
Tidak sedikit ibu hamil yang memilih operasi Caesar sebagai jalan alternatif untuk melahirkan. Alasannya karena minimnya rasa sakit yang akan dialami oleh sang ibu pasca melahirkan. Namun, segala bentuk tindakan medis, operasi caesar juga mempunyai resiko yang sangat tinggi. Apabila penanganannya dilakukan secara tepat, resiko pasca melahirkan secara Caesar dapat ditekan.
Terdapat kaidah yang melarang umat islam untuk membahayakan orang lain dan diri sendiri. Operasi caesar yang membutuhkan proses penyembuhan lebih lama daripada persalinan normal termasuk suatu bahaya yang sebaiknya dihindari. Akan tetapi, dengan berbagai alasan dan kondisi yang darurat maka diperbolehkan untuk meminimalisir bahaya yang akan terjadi khususnya kepada ibu dan sang bayi.
Semua derajat wanita sama dimata Allah SWT. Baik ia melahirkan secara normal maupun dengan cara operasi caesar. Akan tetapi, jangan salah digunakan. Ketentuan ini bisa diperoleh bagi seorang wanita yang memang betul diperkenankan atau dirujuk untuk operasi caesar. Bukan semata-mata tujuannya karena tidak mau melahirkan secara normal sehingga jalan yang dipilih adalah dengan cara di operasi.
Bagi Lia sendiri, melahirkan dengan cara dioperasi ternyata membuat trauma bagi dirinya. Hal ini terbukti bahwasanya disaat ia masih menjalani perawatan penyembuhan. Berbaring saja mesti diatur dan dijaga. Bahkan jika seluruh badannya terasa pegal saja ia hanya bisa mengeluh nafas panjang, belum lagi jika ia ingin bersin maupun batuk rasanya sakit bukan main. Tubuhnya seakan terkoyak khususnya bagian dibawah perut bekas luka operasi yang belum kering. Belum lagi alat kateter yang terpasang sepanjang hari selama perawatan.
Tapi, semua rasa sakit dan penderitaan selama menjalani perawatan terbayarkan sudah dengan kehadiran seorang putri cantik yang ia namai Maulida Restiani. Nama tersebut terinspirasi dari bulan kelahiran yakni bulan kelahiran nabi Muhammad Saw yakni Rabiul awal atau lebih dikenal dengan bulan Maulud yang sering dirayakan oleh masyarakat Islam tiap tahunnya.
Kembali kepada Agus yang panik akan putrinya yang menangis.
__ADS_1
"Bagaimana ini, putriku menangis." Batin Agus.
"Duh, susternya kemana lagi, aku kan tidak tahu gimana caranya menenangkan bayi yang menangis."
"O, iya aku ingat kucoba saja dengan cara ini." Ucapnya dalam hati seolah memiliki ide untuk menenangkan putrinya itu. Ia mencoba mengayun-ngayunkan tubuh bayi itu. Perlahan-lahan tangisannya mulai mereda. Dan Agus juga sangat senang sekali ternyata usahanya untuk menenangkan sang putri berhasil. Baru saja tangisannya berhenti, sang putri menangis lagi. Kali ini usahanya gagal. Agus pun makin panik. Beruntung, suster menghampiri Agus yang sedang panik itu dan meraih putrinya mengalihkan pangkuannya ke pangkuan sang suster.
Diletakkannya sang bayi itu didalam sebuah tempat tidur yang sudah digelari sebuah kain pernel yang lebar. Suster memeriksa popok bayi tersebut. Diketahuilah sebab sang bayi menangis. Ternyata bayi tersebut sudah buang air besar dan popoknya sudah basah serta lembab membuat bayi tak nyaman sehingga ia menangis.
Agus melihat pemandangan itu dan jadi sedikit lebih tahu alasan kenapa putrinya menangis. Hal tersebut menjadi ilmu untuknya ketika ia nanti merawat putrinya di rumah.
Bukan hanya popoknya yang diganti, bajunya juga ikut diganti serta diberi sarung tangan dan kakinya. Setelah itu,seluruh tubuh bayi dibedong dengan kain pernel itu. Dan Maulida siap untuk dibawa pulang ke rumah oleh sang ayah.
__ADS_1
Suster kembali meraih tubuh mungil Maulida dan mengembalikan pangkuannya ke ayahnya. "Sekarang Bapak, bisa bawa pulang putri bapak." Ucapnya dengan bahasa isyarat.
"Mari saya antar keluar dari ruangan ini." Ujarnya kembali.
Agus membuntuti langkah suster tersebut dan saat dibuka pintu ruangan tersebut. Mamah Ade beserta yang lainnya sudah menyambut kedatangan Agus beserta putrinya.
"Sini biar mamah yang memangkunya." Tutur Mamah Ade dengan aba-aba siap untuk memangkunya.
"Cantik dan lucunya Putri kecil kamu Gus."Tutur Kak Suparman.
"Selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah."Tuturnya lagi.
__ADS_1
Sambutan kecil dan ucapan selamat dari keluarganya membuat Agus merasa terharu. Tak ada yang dapat ia katakan lagi selain hanya rasa syukur kepada ke kehadirat yang Maha Kuasa. Hanya satu yang paling ia sedihkan dan sesali sepanjang hidupnya ialah karena tak dapat mengazdani dan mengqomatkan lantunan panggilan adzan bagi kaum umat muslimin dan muslimat.
Cluk...Clak...Agus tak menyadari air matanya berlinang membasahi pipinya.