Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Kehamilan Yang Tidak Diinginkan


__ADS_3

Seorang anak dilahirkan ke dunia dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Anak menjadi anugerah dan kebahagiaan bagi sepasang suami istri, sehingga mereka dengan sepenuh hati akan mengasuh anak hingga mereka tumbuh dewasa dan menjadi orang sukses. Namun, teruntuk sebagian orangtua kehadiran seorang anak bisa menjadi beban dan malapetaka. Padahal jelas sekali Allah SWT menerangkan dalam firman-nya di Kitab-Nya Al Qur'an dijelaskan "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar, (QS. Al-Isra’ [17] .


Ingatlah Allah memiliki balasan yang besar bagi mereka yang menjaga amanat ini. Anak adalah Amanah yang sengaja dititipkan oleh Allah SWT sebagai bentuk ujian keimanan bagi orang yang bertakwa. Maka janganlah sia-siakan jiwa dan raga anak, jangan bunuh mereka karena takut miskin. Demikian yang diamanatkan dalam Al-Qur’an.


Ternyata kabar mengenai kehamilan Lia baru diketahui sebagian keluarga Pak Ridwan. Khususnya, Pak Ridwan sendiri yang baru saja mengetahui kalau menantunya sedang hamil. Usia kandungan Lia terbilang masih cukup muda yakni baru memasuki usia 3 Minggu.


Namun, tak disangka kabar kehamilannya justru menjadi ketidaksenangan bagi mertuanya. Alasannya, karena putranya belum mapan. Hal ini juga diungkapkan secara langsung oleh mertuanya kepada Lia yang membandingkannya dengan salah satu menantunya yakni istri dari kak Suparman. Dimana menantunya itu hamil setelah memiliki rumah dan sawah. Sehingga tidak menyusahkan orangtua. Tentu saja, perkataan bapak mertuanya seolah menyindir kehamilannya dan menyakiti perasaannya dimana ia tengah hamil namun, ia dan suaminya masih mengandalkan orangtuanya khususnya dalam urusan nafkah.

__ADS_1


Padahal, anak yang dititipkan adalah anugrah dari sang Maha Kuasa lalu mengapa mereka takut akan ketidakmampuan untuk mengurus seorang anak. Terlebih mengingat sang mertua bergelimang harta. Lalu apa yang mesti ditakutkan. Apakah ia takut dirinya tidak mampu memenuhi segala kebutuhannya ataukah memang dia tidak mempercayai rezeki yang telah Allah SWT berikan.


Dalam doa Lia meminta agar ia diberikan kekuatan baik jiwa maupun raganya untuk menjaga dan merawat anak yang telah dititipkan kepadanya. Setajam apapun perkataan mertuanya ia tak pernah ambil pusing yang terpenting ia selalu berdoa dan meyakini bahwa Allah SWT akan selalu ada mendampinginya.


Cluk...Clak...Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Mendapati sang istri sedang menangis. Agus sebagai seorang suami yang peka akan kesedihan istrinya bertanya "Kenapa engkau menangis?" tanya Agus dengan mode isyarat dan kedua ibu jarinya menyapu derai air mata yang mengalir berharap akan segera berhenti.


"Aku sungguh merasa sangat sedih karena perkataan ayahmu kepadaku. Kehamilanku seolah tidak diinginkan oleh bapakmu. Ia bahkan mengatakan perkataan yang sungguh menyakitkan dan menyinggung perasaanku." Ucap Lia berbicara jujur.

__ADS_1


Agus menyilangkan kedua lengannya berbentuk huruf X. Dengan mode isyaratnya ia menjelaskan untuk tidak menghiraukan perkataan bapaknya. Yang terpenting aku selalu ada bersamamu. Mari kita rawat anak ini dengan baik dan janganlah kau bersedih karena itu akan mempengaruhi kandunganmu. Ingat sekarang kamu bukanlah satu tetapi dua. Kamu dan anakku adalah keluarga yang terpenting bagiku."


Sungguh kata-kata itu membuat hatinya tenang dan damai. Ia terharu sekali lagi dia dapat mengetahui kalau Agus benar sangat tulus mencintainya. Ia berterima kasih kepada sang pencipta karena diberikan pasangan yang Soleh. Agus pun mencium kening sang istri dengan penuh penghayatan, kemudian ciuman itu dilanjutkan kepada kedua kelopak matanya, hidungnya, kedua pipinya, dan dagu serta diakhiri di daerah bibirnya.


Dengan perlahan Agus memberikan sentuhan lembut pada bibir ranum Lia yang tampak merona dan basah itu. Mendapatkan perlakuan tersebut Lia tampak bahagia sorot matanya terlihat penuh cinta. Ya dia sekarang benar-benar sangat mencintainya.


Sentuhan bibir yang hangat itu, ia sambut dengan mesra dan penuh dengan gairah cinta yang menggelora. Semakin lama gairah itu membuncah ketika Agus memberikan pelukan hangat serta sentuhan dari tangannya yang lihai dalam memanjakan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2