Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Rasa sakit Caesar


__ADS_3

"Pak, anak Lia sudah lahir. Cucu bapak lahir dengan sehat dan normal tanpa kekurangan sedikitpun. Seandainya bapak ada disini mungkin saja kebahagiaan ini terasa lebih indah."Batin Lia sambil menatap ke atas atap dengan tatapan kosong.


Tiba-tiba sebuah bayangan putih menghampirinya. Terlihat bayangan itu berwujud sang ayah dan melempar senyuman ke arahnya. Ia mencoba untuk menyapanya berharap ayahnya benar-benar ada disana. Namun, bayangan itu hilang bersamaan dengan datangnya seorang suster yang menghampirinya. Bayangan itu seolah-olah hanya Lia yang dapat melihatnya.


"Bapak. Tunggu Lia." Teriak Lia dan bangun dari tidurnya.


"Syukur Alhamdulillah akhirnya Lia sudah sadar. Kami sangat cemas sekali kalau Lia hilang kesadaran terlalu lama."Ucap Bu Sulastri.


"Ternyata yang tadi itu hanya mimpi." gumam Lia merasa aneh.


"Bu, anak Lia mana?" Kenapa tidak dibawa kesini?." Tanya Lia.


"Anakmu sekarang ada di lantai 1. Sementara anakmu sedang dalam perawatan." Jawab Bu Sulastri.

__ADS_1


"Memangnya anak Lia kenapa sampai harus dirawat segala. Lia pengen lihat anakku." Ucapnya dan berusaha untuk bangkit. Akan tetapi, usahanya gagal dikarenakan kondisinya saat ini tidak memungkinkannya untuk bisa duduk terlebih dahulu bahkan bergerakpun harus diminimalisir. Tentunya hal ini akan berbahaya bagi luka medis yang belum sembuh total akibat operasi Caesar sekitar beberapa jam yang lalu.


Rasa sakit yang dialami setelah operasi Caesar memang sangat berbeda dengan melahirkan secara normal.


Ketika Lia merengek kepada Bu Sulastri untuk dapat melihat putrinya, ditempat yang sama dan waktu yang sama Agus sedang melihat putrinya yang berada dalam sebuah ruangan yang luas khusus para bayi yang baru saja dilahirkan ke bumi. Ada yang sedang menjalani perawatan ada juga yang sehat dan menunggu pihak keluarga untuk segera membawanya.


Didalam sebuah tabung kaca khusus bayi atau yang lebih dikenal dengan nama inkubator. Putri kecil nan mungil itu sedang tertidur pulas. Ia tak mengetahui ada sepasang mata yang tengah menatapnya.


Seorang suster menghampiri Agus yang tengah sibuk memandangi putri kecilnya yang sedang tertidur.


"Bapak, ingin mencoba menimangnya?" Tanya suster itu pada Agus.


Tentu saja melihat suster itu tengah berbicara kepadanya. Agus hanya menimpalinya dengan senyuman saja. Karena, ia tak mengerti apa yang dikatakan suster tersebut sebab, ia tidak menggunakan bahasa isyarat.

__ADS_1


Dan sekali lagi, suster itu berbicara kepadanya.


"Jika bapak ingin menimang putri bapak. Mari saya bantu." Ujarnya menawarkan bantuan pada Agus.


Tapi sekali lagi, Agus menjawabnya dengan senyuman. Hingga suster curiga dan berinisiatif serta menyimpulkan bahwa Agus tak mengerti apa yang dikatakannya. Sehingga, suster mencoba berkomunikasi sekali lagi kali ini dengan bahasa isyarat. Ia memperagakan pertanyaan sebelumnya dengan isyarat yang seadanya.


Tentu saja, Agus langsung mengerti apa yang dikatakan suster tersebut. Akhirnya keinginan untuk menimang sang buah hati tercapai berkat bantuan dari sang suster.


"Subhanallah... Putri kecilku cantik persis seperti ibunya. Betapa besar anugerah yang Engkau berikan kepadaku sehingga diberikan kesempatan untuk menjadi seorang suami sekaligus menjadi seorang ayah untuk putri kecilku ini." Batin Agus.


"Oa...Oaaa...Oaaaa...." Tiba-tiba bayi yang kini berada dalam pangkuannya menangis.


Agus mencoba untuk menghiburnya namun, bayi itu tetap menangis. Ia pun menjadi panik dan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri kenapa Putri kecilnya menangis.

__ADS_1


__ADS_2