Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Tangguh Demi Anak


__ADS_3

Ketika bayi itu dilahirkan, tangannya sudah menggenggam amanah dari Allah SWT yang telah dibebankan kepadannya, sambil menangis dalam genggaman tangannya sang bayi membawa tiga rahasia Allah SWT.


Seorang bayi menangis ketika dilahirkan kedunia karena ia terkejut melihat alam dunia yang begitu penuh dengan asap dosa yang diperbuat oleh manusia-manusia yang tidak takut akan pembalasan hari akhir di akhirat kelak. Karena merasa tidak sanggup melihat akan hal demikian sang bayi meminta-minta dikembalikan kealam ruh dimana ruh yang ditiupkan kepadanya ber-asal, ia meminta untuk di matikan dan jika doanya dikabulkan seketika bayi itu akan mati.


Namun, tidak semua bayi lahir ke dunia dalam keadaan meninggal. Sebagian besar bayi tumbuh berubah menjadi dewasa dan menjalani takdirnya masing-masing.


Maulida Restiani adalah bayi yang mungil. Berjenis kelamin perempuan dari pasangan Agus dan Lia. Memang terlahir dengan keadaan yang normal tanpa kekurangan sesuatu apapun. Namun, kelak yang dihadapi nantinya ialah kenyataan bahwa dirinya memiliki seorang ayah penyandang disabilitas. Akankah bayi ini akan tumbuh menjadi anak yang Solehah, berbudi pekerti luhur, dan berbakti kepada orang tuanya atau sebaliknya. Sebuah pertanyaan yang terlalu dini untuk bisa dijawab sekarang. Semua tergantung dari hasil akhir didikan kedua orang tuanya.


Beberapa minggu kemudian, berangsur-angsur keadaan Lia telah membaik. Sebagai seorang ibu, ia jelas harus setangguh batu karang. Semua demi putrinya. Dalam keadaan yang masih trauma akan rasa sakit bekas luka operasi tak menuntut kewajibannya sebagai seorang istri harus ditinggalkan olehnya. Sedikit demi sedikit perlahan tapi pasti, ia lakukan dengan sabar dari mulai bangun pukul tiga dini hari sampai kembali malam hari. Banyak sekali yang ia kerjakan sampai waktu istirahat pun ia gadaikan demi kebutuhan putri dan melayani suaminya.


Jika saja, ayah Lia masih hidup mungkin saja saat ini dia tidak akan terlalu sesibuk ini. Hingga tidak ada waktu istirahat. Sebelum Lia melahirkan sempat bapak Ridwan mengatakan kepada Lia bahwa ia nantinya akan mencarikan pembantu untuk menghandle pekerjaan rumah khususnya untuk mencuci pakaian bayi dan mengurus bayi selama ia masih dalam pemulihan. Namun, janji yang demikian tersebut tidak pernah terlaksana sampai hari dimana ia sudah nifas selama tiga minggu lamanya.

__ADS_1


Seminggu pasca operasi, Lia menguatkan dirinya untuk dapat melakukan semuanya dengan sendiri. Meski harus menahan sakit. Mencuci baju baginya jadi bagian yang paling berat ia lakukan. Sebab membutuhkan tenaga yang cukup besar. Melihat istrinya yang baru saja keluar dari rumah sakit membuat hati Agus merasa iba dan berinisiatif untuk membantu meringankan pekerjaannya. Namun, baru saja beberapa hari ia membantu pekerjaan istrinya. Agus jatuh sakit dan hasil diagnosa dokter ia menderita penyakit typus. Hari itu juga, Agus dilarikan ke klinik terdekat dan menjalani perawatan selama beberapa hari kedepan.


Pak Ridwan pun berkata kepada Lia, kalau semua ini adalah karena Lia. Sehingga Agus kelelahan dan akhirnya terkena typus.


"Makanya sudah bapak bilang tunggu setahun atau dua tahun dulu barulah kalian punya anak. Kalau seperti ini namanya menyusahkan orang tua." Tutur Pak Ridwan.


Lia yang mendengar tanggapan dari bapak mertuanya hanya terdiam. Pak Ridwan seperti menyalahkan dan menyudutkan Lia saat itu.


Tapi sekali lagi, Lia mengusap dadanya dan mencoba menenangkan dirinya sendiri. Berusaha untuk tetap kuat.


Selain dianggap menyusahkan orang tua karena telah membuat anaknya sakit. Kehadiran Maulida juga dianggap pak Ridwan membebani hidupnya. Sebab, tanggungannya menjadi bertambah satu jiwa. Terlebih saat ini, kebutuhan bayi yang sangat besar. Dari mulai pakaian, popok, susu, dan lain sebagainya harus dibeli dan semua itu harus Pak Ridwan penuhi.

__ADS_1


Lia jadi sedih dengan dirinya sendiri. Ia juga tak mengelak jikalau ia memang menyusahkan bapak mertuanya. Mengingat kebutuhan susu formula yang mesti dibelinya setiap dua hari sekali.


Hal ini dikarenakan, asupan ASI milik Lia tidak maksimal. Sudah berbagai macam cara agar asupan ASInya bisa maksimal seperti memakan makanan bergizi seperti memperbanyak memakan sayuran, memperbanyak minum air putih, dan meminum suplemen pelancar ASI yang diberikan oleh dokter spesialis kandungan saat ia mengontrol ulang luka pasca operasi. Sudah lebih dari dua minggu ia meminumnya. Tapi, belum ada perubahan sedikit pun. Asupan ASI masih kurang memadai alhasil masih dibantu dengan susu formula.


Ia pun berdoa "Ya Allah Ya Rohman Ya Rohim engkau pemilik segalanya. Hanya Engkau tempat aku bermunajat. Jika seluruh bayi yang engkau lahirkan ke muka bumi ini dengan bekalnya masing-masing. Hamba mohon semoga bekal yang engkau titipkan untuk anakku cukup untuknya. Aaamiin Ya Robbal Alamin."


Percaya akan karena rezeki Allah. Sehingga Lia tidak mudah menyerah. Termasuk untuk mencari pundi-pundi rupiah guna membeli susu formula bagi putrinya. Ia bertekad untuk tidak terlalu mengandalkan bapak mertuanya. Ia akan buktikan kepada semua keluarga Agus khususnya Pak Ridwan untuk mencabut kata-katanya itu.


"Alhamdulillah." Ucap Lia bersyukur setelah mendapatkan order permakan dari pelanggan jahitnya.


Selembar uang bertuliskan dua puluh ribu rupiah sebagai awal pembuka rezekinya pagi itu. Ketika ia sudah merasa bingung harus ke siapakah ia meminta uang untuk membeli susu putrinya sementara Bapak mertuanya tengah sibuk mengurus administrasi anaknya yang sedang di rawat.

__ADS_1


"De, bantu mamah untuk bisa mencari uang buat beli kebutuhan Dede yah." Ucap Lia sambil mengusap ubun-ubun Maulida yang berada di pangkuannya.


__ADS_2