Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Dika Melamar Winda


__ADS_3

"Menikah." Kata-kata itu seolah terngiang-ngiang memenuhi kepala Winda. Tentu saja, ia terkejut karena ajakan Dika pagi itu. Membayangkannya saja, ia merasa hal itu tidak akan terjadi. Sebab, diantaranya dirinya dengan Dika tidak ada hubungan spesial selain hanya seorang sahabat.


Winda sedikit bingung apa yang akan ia jawab nantinya dikala Dika menanyai perihal yang sama. Sebab, pagi itu baginya terlalu tiba-tiba dan tak sempat memberikan jawaban apapun kepada Dika.


Bak disambar petir, seketika ia mengingat kata-kata Dika. Sekelebat bayangan ia dan Dika tengah melangsungkan pernikahan dengan sangat meriah. Ia dan Dika terlihat sedikit canggung ketika keduanya tengah mengambil potret mesra.


Bug...hentakan tangan seorang gadis muda membuyarkan lamunannya. Saat itu juga, bayangan tentang pernikahannya sirna semuanya.


"Lagi apa, Kak?"tanya Teti gadis remaja berambut poni bak Dora the Explorer.


"Engga lagi apa-apa. Kamu ini bikin kaget kakakmu saja." Jawab Winda sambil mengelus dadanya kaget karena mendapat hentakan yang mengejutkan dari arah belakang.


Sang adik sepertinya menyadari sesuatu bahwasanya seperti ada yang tengah disembunyikan oleh kakaknya. Maka dari itu, sang adik yang lihai dalam membaca pikiran kakaknya terus menerus memberondong kakaknya dengan berbagai pertanyaan. Lelah, harus sembunyi-sembunyi sang kakak akhirnya memberitahu kalau dirinya mendapatkan ajakan untuk menikah dari seorang pria.


"Bagus Kak, siapa orangnya? hmmm Kalau bisa ya Kak cepat diterima aja deh Kak. Engga sabar deh Lihat Kakak pakai busana pengantin pasti cantik." terang Teti penuh semangat.

__ADS_1


"Engga bisa secepat itu, Dek. Masalahnya, pria ini teman kakak. Dan engga punya hubungan spesial antara kakak sama dia." Jelas Winda.


"Hmmm... Begitu ya. Rumit juga sih Kak. Tapi, sahabat bisa jadi cinta Kak. Selama ini banyak sekali film drama cinta yang dimulai dari persahabatan. Dan itu engga jadi masalah." Terang Teti menggurui seolah bocak remaja itu tahu akan persoalan percintaan.


"Ya, itu dalam filmlah Dek. Yang ini kan beda." timpal Winda.


Tok...Tok... Tok... Suara pintu diketuk. Seorang pria tengah berdiri di balik pintu rumah Winda.


Menyadari ada yang datang ke kediamannya. Pembicaraan antara dia dan sang adik segera dihentikan. Winda dengan langkah cepat menghampiri suara itu dan lekas membukakan pintunya.


"Assalamualaikum." Sapa pemuda itu.


Betapa terkejutnya, yang datang ternyata Dika. Seketika tubuhnya gemetar karena gugup. Apalagi kedatangan Dika tidak seorang diri melainkan bersama dengan kedua orangtuanya. Keringat dingin tiba-tiba muncul membasahi kening gadis bertubuh sintal itu.


Sang adik yang penasaran siapa yang datang ikut mencari tahu.

__ADS_1


"Tampannya." Gumam Teti sedikit berbisik.


"Oh apa pria ini yang diceritakan tadi oleh Kakak." Tanyanya dalam hati.


Winda sedikit kikuk akan kedatangan Dika dan keluarganya. Namun, ia tetap bersikap sopan dan santun serta mempersilahkan mereka untuk masuk. Sementara sang adik, memberitahukan kepada sang ayah jikalau ada tamu yang mengunjungi kediamannya. Setelah mempersilahkan masuk, Winda pamit untuk ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.


Pak Robi yang sedang sibuk dengan tasbihnya melafadzkan zikirnya seketika berhenti sejenak mendengar kabar dari putri bungsunya. Setelah itu, Pak Robi bergegas berdiri dari tempat duduknya dan merapikan sejadah yang ia gelar tadi sebagai alas tempat ia bertasbih. Merapikan sedikit kancing baju kokonya yang terlepas, peci serta sarung bercorak kotak-kotak kemudian keluar menemui mereka. Sang putri membuntuti ayahnya dari belakang.


"Assalamualaikum." Sapa Pak Robi.


"Wa'alaikum salam. Pak." ucap mereka serentak. Satu persatu menyalami Pak Robi.


Setelah Pak Robi duduk diantara mereka. Winda datang dengan sebuah nampan berisikan tiga gelas air teh manis hangat untuk disajikan kepada mereka.


"Ada maksud apa kedatangan anda-anda semua kemari?" tanya Pak Robi.

__ADS_1


"Begini pak, maksud dari kedatangan kami kesini tidak lain untuk melamar putri Bapak yakni Winda untuk anak kami yaitu Dika." tutur Pak Deden menjelaskan.


Langkah Winda sesaat terhenti ketika ia hendak menyodorkan satu persatu gelas berisikan teh manis kepada mereka.


__ADS_2