Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Sepertiga Malam Agus


__ADS_3

Nabi Muhammad SAW bersabda “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun setiap malam ke langit dunia ketika masih tersisa sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman: “Barangsiapa yang memohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. Barangsiapa yang memohon (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya. Dan barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkannya.” (HR. Bukhari).


Malam itu langit begitu mendung, tak ada satupun sinar bintang di langit. Dinginnya malam itu bagaikan sebuah duri yang sangat tajam menembus kulit. Agus terbangun dari tidurnya. Ia melihat benda pipih bulat di samping nakas ranjang tidurnya, waktu masih menunjukkan pukul dua pagi. Netranya masih sedikit mengantuk. Namun, kakinya beranjak dari ranjang dan menolak untuk merebahkan kembali tubuhnya. Langkah kakinya membawa ia mengambil air wudhu.


Sebuah sejadah usang peninggalan sang ibunda digelarnya di sebuah ruangan khusus tempat ia melaksanakan sholat.


"Allahu Akbar." seru Agus dalam hati.


Gema takbir ia panjatkan berulang kali disetiap gerakan sholatnya melaksanakan dua rakaat sholat istikharahnya. Sesudah itu, ia panjatkan doa kepada Sang Khalik meminta petunjuk tentang istrinya.

__ADS_1


Dalam doa ia meminta "Ya Allah, ampunilah segala dosaku. Kuatkanlah langkahku menghadapi kenyataan pahit ini. Aku sangat menyayangi dia dengan tulus. Selebihnya dari itu, Aku mohon kalau memang dia itu jodoh dunia dan akhirat bagiku, maka atas Kehendak-Mu luluhkanlah hatinya untuk menerimaku apa adanya. Jadikanlah pernikahan ini menjadi sakinah, mawadah dan warohmah. Tetapi, jika ia memang bukan jodohku. Maka, ikhlaskanlah hati ini untuk menerima kenyataan yang telah Engkau takdirkan kalau istriku harus pergi dari kehidupanku. Mungkin memang inilah jalan yang terbaik untukku juga istriku.


Keesokan harinya, Agus hendak bertandang ke kediaman Pak Mamat ditemani sang ayah untuk menemui istrinya. Akan tetapi, tujuannya dihalangi oleh Sang Kakak.


Mamah Ade berkata "Untuk apa mengharapkan wanita seperti dia yang meninggalkanmu hanya untuk urusan dunia. Dia tidak bisa menerima segala kekuranganmu. Wanita itu sangat munafik." tuturnya.


Mendadak Agus geram, mengetahui sang istri diperolok-olok oleh sang Kakak. Ia tak menyangka kalau Kakak yang ia hormati selama ini bisa mengucapkan kata-kata yang kasar.


"Buang-buang waktu saja mengharapkan wanita munafik itu kembali kesini. Mungkin saja di luar sana dia sedang mentertawakan kita semua karena berhasil membuat kita dipermainkan." timpalnya kembali.

__ADS_1


Agus semakin geram. Ia mengepalkan tangan kanannya membentuk sebuah tinju dan memukul keras kaca almarinya.


Cluk...Clak...Darah menetes dari tangannya bercampur dengan puing-puing pecahan kaca yang berserakan dimana-mana.


"Astagfirullah. Agus tanganmu terluka." Seru Mamah Ade khawatir. Segera Mamah Ade mengambil kotak obat untuk mengobati lukanya. Namun, ia menepiskan tangannya. Menolak untuk diobati. Sementara itu, darahnya terus mengalir memenuhi seluruh jari jemarinya.


Pak Ridwan hanya terpaku melihat Agus semarah itu. Sebab, ini kali pertamanya melihat putranya marah.


"Astagfirullah." batin Agus berkali-kali menyebut kalimat istighfar.

__ADS_1


"Aku tidak boleh seperti ini. Ya Allah, hanya Engkau satu-satunya yang dapat aku percayai. Tiada tempat untukku mengadu selain hanya kepadamu." ucapnya dalam hati.


Untuk menghindari keributan yang lebih parah. Ia pun bergegas pergi meninggalkan mereka. Mengambil kunci kontak sepeda motornya. Kemudian berlalu pergi melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tak peduli ia harus menerobos lampu lalulintas. Saat ini pikirannya sedang kacau. Di tengah perjalanan, dia sedang mencari tempat untuk menenangkan diri. Di keheningan malam itu, jauh dari keluarganya ia berupaya menghibur hatinya sendiri.


__ADS_2