
Nasib seseorang terletak pada takdirnya. Jodoh, maut, dan rezeki hanya Allah SWT yang tahu. Sebagai umatnya tentu hanya bisa menjalani kehidupan ini dengan mengikuti ketentuan-Nya yang telah disuratkan pada kitab Lauhl Mahfud. Mengenai jodoh memang terkadang sebagian orang bernasib baik mendapatkan pasangan yang setia, tanggung jawab, dan mampu menjadi imam dunia akhirat. Namun, bagi sebagian yang lain boleh jadi mendapatkan pasangan yang jauh dari kata kriteria sempurna. Sebab, kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Terkadang orang mendapatkan pasangan baik perhatian tapi tanggungjawabnya kurang atau sebaliknya pasangan tanggung jawab tapi sikap dan sifatnya menyimpang.
Untuk yang dijodohkan seperti Lia. Entah ia harus bersyukur atau tidak mendapatkan pria yang baik, perhatian, dan setia namun tak bisa bertanggung jawab atas nafkah lahirnya. Sebagian tetangga Lia disana banyak yang mengatakan sungguh beruntung Lia mendapatkan Agus. Hidupnya enak tidak perlu lagi harus susah cari uang buat makan, rumah sudah punya, sawah punya, kebun punya, kolam ikan punya dan lain sebagainya. Namun, mereka semua tak mengetahui betapa Lia diuji saat ini. Mempunyai pasangan yang tunarunggu dan tunawicara membuatnya harus banting tulang sendiri untuk mendapatkan uang. Lia berfikir tidak mungkin dirinya selalu bergantung kepada bapak mertuanya. Terlebih lagi, Kakak iparnya juga merasa iri. Sebab, perhatian bapaknya teralihkan kepada Agus serba Agus apapun untuk Agus.
Padahal, jauh dari anggapan mereka. Yang mereka ketahui hanyalah opini yang sengaja dibuat oleh bapak mertuanya. Faktanya, tidak sama sekali. Berbekal mesin jahit di rumah, serta keahlian yang dimilikinya. Karena Lia sempat kursus menjahit di salah satu Lembaga Pelatihan Khusus di daerahnya dengan keadaan berbadan dua ia menerima segala bentuk jahitan dari warga setempat serta tetangganya disana untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah.
tiga bulan ia jalani seperti itu. Mencari uang dengan kondisi yang tengah hamil muda tentunya terasa jauh lebih berat. Mengingat saat ini usia kandungannya tengah memasuki bulan ke lima. Semakin hari perut Lia semakin membesar. Seiringnya waktu meski terasa berat dijalani tapi Lia mampu melewatinya. Menjelang dini hari, Lia dengan terkantuk-kantuk terpaksa bangun untuk menyelesaikan jahitannya. Semua itu demi kepuasan pelanggan. Bahkan ia tak peduli jikalau ia mesti begadang. Waktu tidurnya tersita dengan pekerjaan yang ada. Agus suaminya hanya bisa prihatin melihat istrinya sibuk mencari uang sementara Agus tak berdaya sebab, keterbatasannya membuat dirinya tak mampu berbuat apa-apa. Ada rasa ingin membantu tapi sekali lagi rasa ingin membantunya terhalangi dengan keterbatasan yang ada.
Ya, Lia juga tidak bisa berkata apa-apa selain hanya menerima nasibnya seperti ini.
Tok...Tok...Tok...suara pintu diketuk.
__ADS_1
Lia segera membukakan pintunya dan terlihat ada beberapa tetangganya yang datang untuk mengambil hasil jahitan yang dititipkan dua hari yang lalu. Lia menyodorkan tiga kantong plastik yang berisikan pakaian yang baru selesai dijahitnya.
"Terimakasih ya, Teh Lia. Berapa semuanya." Ucap salah satu pelanggan.
"Semuanya totalnya jadi lima puluh lima ribu rupiah." Balas Lia.
"Kalau saya berapa?."Ujar satu orang tetangganya lagi.
"Yang ibu dua puluh lima ribu. Kalau untuk ibu yang satu lagi totalnya tigapuluh lima ribu." Jawab Lia.
Setelah mereka semua membayar. Si ibu pelanggan bertanya lagi " Teh, milarian artos teh meni getol getol teuing. Pan teteh mah meren Atos senang moal pusing mikirin kangge tuang. Da saur si bapak teteh Sagala dicumponan meren artos teh beuki ageung." Ucap Ibu itu dengan bahasa Sunda lengkap dengan logat khas Sunda.
__ADS_1
Lia hanya membalasnya dengan senyuman tak berani menjawabnya dengan jujur. Untuk kesekian kalinya ucapan opini itu membuat hatinya terluka sebab tidak sesuai dengan fakta. Ingin sekali Lia jujur. Tapi, ia menghormati bapak mertuanya sehingga Lia tidak mengatakan yang sebenarnya.
Setelah ketiga pelanggannya berlalu. Tiba-tiba tubuh Lia gontai seakan ada yang menubruk dirinya. Bayangan hitam yang berkelebat membuatnya hampir terjatuh dan kepalanya mendadak pusing. Beruntung, Agus ada di belakang Lia sehingga dengan sigap tubuh Lia di tahan agar tidak terjatuh.
Ini kedua kalinya ia melihat bayangan hitam berkelebat didepannya. Bahkan hari ini ia hampir terjatuh dibuatnya. Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Tetapi, ia tetap berfikir positif bahwa tidak akan terjadi apa-apa. Meski cemas dengan kandungannya, tapi ia berdoa agar segala hal buruk tidak menimpa dirinya dan juga si calon bayi.
Usia kandungannya kini berusia delapan bulan. Hari itu hari Selasa ia mendadak mendapat kabar kalau ibunya kini tengah dirawat. Namun, dikarenakan dengan kondisi yang sedang hamil besar tidak mungkin jika Lia harus ke rumah sakit untuk menunggui ibunya di rumah sakit. Maka dari itu, ibu di tunggu oleh Bi Suti adik dari ibu Sulastri.
Belum ada dua hari Bu Sulastri dirawat tiba-tiba Bu Sulastri meminta untuk pulang ke rumah dengan paksa. Padahal, pada saat itu kondisinya belum membaik. Namun, entah ada angin apa Bu Sulastri nampak ingin sekali pulang ke rumah. Sang dokter tidak mengizinkan namun karena bersikukuh ingin pulang Bu Sulastri sampai mencabut paksa infusan yang masih menempel ditangannya. Maka, sang dokter tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menuruti keinginan Bu Sulastri yang ingin pulang dengan surat perjanjian jika terjadi apa-apa dengan Bu Sulastri jangan pernah salahkan dokter atau pihak rumah sakit.
Bu Sulastri mengiyakan dengan mantap dan menandatangani surat perjanjian tersebut. Entah ada firasat apa. Bu Sulastri juga tak paham kenapa ia bisa berbuat demikian. Pokoknya tidak bisa dijelaskan.
__ADS_1