
Sudah seminggu lamanya Lia meninggalkan rumah Agus. Sejak gugatan perceraian itu dilayangkan. Lia tak berhenti menyesali dirinya sendiri. Ia kehilangan selera makannya dan terus-menerus mengurung diri di kamarnya. Semenjak itu pula, ia membatasi komunikasi dengan orangtuanya. Ia berubah seratus delapan puluh derajat menjadi anak yang pemurung. Orangtuanya tak bisa berbuat apa-apa. Selain hanya terus memberikan motivasi agar ia bisa bangkit dan segera move on.
Pagi itu, amat begitu cerah. Pancaran sinar mentari yang hangat menyelusup ke sebagian kamar Lia. Seolah mentari itu sedang memberi sebuah semangat untuk Lia bisa bangkit kembali dan melanjutkan hidupnya.
Huft... Lia menghela nafas panjang. Udara pagi yang segar memenuhi seluruh rongga-rongga hidung, paru-paru serta jantungnya.
" Oke aku gak boleh begini terus. Aku harus move on." Batinnya.
Sekelebat bayangan Agus muncul dipikirannya. Ia mengingat saat dimana ia dan Agus tengah berjalan-jalan santai di pagi hari. Berbagai tingkah lucu Agus membuat Lia tertawa bahagia seakan-akan ia terhipnotis dengan sihir cinta sang Penyandang Disabilitas. Ya meskipun, tidak bisa berinteraksi dengan normal namun ia dapat mencairkan suasana dan bahkan mampu menjadi tempat curhat andalan bagi Lia.
"Hmmm... Lagi-lagi kepikiran sama dia. Engga -engga ini engga boleh pokoknya harus melupakan dia." Gumamnya.
Huiks...Huiks...Huiks... tiba-tiba Lia merasa mual luar biasa. Perutnya seakan kram bersamaan dengan itu kepalanya juga menjadi pening. Lia tak dapat lagi menopang tubuhnya. Matanya mulai berkunang-kunang dan dalam sekejap penglihatannya menjadi gelap gulita. Dengan sisa tenaga yang ia punya. Ia berteriak memanggil ibunya.
Saat itu pula, Bu Sulastri menemukan anaknya tergelatak tak sadarkan diri dibawah lantai.
"Lia...Lia...Bangun Lia..." Bu Sulastri terus berupaya membangunkan Lia dengan menggoyang-goyangkan badannya. Pipinya sesekali ditepuk-tepuk oleh sang ibu. Berharap Lia segera siuman akan tetapi usahanya tidak membuahkan hasil. Bu Sulastri yang panikpun berlari ke arah ruang tengah meminta bantuan suaminya untuk dibawa ke klinik terdekat.
__ADS_1
Tanpa ba-bi-bu lagi Pak Mamat mengangkat tubuh Lia dan membawanya ke klinik. Sepanjang perjalanan, Bu Sulastri terus saja menangis sesekali ia sesegukan karena tak mampu menahan air mata yang terus mengalir deras. Ia amat khawatir sekali pada putri semata wayangnya. Sementara Pak Mamat menanggapinya dengan begitu santai tidak sepanik Bu Sulastri. Daripada menangis sang bapak malah memanjatkan doa serta berzikir itu pemikiran yang lebih bijaksana.
Sesampainya di Klinik, seorang petugas membawa brankar pasien. Sang ayah dibantu oleh pihak petugas klinik menggotong badan Lia kemudian direbahkan diatas brankar.
Brankar didorong dengan laju yang stabil membawa Lia masuk ke ruang IGD. Sementara pihak keluarga harus menunggu di koridor klinik. Terlihat dari pantulan kaca, sang dokter tengah memeriksanya.
"Atas nama keluarga Lia."Panggil seorang petugas Klinik.
"Iya." Pak Mamat menghampiri sumber suara.
"Iya tolong dibayar administrasinya terlebih dahulu." Pinta sang petugas.
di saku celananya dan memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan.
"Keluarga sodari Lia." Panggil petugas lainnya kali ini suaranya berasal dari IGD.
Dengan cepat, Bu Sulastri dan Pak Mamat menuju ruang IGD. Sang dokter menjelaskan bahwasanya Lia terkena penyakit maag. Untuk itu, ia dipinta untuk tidak terlambat makan. Memang beberapa hari ini, Lia tidak nafsu makan. Selera makannya buruk sehingga mempengaruhi kesehatannya. Bu Sulastri bersyukur karena Lia baik-baik saja. Kondisi Lia semakin membaik, secara perlahan-lahan iapun segera siuman.
__ADS_1
Saat pertama kali ia membuka matanya, silau lampu yang sangat terang menganggu penglihatannya. Ia melihat kedua orangtuanya sudah berada disampingnya. Keduanya kompak memanggil nama anaknya.
"Alhamdulillah, anak Bapak sudah sadar." ucap Pak Mamat penuh syukur.
"Makanya kamu harus makan. Jangan murung terus. Jadinya kan seperti ini kamu jadi sakit. Kan ibu khawatir nak. Cuma kamu satu-satunya anak ibu. Jadi jangan buat cemas ibu. Ya sayang." ungkap Bu Sulastri seperti biasa sang bunda memang selalu cerewet terlebih jika anaknya sakit.
Bapak memapah anaknya untuk masuk ke pedesaan yang ia sewa dari tetangganya.
Tak sengaja, Lia berpapasan dengan Dika di lorong klinik saat hendak menuju pulang ke rumah. Menyadari akan hal itu, pandangan Dika tak berhenti menatap ke arah Lia.
"Lia..."Panggil pemuda itu.
Lia yang sedari tadi fokus berjalan tiba-tiba langkahnya tercekat. Serentak Lia beserta kedua orangtuanya membalikkan tubuh mereka untuk melihat siapa yang telah memanggil namanya.
"Dika..." ucap Lia perlahan.
Deg...Tubuh Lia kembali gontai membuat guncangan sehingga tubuh pak Mamat tak lagi stabil menopang tubuh Lia dan ia hampir terjatuh. Lia terkesiap melihat Dika dengan sigap mengambil alih posisi Pak Mamat.
__ADS_1
Dika dan Lia saling berpandangan.
Deg... Jantung Dika berdegup dengan sangat cepat. Ritmenya tidak lagi beraturan. Aliran darahnya seolah bergejolak dikala ia melihat mata sayu Lia yang begitu sendu membuatnya terus memandanginya seolah ada sebuah magnet yang sangat besar.