
Sore itu, Bu Sulastri baru saja sampai ke kediamannya setelah selama dua hari di rawat di RSUD wilayah setempat. Pak Mamat yang juga baru pulang dari tempat ia bekerja. Yakni menjaga jongko sembako milik Pak Husein. Hendak ingin melihat keadaan Bu Sulastri di Rumah Sakit. Akan tetapi, ia mendapatkan kabar dari tetangganya kalau Bu Sulastri sudah pulang. Karena tak percaya Pak Mamat melangkahkan kakinya lebih cepat lagi menuju ke kediamannya. Benar saja, sendal milik Bu Sulastri sudah ada di depan rumah itu berarti kabar dari tetangganya adalah benar adanya.
Pak Mamat merasa heran dan bertanya-tanya kenapa dia sebagai suaminya tidak diberitahu kalau istrinya sudah boleh pulang. Karena ingin tahu apa alasannya. Ia memutuskan segera menemui Bu Sulastri.
Tok... Tok...Tok... Pintu rumah terdengar diketuk dari luar. Bu Sulastri yang sedang beristirahat terbangun dan segera membukakan pintunya. Terlihat kalau Bu Sulastri masih nampak begitu lemas itu terlihat jelas dari caranya ia berjalan dan matanya yang sayu dengan kantong hitam yang terlihat sangat tebal memperjelas kalau Bu Sulastri kurang tidur akibat merasakan penyakitnya.
"Assalamualaikum, Bu." Seru Pak Mamat dari luar sambil masih mengetuk pintunya.
"Wa'alaikum salam bapak."Jawab Bu Sulastri dari dalam sembari membukakan pintunya.
Ibu menyalami Pak Mamat dengan takzim.
Pak Mamat dan Bu Sulastri duduk di ruang tengah yang beralaskan tikar yang tidak terlalu tebal dan agak lusuh.
"Ibu ini kenapa tidak memberikan kabar ke Bapak kalau ibu sudah boleh pulang." Ucapnya memulai pembicaraan.
__ADS_1
Bu Sulastri tidak serta merta langsung menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Ia melihat wajah Pak Mamat dan memandangnya sekejap sebelum akhirnya ia menjawab.
"Ibu, tidak memberikan kabar ke bapak karena entah kenapa pak. Perasaan ibu dari dua hari yang lalu tidak karuan. Gelisah dan gundah. Pas ibu di rumah sakit, rasa gelisah, risau dan gundah ibu semakin menjadi sehingga ibu memutuskan untuk pulang secepatnya ke rumah. Pokoknya seperti ada firasat buruk entah itu apa. Ibu belum tahu." Jelas Bu Sulastri panjang lebar.
Dan lagi, ibu sebenarnya minta izin pulang paksa tidak sesuai dengan perintah dari dokter. Bahkan ibu menandatangani surat perjanjian untuk tidak menggugat pihak rumah sakit jika terjadi sesuatu yang buruk terjadi setelah ibu pulang secara paksa. Sebab, kondisi ibu belum betul-betul sehat" Tambahnya lagi.
"Ibu ini bagaimana bukannya sembuh dulu malah pulang. Haduh... ibu...ibu... nekad betul tapi tidak apa- apa Bu yang terpenting ibu jaga kesehatannya lagi. Insyaallah ibu sembuh. Bapak juga akan membantu merawat ibu." Jawab pak Mamat menghibur Bu Sulastri.
"Eh iya Bu. Bapak keinget sama Lia terus. Bagaimana ya kabarnya. Apa dia sudah melahirkan?" Tanya Pak Mamat pada Bu Sulastri.
Setelah perbincangan keduanya usai. Bu Sulastri kembali berisitirahat sementara Pak Mamat dengan keihklasan hatinya pergi ke dapur untuk memasak dan mencucikan pakaian kotor milik Bu Sulastri sebagaimana rasa sayangnya pada istrinya. Mengerjakan pekerjaan rumah dilakukannya selama Bu Sulastri belum pulih. Semuanya ia kerjakan dengan senang hati tanpa mengeluh sedikitpun meskipun dirinya juga capek akibat seharian penuh bekerja di jongko.
Saat itu, Bu Sulastri dan Pak Mamat tengah tidur terlelap. Tepatnya pukul sebelas malam Bu Sulastri tiba-tiba terbangun dari lelap tidur malamnya. Ia terbangun dikarenakan mimpi buruk menghampirinya. Di mimpinya itu, kamar yang sering digunakan suaminya untuk melaksanakan sholat malam tanahnya digali serta ditaburi bunga yang sangat banyak. Meski hanya kembang tidur, tapi menurut batinnya ada makna dibalik mimpinya itu. Entah itu apa tapi yang pasti ia berharap bukanlah hal yang buruk yang akan terjadi.
Keesokan harinya, Pak Mamat sebelum berangkat kerja pamit kepada Bu Sulastri untuk menemui putrinya. Bu Sulastri juga menitip salam pada suaminya itu untuk putri semata wayangnya itu karena tidak dapat pergi bersama untuk menemui Lia dikarenakan kondisi tubuhnya belum mendukung aktifitasnya. Lia sengaja tak diberitahu jikalau ibunya sedang sakit sebab, Bu Sulastri tahu tidak ingin merepotkan putrinya itu apalagi disaat kondisinya tengah berbadan dua.
__ADS_1
Tepat pukul tujuh pagi Pak Mamat sampai ke kediaman menantunya. Diketuknya pintu rumah Agus dan seseorang membukakan pintunya. Pucuk dicinta ulampun tiba yang membukakan pintu ialah putrinya sendiri betapa rindunya sang ayah sehingga pelukan hangat tak terelakan.
"Bapak, tumben Pagi-pagi sudah kesini ada apa pak?" tanya Lia saat dirinya masih berada di pelukan sang ayah.
"Bapak rindu sama Lia. Bapak ingin ketemu sama kamu dan memastikan kapan kamu akan melahirkan." tuturnya.
"Bapak kalau soal melahirkan prediksi dari dokter kandungan katanya perkiraan bulan Desember pak. Sekitaran tanggal belasan atau akhir bulan." Jawabnya.
"Oh iya pak, pas Lia lahiran nanti bapak sama ibu harus ada bersama Lia. Terutama Lia ingin bapak yang mengubur bali (Plasenta) anak Lia." Pinta sang putri dengan manja.
Pak Mamat dengan senyuman yang mengembang mengiyakan permintaan putrinya itu.
"Senang sekali rasanya bapak sudah melihat putri bapak. Sehat terus ya. Dan juga cucu bapak yang masih ada di dalam perut, kelak lahir jangan merepotkan mamahmu ya jangan manja seperti mamahmu." Ujar Pak Mamat berpesan sambil mengelus perut sang putri. "Dan juga ini, tadi bapak lewat pasar terus beli daging ayam. Ini kamu masak buat makan nanti siang."Tutur Pak Mamat sambil menyodorkan kantong plastik berisikan daging ayam yang kira-kira beratnya satu kilo itu.
Tak seperti biasanya, raut wajah Pak Mamat dikala itu terlihat amat sangat senang, ceria dan bercahaya. Bahkan semangatnya sungguh luar biasa untuk menyambut sang cucu.
__ADS_1