
"Sebagian orang bilang, sangat menyakitkan menunggu seseorang. Sebagian lagi bilang, menyakitkan itu ketika harus melupakan. Tapi yang paling sakit adalah ketika kau tidak tahu, apakah harus menunggu atau melupakan." Kutipan kata-kata bijak itu membuat alasan bagi Dika untuk menunggu meski penantiannya biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Sudah lama sekali rasanya Dika tak berjumpa dengan sosok wanita cantik dan manis itu. Wanita yang pernah singgah di hati dan namanya masih melekat didalam pikirannya masih sama seperti saat pertama ia bertemu. Tetap anggun dan mempesona meskipun keadaan saat ini kurang sehat. Netranya yang sedikit merah disertai kantung mata yang menghitam memperjelas bahwasanya ia kurang tidur dan terlihat lelah seperti memiliki banyak beban. Entah hal apa yang membuatnya hingga jadi seperti ini. Pikiran Dika seolah menerawang jauh di alam bawah sadar wanita itu. Sebab, yang ia ketahui Wanita itu sangat kuat metabolismenya. Jarang sekali ia terserang penyakit terkecuali jikalau ia sedang dalam masalah besar maka rentan untuknya terserang penyakit. Tapi selama yang ia tahu dia wanita yang kuat dan ceria.
"Dika, sebelumnya terimakasih banyak ya sudah mau membantuku. Sehingga aku tidak terjatuh." Ucapnya mengawali pembicaraan.
Dika tak mengucapkan sepatah katapun. Yang jelas saat ini Dika tidak bisa berpaling dari pandangannya. Secara refleks tangannya meraih wajah wanita itu dan mendekatkannya ke wajahnya. Kedua pasang netra itu saling bertemu. Mereka pun saling menatap satu sama lain. Hanya sepersekian inci jarak diantara wajah mereka.
Cup... Sebuah kecupan mendarat dengan mulus di bibir Lia.
Lia terbelalak kaget. Sebuah tamparan keras juga melayang tepat di pipi pemuda berusia 25 tahun itu.
"APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN HAH?." Tanya Lia dengan nada marah.
"M...Maafkan aku Lia aku tidak bermaksud. Anu... Aku engga sengaja Lia."
"Apapun alasannya aku tidak mau mendengar apapun darimu. Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini." Titah Lia penuh emosi.
"T...Tapi."
__ADS_1
"CEPAT PERGI." Teriak Lia.
Dika tak diberikan kesempatan untuk menjelaskan alasan ia melakukan hal itu. Lia bersikukuh menyuruh pemuda itu pergi. Namun, disaat Dika baru saja akan melangkah pergi. Tiba-tiba tubuh Lia seperti mendapat guncangan. Kepalanya kembali pening, penglihatannya juga menjadi kabur seketika ia ambruk. Untung saja Dika cepat meraih tubuh Lia yang hampir terjatuh.
Dengan gagahnya Dika mengangkat tubuhnya . Ia memberitahukan kepada kedua orangtuanya bahwa putrinya tadi pingsan.
"Nak, tolong bawa putri bapak ke kamarnya." Pinta Pak Mamat kepada Dika.
Melihat putrinya kembali pingsan sang bunda kembali khawatir. Bu Sulastri pun bergegas mengikuti langkah Dika menuju kamar Lia.
"Nak Dika, terimakasih banyak untuk kedua kalinya kamu sudah membantu anak ibu. Maaf telah merepotkanmu. Jauh-jauh kemari hanya untuk mengantar pulang kami sekeluarga." Jelas Bu Sulastri penuh syukur.
-"-
"Aku merasa malu atas apa yang telah kulakukan. Aku tidak memiliki alasan yang cukup rasional. Aku telah melakukan kesalahan dan aku bertanggung jawab penuh atas tindakan itu. Aku tahu kata maaf saja tidak akan cukup untuk menebus kesalahanku kepadamu. Tapi aku akan berubah. Lia maafkan aku..."
Sebuah pesan singkat dari Dika untuk Lia.
"Ah, untuk apa aku membaca pesan ini. Dia sudah melakukan kesalahan terbesar dengan mencium aku seenaknya." racau Lia.
__ADS_1
"Ada apa Lia. Kok ngomong sendirian." Ucap Bu Sulastri yang tiba-tiba masuk tanpa pamit.
"Engga Bu. Cuman lagi memberi semangat biar pulih secepatnya."
"Oh iya Lia. Dika orangnya seperti apa yah. Yang ibu lihat pemuda itu sangat baik yah. Dia sopan dan tutur katanya santun pula. Bahkan kemarin kamu digendong sama dia. Terus tadi pagi dia ngirim bubur sama buah yang kamu makan barusan. Perhatian juga dia sama kamu. Cocok kayaknya yah kamu sama dia." Goda Bu Sulastri.
Lia hanya terkekeh mendengar perkataan ibunya tanpa menjawab apapun. Ia terlanjur benci sama Dika. Sekelebat kejadian kemarin menghantui Lia.
"Udah dong Bu, jangan ceritakan lagi tentang dia. Aku benci sama dia Bu." ungkap Lia menggerutu.
"Dia kan baik Lia."
"Udah Bu. Lia mohon sama ibu jangan bahas dia lagi."
"Kok kamu gitu sih sayang."
"Udah Bu cukup." terang Lia sedikit kesal.
"Kok kamu jadi sewot sama ibu. Iya iya ibu minta maaf yah. Sekarang Lia min obat dulu yah." Ucap ibu mengingatkan dan berlalu pergi.
__ADS_1