
"Terimakasih Lia, kau telah membagi kenangan indah bersamaku meskipun kamu bukanlah milikku lagi tapi rasa cintaku ini masih milikmu seorang. Meskipun saat ini aku telah menjadi seorang suami untuk Winda namun rasa cinta ini hanyalah untukmu. Mari menjalin hubungan kembali meski itu bukanlah ikatan cinta tapi persahabatan maukah kau menerimanya?" tanya Dika setengah berbisik disela-sela ia tengah memeluk Lia.
Lia mengerutkan keningnya. Ia tak mengerti apa maksud dari perkataan Dika yang menyatakan kalau dirinya masih memiliki perasaan padanya padahal saat ini ia telah mempersunting seorang gadis yang tidak lain adalah sahabatnya. Pernyataan serta pertanyaan yang Dika lontarkan menjadi sebuah dilema baginya antara tidak atau menerimanya. Pada akhirnya Lia bergelut dengan pemikirannya sendiri di tengah keramaian pesta resepsi sahabatnya itu.
Sementara Lia sibuk dengan pikirannya, sepasang mata tengah menatap tajam kearah Lia dan Dika yang tengah berpelukan. Ya tentu saja, siapa yang tidak cemburu melihat pasangannya dipeluk pria lain bahkan didepan mata suaminya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan istriku?" gumam Agus dalam hati tangannya mengepal membentuk sebuah tinju. Batinnya menggerutu bagaimana bisa ia dengan leluasa memeluk pria itu didepannya.
"Apa ia tidak bisa menghargai perasaanku." Batinnya kesal.
Dengan inisiatif sendiri, Agus melepaskan pelukan pria itu dari istrinya. Sontak saja membuat Keduanya terkejut. Winda pun ikut terkejut. Lantaran ia baru melihat Agus bisa bereaksi seberani itu.
"Ayo kita pulang." Ajak Agus dengan mode isyarat.
__ADS_1
"Kenapa, kita baru saja sampai." Tanya Lia tak mengerti.
Agus bersikeras mengajak Lia pulang meski tanpa penjelasan apapun. Akhirnya, Lia menurut dan ikut pulang. Sementara Dika, mengikuti langkah Lia dan Agus.
"Tunggu Lia." Seru Dika berlari ke arah Lia.
Langkah kaki Lia tercekat dengan seruan yang memanggil namanya itu. Lia berhenti dan Agus pun menyadari kalau langkah kaki Lia melambat dan saat menoleh ke belakang benar saja kalau pria yang memeluk istrinya tadi mengikutinya.
"Mau apa lagi pria ini?" tanya Agus dalam hati.
"Aku tidak pantas menerima ini. Lebih baik kamu berikan pada Winda." Tolak Lia.
"Tidak Lia. Ini sengaja aku belikan khusus untuk kamu. Dan yang harus kamu tahu ini sengaja ku siapkan hadiah ulang tahun untukmu yang tidak sempat aku berikan. Terimalah kumohon jangan menolak." Pinta Dika memelas.
__ADS_1
Merasa tak enak hati. Akhirnya Lia menerimanya.
"Terimakasih banyak Lia." Ungkap Dika.
Merasa lega karena pemberiannya diterima dengan baik oleh Lia. Ia pun kembali ke acara resepsinya dan meninggalkan Lia bersama suaminya.
Lia memandang liontin itu sekejap dan terkesiap melihat liontin itu telah berpindah tangan darinya. Agus merebut benda itu dan bertanya pada Lia. Nampak sekali kalau raut wajahnya sangat marah dan kesal. Akan tetapi, Lia menanggapinya dengan sabar.
"Suamiku, dengarkan ini. Aku dengan Dia dulu berteman baik. Dia memberikan ini sebagai hadiah ulang tahunku. Jadi, jangan marah dan jangan kesal. Aku tahu saat ini kamu sedang cemburu tapi kecemburuanmu itu salah tempat. Dia suami sahabatku dan aku istrimu. Sungguh, antara aku dan dia tidak ada apa-apa selain hanya sahabat baik." Jelasnya.
Nafas yang bergemuruh karena kesal menahan amarah mulai meredam sedikit demi sedikit tatkala setelah mendengar penjelasan dari istrinya tersebut. Agus pun memberikan kembali benda itu kepada Lia. Ia pun meminta maaf kepada istrinya jikalau ia sudah cemburu buta. Setelah saling memaafkan kemudian mereka melanjutkan kembali perjalanan untuk pulang ke rumah.
Dika.
__ADS_1
Mungkin jalan kita berbeda saat ini.
Tapi, ku harap kamu bahagia bersama Winda dan menemukan jalan cintamu bersamanya. Jika hubungan kita akan berlanjut dengan persahabatan maka mari bersahabatlah tapi ingat persahabatan ini jangan ada maksud tersembunyi yang merusak arti ikatan sebuah persahabatan. Tulis Lia dibalik layar ponselnya dan mengirimkannya kepada Dika.