
Winda dan Dika berdiri bersama di pelaminan dengan berbalut busana pengantin serba putih. Tampak wajah keduanya bersinar memancarkan aura yang sangat kentara bak pangeran dengan sang putri. Tampil dengan sangat mempesona. Keduanya saling tersipu malu disaat sang photografer meminta berpose lebih mesra lagi.
"Coba nak Dika peluk istrinya dari belakang." Ujar sang photografer mengarahkan.
Dika yang sangat canggung, mau tak mau harus menuruti perintah dari sang photografer meskipun di dalam hatinya berdebar tak karuan. Jantungnya seakan berdetak dengan sangat cepat ketika ia berada lebih dekat dengan Winda yang kini telah resmi ia persunting sekitar dua jam yang lalu setelah berbagai proses pernikahan yang begitu amat panjang dari mulai upacara adat hingga proses yang paling utama yakni ijab qobul.
"Winda, maaf ya aku harus peluk kamu." celetuk Dika setengah berbisik kepada Winda.
Winda hanya membalasnya dengan senyum dan menoleh seakan ia menahan tawanya. Entah apa yang ia pikirkan yang jelas ia tahu, kalau dirinya saat ini telah resmi menjadi istrinya. Yang ia tertawakan, mengapa seorang suami harus berkata maaf jikalau hendak memeluk istrinya sendiri. Itulah yang tak habis pikir menurut Winda jelas itu sangatlah aneh.
Kembali sang photografer meminta pose saling berhadapan kali ini mereka dipinta untuk saling memandang satu sama lain. Jelas saja, tubuh Dika mulai gemetar tak karuan dikala ia ditatap oleh Winda padahal Dikalah orang yang dengan percaya diri menikahi Winda. Tapi kenapa disaat proses pemotretan dia malah menjadi gugup bukan kepalang.
__ADS_1
"Dika, tataplah mataku seakan kau sedang menatap sahabatmu. Aku ini Winda yang jelas sebelum menjadi istrimu aku adalah temanmu." ungkap Winda sambil mengusap pelipis sang suami.
Kata-kata Winda seolah menjadi kekuatan bagi Dika. Ia seolah mempunyai keberanian diri untuk menatap Winda. Alhasil pemotretan berjalan lancar dan dengan hasil yang sangat memuaskan. Tidak dapat dipercaya, senyuman serta tatapannya seolah terkesan natural dan tidak dibuat-buat. Sang photografer juga memuji kalau merekalah pasangan yang paling romantis.
Ditempat yang sama, Lia dan Agus telah tiba di tempat parkiran resepsi pernikahan Winda dan Dika. Lia yang tengah hamil muda itu dituntun berjalan dengan hati-hati oleh sang suami yang pengertian. Sebelum mereka masuk Lidya menuliskan nama mereka berdua di sebuah buku tamu yang sudah berjejer rapi diatas meja.
Setelah itu, keduanya mencari keberadaan sepasang pengantin baru itu untuk mengucapkan selamat dan memberkati pasangan itu dengan doa.
"Lia...Aku juga bahagia kamu dengan suamimu datang ke hari bahagiaku. Makasih banyak yah Sahabatku." Ucap Winda dan membalas kembali memeluk Lia.
Sementara Dika dan Agus saling menatap dan mematung tak bergeming sedikitpun. Namun, mereka seketika sadar jikalau mereka sedang bersama istrinya masing-masing.
__ADS_1
"Dika... Selamat yah. Semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Serta tak lupa jikalau kalian bisa dianugerahi momongan secepatnya."Ungkap Lia sambil menyalami Dika.
Dika sekilas memandang Lia dengan tatapan kosong. Matanya seolah mengatakan hal yang berbeda. Ia masih memiliki perasaan cinta pada Lia. Melihat dia sedang ada di hadapannya membuat tubuhnya itu seolah ingin memeluk Lia dalam dekapannya. Batinnya tersiksa namun, yang perlu ia sadari kalau Lia memang bukanlah jodoh untuknya. Lia hanyalah miliki Agus. Sementara Dia adalah milik Winda.
"Bolehkah, aku meminta satu permintaan." Tanya Dika pada Winda.
"Ya Dika, tentu saja boleh. Apa itu?" tanya Winda.
"Bolehkah aku memeluk Lia untuk terakhir kalinya agar aku bisa melupakannya." Ungkap Dika.
Deg.... hati Winda sedikit kesal dan merasa cemburu. Akan tetapi, ia tahu perjalanan cinta Dika dengan Lia sangatlah dalam. Maka ia tak ingin merusak kebahagiannya di hari pernikahannya. Untuk itu, ia memperbolehkannya untuk memeluk sahabatnya Lia untuk terakhir kalinya. Lia yang mendengar persetujuan dari sahabatnya itu tak dapat menolak permintaan Dika. Dengan senang hati, Lia dipeluk oleh Dika. Sementara Agus yang tak tahu asal usulnya melihat Istrinya dipeluk oleh pria lain merasa cemburu dan kesal. Namun, apa daya ia tak dapat berbuat apa-apa selain hanya memerhatikannya dari dekat.
__ADS_1