
Bulir-bulir bening membasahi wajah putih nan bersih itu. Agus tak kuat menahan air matanya disaat ia sedang menceritakan kehidupannya yang amat pahit. Kemalangan demi kemalangan terjadi setelah ia divonis menjadi tunarunggu. Kemampuannya untuk berbicara juga telah direnggut darinya. Menyandang status tunarunggu dan tunawicara membuatnya menjadi tidak percaya diri untuk berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya termasuk keluarganya. Ia cenderung menjadi pemurung dan pendiam. Rumah yang ia tinggali menjadi saksi bisu keterpurukannya selama bertahun-tahun.
"Bukan hanya itu saja." ucap Agus kembali menceritakan masa lalunya dan masih menggunakan bahasa isyaratnya.
Semenjak ayahnya mengetahui kenyataan anak bungsunya menjadi seorang penyandang disabilitas sifat ayahnya seakan-akan berubah seratus delapan puluh derajat. Jika tadinya perhatian kini berubah dan semakin mengabaikan Agus. Bahkan disaat ia menginjak usia sekolah tak sekalipun ayahnya mau membiayai pendidikannya ke Sekolah Luar Biasa. Padahal pendidikan sangatlah penting khususnya bagi penyandang disabilitas seperti dia. Hal ini untuk membentuk psikologis anak agar ia bisa tampil percaya diri meski memiliki kekurangan fisik.
"Kenapa kamu tidak dibiayai? Apakah dulu Bapak tidak sanggup membiayainya. Sebab, yang aku tahu Sekolah Luar Biasa(SLB) biayanya sangat mahal." tanya Lia heran dan semakin penasaran.
"Tidak, Bapakku dulu seorang kepala desa terpandang di desa ini. Tidak mungkin ia tidak sanggup membiayai sekolahku. Karena disaat itu dan sampai sekarang bapakku bergelimang harta. Tanahnya dimana mana jumlahnya pun berhektar-hektar. Bahkan jika kamu belum tahu sekitar 100 meter dari rumah ini ada kolam ikan milik bapak." Jelas Agus sembari menunjuk dengan jari telunjuknya posisi dan letak dimana kolam ikan itu berada.
"Lalu mengapa ia tidak menyekolahkanmu?. Itu berarti bapakmu telah berbohong kepada keluargaku. Bahwasannya yang aku ketahui dari cerita Pak Ridwan. Kamu lulus Sekolah Dasar dan tidak dilanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dikarenakan kamu yang tidak mau sekolah." tutur Lia memberi tahu kenyataannya.
__ADS_1
"Itu semua bohong, Bapak tidak pernah mau menyekolahkanku karena katanya kasian sama aku." ucap Agus menyangkal pernyataan Lia.
"Itu namanya kamu dibodohi, bapakmu itu salah. Kasian apa yang mesti dikasihani. Seharusnya kau itu sekolah, biar kamu pandai dan menjadi orang yang sukses meski kamu berkekurangan. Apa semua kakakmu disekolahkan? tanya Lia kembali semakin ingin tahu.
" Ya, semua kakakku sekolah. Bahkan kak Suparman satu-satunya anak bapak yang sekolah sampai perguruan tinggi. Hanya aku saja yang tidak sekolah." Ucap Agus sedih.
Kini Agus tahu yang sebenarnya jikalau bapaknya tidak menyayanginya. Ini bisa dibuktikan karena ia tidak diperjuangan dalam hal pendidikan. Mestinya seorang ayah mampu mempertanggungjawabkan pendidikan anaknya apalagi disertai dengan kemampuan yang mumpuni untuk membiayainya.
"Mungkin saja, ada hubungannya dengan Bu Hajar. Karena semenjak menikah dengan Bu Hajar, bapak jadi sering mendengar perkataan Bu Hajar baik tentang kepentingan anaknya sampai kepentingan keuangannya. Semua diatur olehnya." terang Agus kembali.
"Malangnya dirimu, kamu terjebak dengan keadaan yang menyakitkan. Di depan orang lain kamu diagungkan tapi sebenarnya kamulah orang yang jadi korbannya. Memuji bukan berarti bangga terhadapmu, menyatakan sayang di khalayak banyak orang bukan berarti dirimu disayangi. Semuanya kamuflase hanya mencari empati dari orang untuk mendongkrak kepopularitasnya sebagai Bapak yang ideal. Nyatanya sebaliknya." ungkapnya dalam hati.
__ADS_1
"Tok...Tok...Tok..." Suara pintu diketuk.
Lia membukakan pintu.
" Eh Bapak." Sapa Lia.
"Kalian sudah sarapan?." tanya Pak Ridwan.
"Alhamdulillah sudah pak. Bapak mau sarapan disini."Ucap Lia menawarkan.
"Oh boleh-boleh kebetulan bapak memang belum sarapan. Soalnya ibumu pagi-pagi sudah pergi ke sawah. Dan lupa tidak menyediakan sarapan." Jelas Pak Ridwan kemudian ia duduk dan Lia mengambilkan piring serta menyodorkan nasi beserta lauk pauk yang ia masak subuh tadi tak lupa juga menyodorkan segelas air untuk bapak mertuanya itu.
__ADS_1
Bapak mertuanya itu memuji akan kelezatan masakannya. Ia bahkan sampai nambah dua kali. Lia juga senang karena masakannya dipuji tetapi ia selalu bersikap rendah hati bahwa ia tidak bisa memasak hanya mencoba membuat semampunya saja. Jikalau hasilnya enak ia sangat bersyukur sekali.