada sebuah gorengan yang masih digenggam tangan kanan Winda yang hendak ia makan dan sudah ancang-ancang membuka mulutnya lebar-lebar untuk melahap gorengan tersebut.


Merasa disindir, Winda tak jadi melahap gorengan tersebut. Ia menunda kembali gorengan tersebut pada nampan. Seketika wajahnya berubah menjadi cemberut.


"Udah jangan cemberut gitu. Jelek tahu." ungkap Dika mencoba menghiburnya.


Winda hanya menoleh wajah Dika dan masih memonyongkan bibirnya. Ia masih merasa sebal dan tersinggung.


Pada akhirnya, Dika mengalah dan mencoba meminta maaf kepada Winda. Serta menjelaskan bukan bermaksud untuk menyindir atau bahkan sampai menyinggung perasaannya. Hanya saja, ia menjelaskan kepada Winda bahwa tidak baik setelah berolahraga mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak sebab akan mempengaruhi proses pembakaran kalori yang baru saja dibakar setelah berlari pagi.


Mendapatkan penjelasan tersebut, akhirnya Winda mengerti dan paham. Dika tidak bermaksud mengejeknya atau bahkan menyindirnya. Ia pun dengan senang hati memaafkan Dika. Keduanya pun akhirnya tertawa bahagia seakan-akan tidak ada beban yang menimpa mereka. Dika yang galau kini merasa terhibur dengan adanya Winda.


"Ayo kita menikah." Tiba-tiba Dika mengatakan hal itu kepada Winda. Membuat gadis itu termenung tak bergeming sedikitpun dari tempat ia duduk. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, ia merasa kaget bukan kepalang karena baru saja ada yang mengajaknya menikah. Terlebih saat ia ketahui yang mengajaknya bukanlah orang yang baru saja ia kenali baru-baru ini. Melainkan adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2