Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Lamaran


__ADS_3

Keesokan harinya pak Ridwan beserta keluarganya kembali mendatangi kediaman pak Mamat. Jika kemarin Pak Ridwan hanya ditemani beberapa kerabatnya kali ini berbeda hampir semua keluarga serta kerabat pak Ridwan datang. Tentu saja karena ini adalah hari spesial bagi Pak Ridwan. Khususnya bagi Agus juga.


Pak Mamat yang sedari tadi juga sudah siap menyambut kedatangan keluarga besar Pak Ridwan. Begitupun istrinya sudah mempersiapkan berbagai hidangan yang begitu banyak dan lezat untuk menjamu Pak Ridwan sekeluarga. Sementara Lia, hatinya yang belum siap untuk memberikan seluruh hidupnya bagi orang yang baru saja kenal kemarin hanya tersenyum simpul sambil menyalami satu persatu keluarga pak Ridwan. Pikiran nya seolah berkeliaran entah kemana sehingga ia tidak menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Agus calon suaminya itu.


" Nak Lia ayo terima ini sebagai tanda kalau lamaran ini diterima." perintah Pak Ridwan pada Lia yang pikirannya sedang berpencar entah kemana.

__ADS_1


" Ehemmm...Ehemmm...Lia ayo terima itu." celetuk Pak Mamat mengembalikan pikiran Lia yang sedang berpetualang itu kembali ke tempat asalnya.


Tanpa mengatakan penolakan Lia pun mengambilnya sebuah kotak yang sedari tadi sudah disodorkan kepadanya oleh Agus. Dia tahu siap atau tidak siap ia tetap harus menerima perjodohan ini. Sebab itulah keinginan bapaknya.


"Alhamdulillah." ucap seluruh keluarga besar Pak Ridwan diikuti juga oleh Pak Mamat dan istrinya. Mereka begitu bahagia melihatnya, mereka tidak tau kalau dirinya tidaklah bahagia bagaimanapun dia tetap tidak memperlihatkan kesedihan nya itu sebab terlalu banyak wajah bahagia di tempat itu. Lia tentunya tidak mau merusak kebahagian semua orang yang berada disana.

__ADS_1


Begitu ia mengerti. Lia hanya memberikan jawaban seadanya tentunya dengan agak kaku ia juga mulai menggerakkan tangannya kesana kemari agar dimengerti oleh Agus. Tidak butuh waktu lama, Lia mengerti bahasa isyarat yg diperagakan oleh Agus begitupun sebaliknya ia juga dapat menjawabnya. sehingga dengan mudahnya Agus dapat memahaminya.


Mereka saling bertukar nomor handphone dan mereka juga saling ngobrol tentang kehidupan masing masing. Sementara Pak Ridwan dan Pak Mamat sedang merundingkan tanggal pernikahan yang juga ternyata akan dilakukan dua hari lagi setelah acara lamaran usai. Jangka Waktu yang begitu cepat membuat seluruh persiapan pernikahan harus segera dilakukan.


Malam harinya, Lia diajak keluarga Pak Ridwan untuk belanja berbagai kebutuhan yang diperlukan untuknya setelah menikah. Dari mulai pakaian, kosmetik, alat mandi, serta alat ibadah sudah dipersiapkan.

__ADS_1


"Mengapa semuanya begitu sangat mendadak. Akankah aku siap Ya Allah untuk menjadi seorang istri bagi Agus pria penyandang disabilitas akankah aku bisa menerima kekurangan fisiknya Ya Allah." tanya nya kepada Sang Khalik.


__ADS_2