Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Rumah Yang Penuh Dengan Kenangan


__ADS_3

Keberangkatan Lia ke kediaman Agus suaminya diiringi dengan Isak tangis sedih bercampur bahagia. Bu Sulastri harus ikhlas jikalau ia tidak dapat lagi hidup bersama putrinya. Status Istri yang disandang oleh Lia tak memungkiri dirinya harus patuh pada suaminya penyandang disabilitas.


Sekitar jam 5 sore, Lia beserta rombongan keluarga Agus tiba disebuah rumah yang terlihat sederhana tapi memiliki halaman yang luas. Pepohonan yang rindang tampak menghiasi rumah tersebut sehingga suasana rumah tersebut begitu sejuk nan asri. Ketika Lia memasuki rumah tersebut, ia sedikit terkejut. Sebab, nampak dari luar rumah itu terlihat kecil dan sederhana nyatanya sebaliknya didalamnya begitu luas. Disana terdapat 4 kamar, dua kamar mandi, ruang tamu yang luas, ruang tengah, dapur, dan gudang.


"Masyaallah, luas juga ini rumah. Nanti gimana beres beresnya pasti sangat melelahkan." ujarnya dalam hati.


Pak Ridwan menunjukkan kamar Lia dan Agus. sementara kamar utama masih dipakai Oleh Pak Ridwan dan istrinya. Beliau mengatakan rumah ini penuh dengan sejarah dan kenangan. Dimana rumah ini dibuat oleh hasil dan jerih payahnya Umi Agus yang sudah meninggal dunia. Dulunya rumah ini tidak seluas ini. Namun, dikarenakan kakek serta nenek Agus tinggal disini maka dibangun lagi dua kamar dan satu kamar mandi di dalam kamar. Itu untuk memudahkan Kakek serta nenek Agus pergi ke kamar mandi. Kini keduanya telah tiada dan Umi nya Agus pun menyusul mereka.


"Rumah ini, nantinya akan jadi milik Agus sesuai dengan apa yang diwasiatkan oleh Uminya." Jelas Pak Ridwan.


"Tunggu sebentar Pak, mohon maaf jikalau saya bertanya kurang pantas. Kalau memang ibunya Agus telah tiada lalu siapa yang selalu bersama bapak?." Tanya Lia sambil mengerutkan dahinya karena kebingungan.

__ADS_1


"Oh iya bapak lupa kalau belum memperkenalkannya. Bu kesini dulu sebentar!." titah Pak Ridwan kepada wanita yang sedang sibuk di dapur.


Wanita tersebut menghampiri Pak Ridwan. Raut wajahnya masih terlihat tampak lebih muda dari Pak Ridwan.


"Kenalkan, ini ibu sambungnya Agus. Namanya Ibu Hajar." ujar pak Ridwan memperkenalkan istri mudanya.


Di hadapan Lia dan Agus. Pak Ridwan dengan sengaja meminta maaf kepada Bu Hajar jikalau dirinya sampai lupa memperkenalkannya kepada menantunya.


Selain memperkenalkan Bu Hajar, ia juga mengumpulkan seluruh anaknya untuk mengenalkannya kepada Lia. Beliau menjelaskan kalau Agus adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Diantaranya Dadang, Ade, Eman, Suparman, Marzuki, dan Agus. Ade adalah Kakak perempuan satu-satunya. Oleh karenanya, Ade menjadi pusat tumpuan pengganti Umi bagi semuanya.


Ade juga mengatakan kepada Lia untuk memanggilnya mamah.

__ADS_1


Lia bercengkrama dengan para menantu Pak Ridwan. Lia nampak begitu nyaman berbincang dengan salah satu menantu Pak Ridwan yakni Teh Nada.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam. Waktu adzan Maghrib sudah hampir tiba. Semuanya kembali ke rumah masing-masing. Tinggallah Lia, Agus, Pak Ridwan beserta istrinya.


Lia dan Agus mulai meninggalkan ruang tengah. Mereka pamit undur diri untuk membersihkan diri dari sisa make up yang masih melekat di wajahnya sementara Agus bergegas mandi karena merasa tak nyaman setelah seharian memakai baju adat pengantin. Lia duduk disudut ranjang sambil membersihkan wajahnya dengan toner yang ia dapatkan dari hantaran pernikahan.


Beberapa menit kemudian, Agus kembali ke kamar. Dia melihat kalau pasangannya masih sibuk melepaskan atribut pengantinnya. Melihat Lia yang sedari tadi kesulitan untuk melepaskan sanggulnya, Agus berjalan menghampiri Lia dan berinisiatif untuk membantunya. Lia yang memang sangat membutuhkan bantuan tidak menolak jika Agus mau membantu melepaskan sanggulnya. Keduanya begitu sangat dekat. tak ayal jika pandangan mereka saling beradu. Saat beradu pandangan, Agus nampak salah tingkah di depan Lia. Sedangkan Lia menanggapinya dengan biasa saja.


"Tidak ada sedikitpun rasa untuknya." batin Lia.


"Oke selesai. Sekarang aku mau mandi dulu dan bersiap untuk sholat Maghrib." terangnya pada Agus. "Dan kamu juga jangan lupa untuk sholat Maghrib." Lia mengingatkan Agus dengan bahasa isyarat. Lia juga tak lupa mengucapkan terimakasih atas bantuannya tadi.

__ADS_1


__ADS_2