Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Lia Mengandung


__ADS_3

Orang bijak mengatakan 'usaha tanpa doa adalah sombong dan doa tanpa usaha adalah bohong'. Ya, ungkapan tersebut banyak kita dengar di sekitar kita. Keduanya saling melengkapi agar terpenuhinya harapan diri. Maka dari itu sebagai umat yang beragama, berdoa harus disertai dengan keyakinan.


Bertempat di kediaman Pak Mamat. Lia mengadakan acara makan-makan untuk merayakannya hari ulangtahunnya yang ke-21. Untuk memeriahkan suasana ia juga turut mengundang rekan-rekan kursusnya termasuk Winda. Acaranya berlangsung sangat meriah dan banyak diantara rekan-rekannya memberikan selamat kepada Lia. Hari itu adalah hari bahagia bagi Lia dimana hari itu bertabur hadiah.


Malam harinya, dilanjutkan dengan acara keluarga. Lia memilih untuk ngeliwet bersama dengan bapak dan ibunya. Saat hendak menyantap makanan kesukaan yaitu ayam goreng. Tiba-tiba perutnya terasa mual.


Huiks...huiks...huiks... Lagi-lagi rasa mual itu datang kembali. Parahnya, ia sampai tak dapat melanjutkan acara makan malam bersama kedua orangtuanya.


Bu Sulastri yang mengetahui keadaan anaknya yang sedang tidak enak badan itu berinisiatif membelikan obat maag ke warung terdekat. Sementara Pak Mamat memberikan air hangat serta menyodorkan minyak kayu putih kepada Lia untuk digosokkan ke perut serta dadanya.


Diperjalanan menuju pulang ke rumah, Bu Sulastri bertemu dengan Agus. Seketika langkah Bu Sulastri melambat dan berhenti tepat di depan Agus. Meski gugatan perceraian sudah dilayangkan oleh pihak keluarga Lia. Namun, Agus masih ingin bertemu dengan Lia. Ia meminta izin kepada Bu Sulastri untuk dapat menemuinya. Tentu saja Agus masih berhak untuk bertemu dengan istrinya. Sebab, perceraian itu belum diproses oleh pihak pengadilan. Otomatis, status Agus masihlah seorang suami untuk Lia begitupun sebaliknya.


Sekembalinya dari warung, Bu Sulastri berjalan menuju pintu utama rumahnya disusul dengan langkah Agus yang mengikutinya dari belakang. Sebelum masuk ke rumah, Bu Sulastri tak lupa memberi salam.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." jawab Pak Mamat dan membukakan pintu.


"Bu, Lia kondisinya makin parah. Rasa mualnya belum berhenti. Dia muntah-muntah terus." Jelas Pak Mamat.


"Terus, sekarang Lia dimana Pak? Ibu mau ngasih obat dulu siapa tahu obat ini manjur pak. Kebetulan obat yang dari klinik waktu itu sudah habis." Ucap Bu Sulastri menerangkan.


"Pak, ibu tadi ketemu Agus." Celetuk Bu Sulastri perlahan-lahan.


"Terus." timpal Pak Mamat dengan singkat.


"Terus ibu mengizinkan."


"Iya Pak."


"Terus Agusnya sekarang dimana?" tanya Pak Mamat.

__ADS_1


Bu Sulastri menghampiri Agus dan membawanya ke hadapan Pak Mamat.


"Pak, kalau boleh saya minta izin untuk bertemu Lia." Seru Agus dengan mode isyarat.


"Tidak Boleh." Ucap Pak Mamat dengan menyilangkan tangannya.


"Pak, kasihan nak Agus. Izinkanlah dia bertemu Lia. Status dia masih menantu kita pak." Tutur Bu Sulastri memberi saran.


"Tidak ya Tidak." Ucap Pak Mamat bersikeras. Sementara mereka sibuk beradu argumentasi. Terdengar suara dari arah kamar Lia. Seseorang berusaha memanggil untuk dimintai tolong.


Mendengar hal itu, mereka berhenti berargumentasi dan bergegas pergi menuju arah suara tersebut. Tak ketinggalan Agus membuntuti keduanya dari arah belakang.


"Astagfirullah, Lia." Ucap Keduanya bersamaan. Mereka semua panik melihat Lia sudah tergeletak diatas lantai tak sadarkan diri.


Sebagai seorang suami sekaligus menantu, ia turut membantu membawa Lia untuk memeriksakan diri ke klinik terdekat. Sesampainya di Klinik, sang dokter memeriksa Lia secara teliti dan seksama. Ia mencari tahu alasan penyebab dari rasa mual yang diderita Lia saat ini. Kemudian, sang dokter memerintahkan kepada seorang suster untuk mengambil darah untuk di Uji ke laboratorium.

__ADS_1


Satu jam berlalu, Hasil uji laboratorium telah keluar. Mereka semua dipanggil ke dalam sebuah ruangan khusus dokter. Disana, mereka dijelaskan oleh sang dokter bahwasanya rasa mual yang diderita Lia merupakan hal yang wajar bagi wanita yang sedang mengandung. Semua spontan terkejut mendengar hal itu. Seusai memberikan penjelasan, sang dokter memberikan selamat kepada semuanya atas kehamilan putri mereka.


__ADS_2