Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Kebenaran Yang Membawa Luka


__ADS_3

Komitmen dalam pernikahan melebihi komitmen dalam perjanjian apapun. Islam memandang pernikahan sebagai komitmen yang kokoh, sejajar komitmen Allah dengan para nabiNya. Oleh karena itu, suami istri harus bertanggung jawab untuk menjaga komitmen yang diucapkan pada ijab kabul secara Islam. Menjaga komitmen berarti berupaya merawat cinta dan kasih sayang yang telah Allah Tuhan Yang Maha Esa, tiupkan ke dalam sanubari, ketentraman akan dirasakan, tetapi sebaliknya, jika mengabaikan komitmen berarti menyia-nyiakan anugerah yang telah diberikan sehingga ketentraman tidak pernah didapatkan.


Mempertahankan sebuah komitmen dalam rumah tangga merupakan hal yang sulit. Terlebih di usia pernikahan yang masih muda dan cukup rentan patah ditengah jalan serta berakhir dengan kata perceraian.


Memasuki satu bulan pernikahan, Lia dan Agus merupakan pasangan pengantin baru yang masih dalam suasana romansa. Namun, berubah seketika menjadi bulan malapetaka bagi keduanya.


Sesuai dengan janjinya Minggu lalu untuk mengantarkan Lia berkunjung ke kediaman orangtuanya. Hari itu tepatnya hari Sabtu pukul 09.00 WIB ia beserta istrinya pergi ke Desa untuk mengunjungi mertuanya sekaligus sudah menjadi orangtua kedua bagi Agus. Di tengah perjalanan, Lia menyuruh untuk berhenti sejenak tepat didepan pemberhentiannya ada toko buah-buahan. Nampak buah-buahan nya begitu lengkap dan sangat segar.


"Bu, berapa sekilonya jeruk ini?" Tanyanya kepada si ibu pedagang buah.


"Duapuluh ribu neng sekilonya." Jawab si pedagang.


"Ya udah Bu, aku minta dua kilo yah." Ucap Lia kembali serta menyodorkan beberapa lembaran uang sepuluh ribuan.


Setelah membeli buah jeruk tersebut. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Lia tau betul kesukaan bapak dan juga ibunya. Oleh sebab itu ia membeli buah jeruk tersebut untuk dihadiahkan kepada mereka sebagai oleh-oleh.


Sesampainya di Kediaman Pak Mamat dan Bu Sulastri. Rumah itu terlihat sepi. "Mungkinkah tidak ada orang di dalam." Gumamnya.


Tok...Tok...Tok... "Assalamualaikum, Bu Pak. Ini Lia." Teriak Lia dari Luar.


"Pak, kaya suara Lia di Luar." Tutur Bu Sulastri kepada Pak Mamat yang sedang sibuk berkutat dengan ayam piaraannya.


Kembali suara itu berteriak memanggil Ibu dan Bapak. Keduanya memastikan bahwasanya itu benar suara Lia anak mereka. Segera mereka bergegas menghentikan segala aktifitas mereka dan berhamburan keluar untuk membukakan pintunya.


Klek... Pintu dibuka.


"Wa'alaikum salam, Lia anak ibu."Seru Bu Sulastri memeluk anaknya dengan erat. Bu Sulastri tak hentinya menciumi kedua pipi putrinya dengan gemas. Sementara Lia dan Bu Sulastri saling berpelukan melepas rasa rindu yang telah lama membendung. Agus menyalami Pak Mamat dengan sangat takzim. Ia memohon maaf kepada Pak Mamat karena baru hari ini mereka bisa berkunjung (Mode Isyarat). Bapak yang tak mengerti dengan ucapan Agus memilih untuk diam dan menjawabnya dengan senyuman saja. Dengan gerakan yang agak kaku Bapak memperagakan kepada Agus agar ia masuk dan duduk bersamanya. Maklum saja Bapak jadi kikuk sebab, ini baru pertama kalinya ia berinteraksi dengannya.


"Ayo duduk Lia." Ajak Bu Sulastri melepas pelukannya.


Sebelum duduk Lia menyalami Bapaknya dengan Takzim begitupun sebaliknya Agus juga menyalami Bu Sulastri seperti halnya yang tadi ia lakukan kepada Bapak Mamat.


"Bagaimana Kabar kalian disana?" Tanya Pak Mamat membuka pembicaraan sementara Bu Sulastri berlalu ke dapur dan membuatkan minuman untuk kedua anaknya. Tak lupa juga menyertakan makanan ringan sebagai teman minumannya.

__ADS_1


"Alhamdulillah baik. Pak." Jawab Lia bersemangat.


"Oh iya bagaimana kabar Pak Ridwan disana?" Tanya Pak Mamat kembali.


"Alhamdulillah Pak Ridwan juga baik Pak."


"Oh iya Pak Bu ada yang mesti kalian ketahui." Seru Lia tiba-tiba membuat rasa penasaran Bu Sulastri kumat. Spontan saja Bu Sulastri mendekati putrinya itu. Sementara Pak Mamat menanggapinya dengan ekspresi biasa saja.


"Apaan sih Lia. Buruan cerita." Rengek Bu Sulastri pada Lia. Disaat yang sama Agus hanya duduk manis di samping Lia memerhatikan mereka yang sedang berbincang-bincang.


"Pak Ridwan telah membohongi Bapak sama Ibu."


"Berbohong tentang apa, Lia." Timpal Pak Mamat.


"Tentang pendidikan Agus. Pak. Waktu itu Pak Ridwan pernah bilang ke Bapak kan kalau Agus tamat SD dan tidak dilanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi karena Agusnya engga mau."


"Iya. Itu benar." Pak Mamat Membenarkan.


"Masalahnya Lia baru tahu setelah Agus cerita Bu. Kalau sebenarnya Agus engga pernah sekolah. Bahkan untuk membaca dan menulis pun dia tidak bisa. Semua itu karena Bapaknya tidak sayang Bu. Dia hanya berkamuflase di depan semua orang kalau dia sayang sama anaknya nyatanya tidak. Dia diabaikan pak."


"Oh iya Pak ada satu lagi yang buat Lia terkejut. Wanita yang selama ini disebut istri pak Ridwan adalah Istri kedua Pak Ridwan alias ibu sambungnya Agus."


"Loh, kok sama anak sendiri engga sayang. Engga mungkin dong." timpal Pak Mamat tak percaya.


"Beneran pak. Lia engga bohong. Selain dari hasutan ibu sambungnya, alasan kuat ia tidak disekolahkan karena Agus penyandang disabilitas. Padahal Pak Ridwan orang mampu dan berkecukupan." Jawab Lia menjelaskan.


"Kalau anaknya sendiri diabaikan, bisa jadi kamu juga diabaikan." Celetuk Bu Sulastri menyela pembicaraan.


" Ya itulah yang Lia takutkan Bu." ucap Lia sedih.


"Sudah tenang saja Lia. Bapak dan ibumu tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu." tutur Pak Mamat menenangkan.


"Pokoknya ada apa-apa bilang sama ibu yah. Jangan sungkan untuk bercerita." Ucap Bu Sulastri.

__ADS_1


"Ya ampun Lia sampai lupa tadi Lia beli jeruk kesukaan ibu dan bapak." timpal Lia menyodorkan plastik hitam yang berisikan buah jeruk tersebut.


"Makasih ya sayang." Ucap Bu Sulastri.


Tak disadari waktu begitu cepat berlalu. Teriknya matahari menembus kaca rumah Pak Ridwan. Waktu sholat Dzuhur pun telah tiba. Mereka yang asyik mengobrol sambil menikmati santapan yang Bu Sulastri hidangkan bergegas menyelesaikannya. Buru-buru Lia dan Bu Sulastri mengambil air wudhu untuk melakukan sholat Dzuhur. Sementara Agus dan Pak Mamat pergi ke masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.


Seusai sholat Dzuhur, Lia bercerita kembali. Kali ini persoalannya berbeda dengan tadi.


"Bu, Lia engga tahu apakah ini pantas untuk diceritakan atau tidak. Tapi, Lia engga ada tempat lain selain curhat sama ibu." ucap Lia serius.


"Ada apa lagi Lia. Coba ceritakan sama ibu. Kayaknya ini lebih serius dari hal yang tadi." Ucap Bu Sulastri menebak.


"Iya Bu, ini lebih serius. Lia engga enak aja Bu, kalau nafkah lahir ditanggung terus sama Pak Ridwan."


"Loh kok gitu. Emang Agus engga bekerja." Tanya Bu Sulastri.


"Engga Bu. Suamiku engga kerja dimana-mana. Seharian ia selalu di rumah menemaniku sepanjang hari. Aku tidak pernah melihat dia pergi untuk bekerja."


" Masa sih. Setahu ibu. Pak Ridwan pernah bilang ke ibu sama bapak katanya dia punya bengkel."


"Engga Bu. Itu semua masih dalam rencana. Memang dia ngerti dalam urusan mesin. Tapi percuma Bu kalau engga dibudidayakan keterampilan tersebut akan punah."


"Ini engga bisa dibiarkan. Bapakmu harus tahu secepatnya. Karena ini soal masa depanmu." ucap Bu Sulastri sedikit kesal mendengarnya.


"Bu, jangan bicarakan ini sama Bapak. Lia takut bapak marah sama Lia karena sudah mengadu." ucap Lia mencegah Bu Sulastri.


Tanpa menggubris perkataan Lia. Bu Sulastri mencari sosok pak Mamat dan langsung menceritakan segalanya.


"Celakalah aku." batin Lia saat melihat Pak Mamat dan Bu Sulastri sedang berbicara. Terlihat wajah bapak berubah seketika menjadi muram, geram, dan kesal.


"Sudahi saja Pak. Pernikahan ini tidak sehat."


entah apa yang terjadi selanjutnya Lia tak tahu.

__ADS_1


__ADS_2