
Tiiiitttttt....Tiiiittttt...
Suara monitor detak jantung menunjukkan penurunan efisiensi fungsi jantung. Ritme jantung berubah kian lama kian menurun. Dokter yang sedang berjaga di ICU pagi itu berlari dari tempat duduknya ke arah brankar yang ditiduri oleh Pak Mamat dengan sangat terburu-buru kemudian segera memeriksa denyut nadi di lengan kanan Pak Mamat. Tangan kanannya meraih benda pipih seperti pulpen dan mengarahkannya pada mata pak Mamat secara bergantian. Entah apa yang terjadi tapi pada saat itu, dokter jaga itu terlihat sangat panik dan segera memanggil para suster untuk segera mengambil Ventilator yang akan dipakaikan kepada pasien.
Usahanya untuk memberikan cakupan oksigen kepada pasien tidak berhasil, membuat dokter Andi mengambil tindakan yang lain dengan memompa dada pasien secara perlahan-lahan berharap paru-paru pasien mampu menerima asupan oksigen dengan baik. Namun, monitor detak jantung kembali menunjukkan ritme jantung sang pasien kian bertambah buruk dan bunyinya semakin berisik menandakan pasien sudah dalam kondisi siaga satu.
Dokter Andi memerintahkan kepada salah satu asistennya untuk mengambilkan defibrillator (Alat kejut jantung) segera mungkin. Ia pacu terus jantung pasien dengan alat itu, hingga berulang kali. Akan tetapi sungguh sangat disayangkan setelah semua usahanya dilakukan pasien tak terselamatkan. Tepat pada pukul 06.10 pagi tanggal 2 Desember 2017 pasien tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Seluruh kejadian pagi itu, disaksikan secara jelas oleh Lia bagaimana sang ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Ia begitu syok dan trauma apalagi saat ini dia tengah hamil besar dan mendadak kepalanya pusing. Badannya kehilangan keseimbangan dan untung saja pada saat itu ia ditemani oleh Agus sehingga dengan siaga ia bisa menopang tubuh istrinya dengan baik. Alhasil, Lia tidak jadi terjatuh.
"Lia...."
Persis suara Pak Mamat tengah memanggil Lia. Seketika saat namanya dipanggil oleh Mamah Ade, Lia terbangun dan tersadar bahwa dirinya tadi pingsan. Ia menanyakan pada Mamah Ade bagaimana dengan ayahnya.
__ADS_1
"Bapak dimana Mah?." tanya Lia yang masih belum pulih kesadarannya.
Mamah Ade bingung harus menjawab apa sementara ia takut Lia bisa kembali pingsan. Sebab, kabar buruk ini bisa mempengaruhi kandungannya. Ia juga takut kandungan Lia mengalami kontraksi mendadak dan hal itu membahayakan bagi keselamatan Lia dan juga sang buah hati. Akan tetapi, kabar ini tetap harus disampaikan sebab bagaimanapun juga kabar ini tidak dapat disembunyikan darinya. Karena Lia adalah putrinya. Sungguh saat itu menjadi dilema bagi Mamah Ade. Sebagai Kakak iparnya, ia mengetahui betul bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang disayanginya terlebih itu adalah orangtuanya.
"Lia." Panggil Mamah Ade perlahan sambil mendekat dan mengusap ubun-ubun Lia.
"Iya Mah, bagaimana dengan bapak?." tanya Lia kembali.
"Mamah akan jawab pertanyaan Lia. Tapi janji Lia harus kuat dan tabah. Sebelum itu, Lia ikuti ucapan Mamah." Tutur Mamah Ade.
Bak disambar petir, setelah mendengar kabar itu tak terasa air mata mengalir sangat deras dari kelopak matanya. Mamah Ade merangkul pundak Lia dan memeluknya. Agus pun ikut memberikan semangat pada istrinya. Ia genggam tangannya erat-erat.
"Mah, dimana bapak sekarang? Lia ingin lihat bapak." Ucap Lia sambil terisak.
__ADS_1
"Bapak masih ada di ruang ICU." Jawab Mamah Ade.
"Mah, anterin Lia kesana." Pinta Lia.
"Tapi, janji Lia kuat dan tidak boleh menangis lagi. Kasian sama bapak kalau Lia nangis terus." Pinta Mamah Ade mengingatkan.
Lia menganggukkan kepalanya.
Mamah Ade mengantar Lia ke ruangan ICU ditemani Agus. Mamah Ade memberikan penjelasan kepada Agus untuk selalu menemani istrinya.
Disamping jenazah Pak Mamat, Bu Sulastri tak henti-hentinya menangis dan terus merutuki dirinya kenapa harus bapak yang meninggal dahulu. Padahal yang sering sakit-sakitan adalah dirinya. "Kenapa bukan ibu yang duluan pak?."Tanya Bu Sulastri kepada Pak Mamat yang telah menjadi jenazah.
Lia mendekati brankar yang masih ditempati oleh ayahnya. Ia menyentuh tangan ayahnya yang sangat dingin. Suhu tubuhnya sudah menyerupai dinginnya es. Begitu dingin dan kaku. Lia mengusap kepala sang ayah dengan lembut. Dan membisikkan sesuatu ke telinga ayahnya. Meski ia sadari kalau ayahnya tidak dapat mendengar apa yang dia ucapkan tapi setidaknya ia ingin menyampaikan sesuatu kepada ayahnya.
__ADS_1
"Pak, maafkan Lia yang belum dapat membahagiakan bapak. Lia tahu mungkin ini jalan yang terbaik bagi bapak. Dan Lia tahu kalau Allah begitu sayang sama bapak. Insyaallah, Lia ikhlas pak. Insyaallah, Bapak dapat tempat yang terbaik disana bersama Allah. Lia tahu Bapak orang baik dan tempat yang terbaik juga buat Bapak disana. Sekali lagi, Lia minta maaf belum bisa berbakti kepada bapak. Sampai saat ini juga Lia masih menyusahkan bapak. Maafkan putrimu ini pak." Ungkap Lia dan memeluk jenezah Pak Mamat serta mencium kening Pak Mamat untuk terakhir kalinya.