Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Lahirnya Seorang Anak Perempuan


__ADS_3

Hidup ini penuh dengan rahasia dan kejutan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti kepada kita.


Agus dihadapkan oleh sebuah pilihan yang sangat berat untuk ia putuskan sendiri. Sebagai seorang suami tentu ia menginginkan yang terbaik untuk istri dan juga calon buah hatinya.


Terlihat bagaimana ia sangat gelisah saat ini. Berulang kali ia mondar-mandir di depan sanak keluarganya. Berulang kali pula, ia melihat secarik kertas yang ia genggam sedari tadi.


Agus menarik nafas panjang dan mengeluarkannya kembali melalui mulutnya.


"Ayo duduk disini sama Mamah." Ucap Mamah Ade.


Agus menuruti ajakannya dan duduk di samping Mamah Ade.


"Keputusan besar ini harus kamu ambil Gus. Sebab, keputusanmu mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap istri dan juga calon buah hatimu. Berdoalah semoga keputusan yang engkau ambil adalah memang yang terbaik untuk mereka." Ujarnya menasehati.


"Sekarang ayo segera tanda tangani berkas ini." Ucapnya sambil memberikan sebuah pena kepada Agus.

__ADS_1


Dag...Dig...Dug...jantungnya kian berdebar-debar menderu kian tak menentu disaat ia menandatangani surat persetujuan untuk tindakan Caesar bagi istrinya.


Dalam hati ia mengucapkan kalimat basmalah "Bismillahirrahmanirrahim." Mantap sudah ia putuskan agar tindakan Caesar segera dilakukan. Ia percaya keputusannya ini benar. Insyaallah semuanya akan baik-baik saja. Mamah Ade menggenggam tangan adiknya itu dengan erat menakala bangga atas keputusannya yang benar.


Surat persetujuan Caesar telah diserahkan pada pihak rumah sakit. Tindakan selanjutnya adalah mempersiapkan segala sesuatunya agar operasi Caesar bisa berjalan dengan lancar. Sementara Lia diharuskan untuk berpuasa terlebih dahulu sambil menunggu gilirannya. Kebetulan pada saat itu, banyak sekali pasien yang akan melahirkan. Didalam sebuah ruangan yang nampak sangat luas terdiri dari sepuluh kamar yang luas perkamarnya sekitar dua kali dua meter persegi, Lia mendengar suara tangisan bayi yang baru saja lahir disebelah kamar yang ditempatinya. Sebab, hanya dibatasi dua buah gorden. Satu sisi untuk menutupi kamar bagian depan sementara yang lainnya menutupi bagian samping.


Lia juga kembali mendengar suara tangisan bayi disertai rasa tangis seorang ibu yang baru saja melahirkan. Bahkan ada seorang ibu yang mengeluh dan berteriak kesakitan dalam proses pembukaan.


"Sakit Bu, sakit." begitulah teriakannya.


Setelah beberapa jam kemudian, tiba giliran Lia yang masuk ke ruang operasi. Sebelum memasuki ruang operasi, seorang suster memasangkan sebuah alat kateter untuk menampung air seninya serta memasang sebuah selang oksigen yang diapit langsung kedalam lubang hidung Lia. Mengingat saat pemeriksaan pertama, Lia tidak memiliki cukup oksigen untuk sang janin. Alhasil, sebuah alat pernafasan akan membantu memberikan asupan oksigen bagi sang janin.


Lia mendapatkan giliran yang pertama untuk dioperasi. Seluruh pakaiannya ditanggalkan tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Kendati demikian, Lia tak merasa malu sedikitpun mendapati dirinya tengah dalam kondisi bugil didepan keenam dokter yang berada di ruang operasi saat itu. Salah satunya diantaranya adalah dokter spesialis kandungan.


"Apakah ibu memiliki riwayat tekanan darah tinggi?." tanya salah satu dokter sambil memegangi berkas pemeriksaan memastikan bahwa pasien yang akan dioperasinya saat ini dalam kondisi yang sangat stabil.

__ADS_1


" Tidak." Jawab Lia singkat sambil meringis kesakitan rasa mulas efek obat perangsang yang diberikan sebelumnya oleh dokter yang pertama memeriksa sebagai langkah untuk mempercepat pembukaan. Namun, gagal dan rasa sakit yang dialami justru malah menambah diri Lia tak berdaya menahan rasa mulas yang berkepanjangan.


Lia melihat sekeliling ruang operasi itu. Sambil menjawab semua pertanyaan dokter yang pertama. Ia melihat ketiga dokter lainnya tengah sibuk memakai atribut lengkap dengan sarung tangannya. Sementara dokter yang lain tengah sibuk mempersiapkan alat-alat operasi dan yang terakhir sibuk melumuri sebuah cairan yang mirip seperti Betadine ke seluruh permukaan perut milik Lia.


Setelah dirasa pemeriksaan sudah sangat lengkap. Lampu Operasi dihidupkan tepat menerangi tubuh bugil milik Lia. Sang dokter kembali bertanya kepada Lia mengenai obat bius.


"Mau dibius sebagian atau dibius secara total?." Tanyanya lagi sambil memegangi sebuah suntikan.


"Total aja dokter." Jawab Lia.


"Sekarang lihat kesini." Titah dokter tersebut dan menyuntikkan sebuah obat yang sudah dipersiapkan tadi. Seketika itu juga, obat bius mulai bekerja dan Lia tak sadarkan diri.


Tepat pukul sembilan malam tanggal 16 Desember 2017 atau tanggal 27 Rabiul awal 1439 Hijriah. Lahirlah seorang putri perempuan yang sangat cantik dengan berat 3,4 gram dengan panjang bayi 41 cm.


Samar-samar ia mendengar tangisan putri kecilnya. Meski dalam kondisi yang masih setengah sadar akibat pengaruh obat biusnya masih ada. Perlahan-lahan ia mencoba membuka matanya meski masih terasa berat. Sekilas ia melihat bayi mungil tengah digendong seorang dokter dan menaruhnya diatas meja. Sang dokter membersihkan seluruh badan bayi itu dari darah yang masih menempel ditubuhnya menggunakan minyak telon dan membalutnya dengan sebuah kain untuk membedong sang bayi tak lupa dokter memakaikan sebuah popok lengkap dengan sebuah topi untuk menghangatkannya.

__ADS_1


Lia juga sempat melihat ada seorang ibu yang tengah menjalani operasi Caesar seperti dirinya. Masih dalam keadaan setengah sadar, Lia merasakan tubuhnya begitu sangat menggigil kedinginan. Pantas Lia merasakan kedinginan yang tiada tara sebab, tubuh bugilnya hanya diselimuti sebuah kain tipis berwarna hijau. Dengan mata tertutup, ia meminta kepada salah satu dokter yang menanganinya untuk meminta selimbut guna menghangatkan tubuhnya. Namun, sang dokter mengatakan untuk bersabar. Sebab, tidak akan lama lagi Lia akan dipindahkan ke ruang perawatan untuk proses pemulihan.


Tepat disaat itu juga Lia tak sadarkan diri lagi.


__ADS_2