Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Pak Mamat Kritis


__ADS_3

Langit yang membentang indah dengan sinar mentari pagi yang hangat mendadak saat itu berubah seketika dengan cepatnya. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, bulir bulir hujan menetes membasahi seluruh desa itu. Mungkin langit saat itu ikut merasakan kepedihan dan terlukanya hati seorang ibu dan anak yang tengah berkabung atas apa yang telah terjadi pada sang ayah.


Dengan ditemani suami, bapak mertua, serta kakak iparnya. Lia berangkat dari rumahnya menuju rumah Pak Mamat. Kebetulan rumah Pak Mamat tidak jauh dari rumah kediaman menantunya sebab hanya terhalang dua desa saja. Bibir Lia tak henti-hentinya berkomat-kamit membaca asma Allah serta memanjatkan doa-doa untuk ayahnya. Semenjak panggilan ibunya terputus, ia belum mengetahui keadaan sang ayah. Yang ia lakukan saat ini hanyalah berdoa dan tak dipungkiri bulir-bulir bening yang membasahi kelopak mata serta pipinya tak dapat terelakkan. Meski Lia mencoba untuk bersikap tegar tapi hatinya memang tidak bisa dibohongi kalau dirinya saat ini benar-benar sangat terluka.


"Coba di telepon kembali ibumu, nak." Titah Pak Ridwan.


Tanpa sepatah kata pun, Lia meraih gawainya dari dalam tas dan mencoba untuk memanggil ibunya kembali.

__ADS_1


Berulang kali, Lia mencoba memanggil tapi hasilnya selalu gagal. Sang ibu tak merespon panggilan dari Lia meskipun keadaannya telepon itu aktif. Karena tak ada jawaban dari Bu Sulastri, Lia meminta pak supir untuk mengemudikan mobilnya lebih cepat lagi. Agar mereka semua bisa sampai lebih cepat dan Lia dapat mengetahui keadaan sang ayah.


Permintaan pun dikabulkan. Sang supir pribadi Pak Ridwan meningkatkan performa kecepatannya dari 60 km/jam menjadi 80 km/jam. Untungnya saat itu keadaan jalan tengah sepi karena masih pagi. Sehingga kendaraan yang dikemudikan oleh supir pribadi Pak Ridwan bisa melaju tanpa hambatan.


Cukup membutuhkan waktu hanya sekitar dua puluh lima menit saja Lia dan keluarga Pak Ridwan sampai di tempat tujuannya. Lia bergegas turun dari mobil dan melangkahkan kakinya secepat mungkin ke arah rumah Pak Mamat. Meskipun begitu, ia tetap memerhatikan langkahnya sebab saat ini ia tengah hamil besar yakni usia kandungannya sudah mencapai trisemester akhir.


Mendengar bahwa Pak Mamat dibawa ke rumah sakit. Lia beserta keluarganya menyusul ke rumah sakit. Kebetulan jarak rumah sakit dari kediaman pak Mamat lumayan jauh. Sehingga Lia harus lebih bersabar lagi meski saat ini ia begitu cemas dan gelisah.

__ADS_1


Sementara di rumah sakit, Bu Sulastri tidak henti-hentinya menangis. Ketua RT beserta beberapa tetangga yang ikut mencoba menghibur Bu Sulastri agar hati dan pikirannya tenang.


Tentu saja, Bu Sulastri sangat terpukul apalagi setelah melihat kondisi suaminya saat ini tak berdaya, selang infus, alat bantu pernapasan, dan alat bantu untuk memompa jantung serta kateter alat bantu buang air kecil terpasang di tubuh Pak Mamat. Sementara tubuh yang dipasangkan alat tersebut tak memberikan respon apapun. Sang dokter mengusulkan kepada Bu Sulastri agar suaminya di CT scan. Hal ini diperuntukkan untuk melihat sejauh mana tingkat kesadaran Pak Mamat dan melihat kondisi secara detail untuk tindakan selanjutnya.


Bu Sulastri hanya bisa pasrah dan memberikan seluruh kuasa kepada dokter untuk memeriksa secara keseluruhan untuk suaminya.


Pak Mamat tak jua kunjung sadar. Menurut keterangan dokter yang memeriksa bahwa kondisi Pak Mamat sedang dalam keadaan kritis. Terlepas Pak Mamat dapat melewati masa kritis baru bisa diketahui setelah pelaksanaan CT scan dilakukan.

__ADS_1


__ADS_2