Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Malam Terburuk


__ADS_3

Satu persatu kancing piyama yang digunakan oleh Lia dibuka secara paksa oleh Pak Ujang. Bagian atas tubuh Lia kini sudah separuh terbuka. Bagian dada yang menjadi salah satu aurat terpenting yang harus dijaga oleh setiap wanita selain bagian intim terlihat sangat jelas saat piyama milik Lia sudah terbuka sepenuhnya.


Bola mata Pak Ujang memutar seolah terbelalak kaget melihat pemandangan yang sangat aduhai itu, terlebih saat ini Lia sudah berada didalam kendalinya. Pak Ujang sangat menikmati sekali pemandangan indah itu, sehingga ia pun berkali-kali menelan salivanya. Betapa tidak, kemolekan tubuh Lia mampu menggoyahkan iman seseorang serta mampu membangkitkan gairah bercinta bagi seorang pria. Begitu menantang, tak heran jikalau Pak Ujang juga sangat tergoda dan ingin mencicipi kemolekan tubuh Lia.


Dengan mulut yang tertutup kain, Lia berusaha memanggil pertolongan meski usahanya sia-sia. Sebab, suaranya tidak mampu untuk memanggil sebuah pertolongan. Lia juga berkali-kali memohon kepada pak Ujang untuk melepaskannya meski ucapannya tidak jelas namun, dapat diartikan demikian.


Selain mulut yang diikat kain, kedua tangan Lia juga diikat oleh kain yang menyerupai kerudung segiempat. Pak Ujang dengan leluasa menggerakkan tangannya kesana kemari. Khususnya ia memainkan bagian dada milik Lia sehingga menimbulkan sensasi yang sangat luar biasa nikmatnya. Pak Ujang bahkan sampai ketagihan memainkannya. Ia remas dan ia hisap berkali-kali sehingga memberikan sensasi yang berbeda bagi Lia. Ia menggelinjang hebat dan merasa kegelian teramat sangat ketika Pak Ujang memberikan sentuhan-sentuhan lembut disana. Karena Lia saat ini kondisinya sedang dalam proses menyusui, membuat dada miliknya lebih berisi, bulat, dan kencang.


Melihat keadaan Lia yang sudah semakin mabuk dalam permainannya, ia berinisiatif melanjutkan aksi selanjutnya. Yaitu bagian inti dari semua permainan itu. Sebelah tangan kirinya mulai meraba-raba bagian pinggul dan paha. Kemudian sampailah pada bagian intim milik Lia. Jari-jemarinya mulai menelusup masuk merogoh bagian dalam.

__ADS_1


"Bagaimana enak bukan?" Celetuk Pak Ujang bertanya.


"Cukup pak cukup. Jangan teruskan lagi. Atau nanti saya akan berteriak dan saya laporkan bapak ke polisi atas tindakan pemerkosaan." Ucap Lia.


"Ya enggak bisa begitu, ini belum cukup. Kita baru saja melakukan pemanasan. Lagian kalaupun kamu mau melaporkannya ke polisi silahkan saja. Bapak enggak takut toh kamu sendiri juga menikmatinya. Jadi, kita melakukannya atas dasar suka sama suka."


Memang sedikitnya, Lia merasakan nikmat dikala ia mendapatkan sentuhan dari seorang pria cabul itu. Namun, hal ini tidak bisa dibenarkan terlebih dirinya juga sudah memiliki seorang suami begitupun juga sebaliknya Pak Ujang juga sudah memiliki seorang istri.


"Jangan menangis, ini belum apa-apa. Kamu terharu ya saking keenakkannya."

__ADS_1


" Bapak benar-benar sakit."


"Bapak mestinya diperiksa dan masuk ke rumah sakit jiwa."


"Eits... Bapak sehat. Tuh kamu lihat kan bapak bahkan masih mampu membuat kamu merasa senang."


"Apalagi jika kita melakukan adegan selanjutnya." Ucap pak Ujang terkekeh merasa dirinya adalah pemenang dalam permainan tersebut.


Dalam hati Lia berkata " Ya Allah kuatkan diriku untuk bisa melawan lelaki biadab dan bejad ini. Hamba tak ingin terjadi sesuatu pada diri hamba. Hamba tak Sudi jikalau tubuhku ia jamah sesuka hatinya."

__ADS_1


Saat hendak melancarkan aksi selanjutnya, tiba-tiba Maulida terbangun dari tidurnya dan menangis. Tangisan Maulida menggelegar kesetiap sudut ruangan bahkan hingga keluar rumah. Alhasil, sontak membuat Pak Ujang panik.


__ADS_2