Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Rujuk


__ADS_3

"Kun fayakun." Jika semudah itu Allah SWT menciptakan surga dan neraka, langit dan bumi, beserta seluruh isinya. Maka yakinlah, tak akan sulit bagi-Nya untuk menolong hamba-Nya sesulit dan sebesar apapun masalahnya. Sebagaimana firman-Nya didalam surat Yasin ayat 82 yang Artinya: Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia.


Rencana-Nya memang sungguh sempurna. Dibalik kesedihan serta kegundahan yang dialami Agus kini menuai hikmah, hidayah, dan inayahnya. Berkat kesabaran, keikhlasan nya Allah SWT telah menjawab seluruh do'a di sepertiga malamnya. Kini dengan kehadiran seorang janin yang berada dalam rahim Lia telah membatalkan keputusan untuk menggugat Agus. Meskipun, keputusan untuk membatalkan gugatan tersebut tidak mendapatkan persetujuan dari Pak Mamat. Namun, Pak Mamat rela untuk mengalah demi calon cucunya. Sebab, ia tidak menginginkan jika cucunya kelak tidak memiliki seorang ayah. Sementara pihak keluarga Agus, khususnya Pak Ridwan merasa bahagia karena gugatan perceraian itu dibatalkan.


Akan tetapi, diantara kebahagiaan tersebut salah seorang kakak ipar Lia tidak merasa senang dengan kembalinya Lia menjadi menantu dari keluarganya. Orang tersebut ialah Mamah Ade. Ia terlanjur tidak menyukai dengan Lia yang sudah mempermainkan sebuah pernikahan dan mencampakkan Agus hanya demi materi semata.


Lia kembali ke Kediaman Agus. Kali ini Lia diantar pulang oleh kedua orangtuanya. Pak Mamat dengan tegas mengatakan kepada Pak Ridwan untuk memberikan seluruh kebutuhan Lia selama ia menjadi istrinya Agus. Dan ia berharap serta menitipkan putrinya kepada Pak Ridwan serta Agus untuk tidak menyakiti perasaan putrinya.


Pak Ridwan dengan bahagia memeluk menantunya sebagai ucapan selamat datang kembali ke kediamannya. Ia berjanji akan memenuhi amanat dari pak Mamat. Kemudian setelah itu, Pak Ridwan menyuruh Lia untuk beristirahat sementara Agus sebagai suaminya membantu dan menuntunnya masuk kedalam kamarnya.


"Aku bahagia sekali, Kamu kembali lagi kesini." Ucap Agus dengan mode isyarat. Iapun memeluk istrinya dengan kerinduan yang teramat dalam. Saking rindunya, ia membawa Lia untuk masuk kedalam dekapannya lebih lama. Begitupun sebaliknya, Lia yang selama ini juga merindukan sosok suaminya itu tak menolak jika tubuhnya dipeluk dan dicumbui oleh suaminya. Mereka pun saling melepaskan kerinduan dengan memadu kasih dan bercumbu sepanjang malam.

__ADS_1


"Teng...Teng...Teng..." Suara dentingan jam dinding di tengah rumah berbunyi mengusik lelapnya Lia yang sedang tertidur pulas. Akhirnya Lia terbangun kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya menuju ke toilet untuk buang air kecil. Baru saja ia berjalan beberapa langkah meninggalkan kamar. Ia tak sengaja melihat sosok bayangan seorang wanita tua yang mengenakan pakaian kebaya lengkap dengan bawahannya kain jarik bercorak batik tradisional berlalu ke arah kamar utama yang kadang-kadang dipakai oleh Pak Ridwan jika sedang menginap di rumah Agus.


Tentu saja karena penasaran. Lia mengikuti arah bayangan itu dan pergi kesana untuk mencari tahu yang sebenarnya. Apakah yang ia lihat tadi nyata ataukah hanya halusinasinya saja.


Ia melangkahkan kakinya secara perlahan-lahan. Kemudian ia berhenti tepat di depan pintu kamar tersebut dan hendak membukanya. Saat pintunya terbuka, bayangan wanita tua itu tersenyum kepadanya. Lia tak bergeming sedikitpun, bulu kuduknya berdiri. Ia merasa takut dan merinding bukan main. Ia berusaha berfikir positif bahwa itu hanyalah sebuah ilusi kemudian ia memejamkan matanya. Dalam sekejap mata, bayangan wanita tua itu hilang entah kemana perginya.


"Plak." Sebuah tangan menyentuh tubuh Lia dari belakang. Ia pun terkejut bukan kepalang. perasaan merinding itu kembali menjalari seluruh tubuhnya. Keringat dingin pun muncul membasahi dahinya. Dengan penuh keberanian ia mencoba menoleh ke belakang dan betapa terkejutnya ternyata itu hanyalah Agus. Seketika perasaan takut dibenaknya hilang sirna bersamaan dengan itu ia mendekati Agus dan memeluknya dengan erat. Agus merasa heran apa yang dilakukannya di kamar utama tengah malam begini.


"Aku tadi melihat seorang wanita tua pergi ketempat ini. Makanya aku ikuti kemudian saat kubuka pintu kamar ini. Ia tersenyum kepadaku dan menghilang. Aku merasa takut. Untung saja kamu datang kesini." Terang Lia dengan mode isyarat juga.


" Ciri-ciri nya seperti apa?."Tanya Agus kembali.

__ADS_1


"Ciri-cirinya wanita itu sudah tua, dia tidak terlalu tinggi, tubuhnya kurus dan mengenakan baju adat kebaya lengkap dengan kain jarik tradisional bercorak batik." Terangnya.


"Hmmm... Mungkinkah seperti Dia." Tunjuk Agus kepada sebuah potret keluarga besar Pak Ridwan terdahulu terlihat Photo itu sudah sangat usang tapi gambarnya masih terlihat jelas.


"Iya benar, wanita yang ada di photo itu Persia dengan wanita yang aku lihat tadi." Jelas Lia membenarkan.


"Lantas, wanita itu siapa?."tanya Lia bingung.


"Dia adalah Umi. Ibu kandungku." Jawab Agus.


Lia menyimpulkan alasan mengapa ia bisa melihat bayangan itu mungkin ada sesuatu yang hendak ingin disampaikan.

__ADS_1


__ADS_2