Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Hari Pernikahan part 1


__ADS_3

..."Allahu Akbar Allahu Akbar." Gema adzan subuh berkumandang diseluruh penjuru desa. Sayup sayup Lia mendengar dari luar kamarnya tampak begitu ramai sekali. Suara ribut yang sedari tadi ia dengar mulai jelas tatkala Lia hendak ke kamar kecil untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan sholat subuh. Tak disangka di dapur sudah banyak orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing masing. Ada yang sedang menggoreng, mengupas, mengulek, memotong, dan lain sebagainya....


Berbagai macam jenis makanan sedang dibuat di dapur dengan porsi yang sangat banyak. Itu semua bagian dari pelengkap acara yang akan diselenggarakan pagi ini sekitar pukul 10.00 WIB. Acara tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah acara akad nikah Lia dan Agus. Ibu Sulastri yang sudah menyerahkan seluruh tugas masak memasak kepada ibu Enjum mewanti wanti agar hidangannya tersaji sebelum para tamu undangan datang ke kediamannya. Ibu Enjum dengan para ibu-ibu lainnya menjawab secara serentak bahwasanya mereka menyanggupi keinginan Ibu Sulastri.


Lia yang sedari tadi mematung didepan pintu dapur jadi lupa kalau dirinya hendak mengambil air wudhu. Tiba-tiba sepasang tangan menepuk pundak Lia sontak saja Lia terkejut dan membalikkan badannya untuk melihat siapa yang telah mengejutkannya.


"Eh ternyata bapak kirain siapa. Lia sampai kaget loh tadi." ujar Lia sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Lagian Lia juga sedang apa malah berdiri didepan pintu. Kan jadi susah bapak untuk lewat." terang Pak Mamat pada putrinya itu.


"Eh iya pak, maaf kalau begitu pak. Lia tadi mau ngambil wudhu pas mau ke kamar mandi ternyata di dapur lagi banyak orang makanya Lia jadi memerhatikan mereka jadi lupa deh kalau Lia mau berwudhu." Jelas Lia.

__ADS_1


"Oh ya sudah kalau begitu. Lia wudhu duluan nanti bapak selanjutnya. Jangan lupa kita sholat berjamaah dulu sekalian ajak juga ibumu." perintah Pak Mamat.


Lia mengangguk dan berlalu ke toilet.


Pak Mamat, Ibu Sulastri, dan Lia kini berada dalam satu ruangan dan melaksanakan sholat subuh berjamaah.


"Lia, nanti beresin kamar Lia yah. Bentar lagi ada Jihan yang datang kesini untuk make-upin Lia untuk acara akad hari ini." ucap Bu Sulastri seusai sholat berjamaah.


Di kamar, Lia sibuk merapikan tempat tidurnya. Tiba-tiba gawainya berbunyi tanda pesan masuk. Disana tertulis satu pesan baru saja masuk. Lia berhenti sejenak dan meraih gawainya yang berada di atas meja rias. Iapun bergegas membuka pesan tersebut. "Jika hubungan kita harus berakhir disini demi berbakti kepada orangtua. aku akan terima ini dengan lapang dada meskipun ini sangat menyakitkan untukku. Sebab, rasa sayangku mengalahkan rasa sayangmu pada orangtuamu. Insyaallah aku terima. Lia kan ku do'akan dirimu semoga engkau bahagia bersamanya dan semoga engkau menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. tertanda Dika kasihmu."


Deg....Hati Lia bagai terhunus pedang yang sangat tajam. Tak terasa air mata telah mengalir membasahi pipinya bersamaan setelah ia membaca pesan Dika untuknya. "Kenapa Ya Allah aku harus dipisahkan dengan Dika padahal Dika begitu baik dan Soleh." ucapnya bertanya-tanya.

__ADS_1


Clek.....suara pintu kamar dibuka. Ibu Sulastri beserta Jihan masuk ke kamar Lia. Lia yang terkejut akan kedatangan ibu dan Jihan bergegas Lia menghapus air matanya.


Ibu Sulastri memperkenalkan putrinya pada Jihan. Untuk mempersingkat waktu Lia pun disuruh untuk duduk dan selanjutnya Jihan yang mengatur make up untuk Lia.


Satu Jam telah berlalu, Lia sudah selesai didandani lengkap dengan busana adat Sunda. Ia begitu tampak cantik dan anggun tampilannya mengalahkan model catwalk ternama.


Waktu yang ditunggu telah tiba. Tamu undangan telah hadir mamadati kediaman pak Mamat yang telah di hias dengan bertemakan biru langit warna kesukaan Lia. Pak Mamat dan Ibu Sulastri juga sudah stand bye untuk menyambangi calon besan. Sesuai aba-aba MC , ibu Sulastri mendekati Agus dan mengalungkan bunga melati yang telah dirangkai sebagai ungkapan selamat datang kepadanya sebagai calon suami Lia.


Setelah itu, semua tamu undangan dipersilakan duduk dan acara inti akan segera di mulai.


Agus duduk di bangku yang telah disediakan khusus untuk mengucapkan ijab qobul nantinya. Karena Agus penyandang disabilitas jadi untuk melangsungkan ijab qobul iya didampingi oleh pak Ridwan. Pak penghulu juga memakluminya dan mempersilahkan kepada pak Ridwan untuk memberikan kode agar ijab qobul berlangsung dengan lancar.

__ADS_1


"Ketika Bapak Mamat sudah berkata tunai hendaklah nak Agus menganggukkan kepalanya sebagai bukti bahwa ijab qobul diterima." terang pak penghulu.


__ADS_2