Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Malam Pertama Winda Dan Dika


__ADS_3

Sepulangnya dari pesta resepsi sahabatnya. Agus terlihat tampak murung. Tidak seperti biasanya, ia tampak sedikit cemas dan gelisah. Hal ini terlihat sangat jelas dari raut wajahnya. Perbedaan ini juga dirasakan oleh Lia.


Karena cemas kalau-kalau suaminya itu sedang sakit ia memberanikan diri memeriksakan kondisi tubuh suaminya melalui keningnya. Ternyata setelah diperiksa tubuhnya memang sedikit demam, Lia dengan sigap mengambil kompresan dan obat pereda demam kemudian ia menyodorkan obat itu untuk diminumkan ke suaminya.


Saat hendak menempelkan kompresan ke kening suaminya. Agus terperanjat dari tempat tidurnya dan meraih lengan istrinya. Tangan sang istri ia remas dengan lembut dan sesekali menciumnya.


"Aku sangat mencintai dan menyayangimu." Ungkap Agus mengunakan mode isyarat.


Lia nampak tersipu malu dengan perlakuan suaminya itu. Pipinya yang bulat berubah warnanya menjadi merah merona. Ia tak menyangka jikalau suaminya itu bisa berperilaku romantis.


Lia membalasnya dengan senyuman kemudian dengan berani ia mencium pelipis suaminya itu. Senyum Agus mengembang dengan sangat sempurna dikala ia mendapatkan kecupan dari sang istri.


Kini siang berganti malam, Agus tertidur dengan lelapnya sambil memeluk istrinya dari belakang. Betapa rasa cintanya semakin bertambah besar karena ia bisa mendapatkan wanita yang menurutnya sangat sempurna itu.


Sementara Dika, masih mengingat pertemuannya dengan Lia tadi siang. Pelukan terakhirnya sungguh menganggu pikirannya. Ia terus dihantui rasa hangat pelukannya bersama Lia meski itu hanya sebentar tapi berkesan luar biasa untuknya.


"Ehemmm." Seseorang berdehem membuyarkan seluruh lamunan Dika.

__ADS_1


"Pasti lagi mikirin Lia yah. Ayo ngaku!" sergap Winda menyelidik.


"Hmmm. Engga aku cuma sedang punya masalah aja." Ungkap Dika tak jujur.


"Jangan bohong, aku tahu bagaimana dirimu. Aku mengenalmu itu sejak lama dan aku tahu bagaimana dirimu dengan baik." Jelas Winda.


"Engga Winda beneran aku lagi ada masalah aja." Ungkap Dika lagi menyakinkan diri Winda bahwa memang dia tidak sedang memikirkan Lia.


Sebab, ia juga menghargai Winda sebagai istrinya. Tidak mungkin di hari bahagianya ini, sang suami memikirkan wanita lain. Terlebih saat ini adalah malam pertama bagi pasangan baru itu.


Winda yang mengetahui kalau Dika sedang berbohong memilih untuk mempercayai perkataannya. Sebab, ia tidak mau ada keributan di hari bahagianya itu meskipun pernikahannya dengan Dika hanya sebuah pelarian karena Dika tidak bisa bersama dengan Lia. Namun, itu hanyalah pemikiran Winda semata. Pernikahan yang dirasa Winda hanyalah sebuah pelarian ternyata tidak sependapat dengan Dika. Bagi Dika, pernikahan ini murni karena ia ingin menikahi Winda bukan tanpa alasan. Sebab, Winda adalah sahabat sejatinya. Ia harap kehadiran Winda di hidupnya bisa membuat hatinya luluh dan Winda dapat menggantikan posisi Lia di hatinya.


"Eh, maksudku Sayangggg." Ungkap Dika meralat kembali ucapannya.


Winda melongo mendengar perkataan Dika barusan. Kemudian meminta Dika kembali untuk mengulangi perkataan tadi.


Tanpa ragu Dika kembali mengulangi perkataannya. Kali ini nadanya begitu mesra dan sangat manis.

__ADS_1


"Sayaaang." Ucap Dika.


Winda mengerjapkan matanya beberapa kali karena tak percaya. Ia pun mencubit bagian pipi kirinya dengan tangannya sendiri terasa cubitannya sakit sekali.


"Aku engga salah dengar. Barusan kamu panggil aku sayang." Tutur Winda heran.


"Sayang kamu engga salah dengar. Memang apa salahnya aku panggil kamu sayang. Kan sekarang kita sudah menjadi suami istri. Perlu kata-kata romantis. Apalagi malam ini malam pertama kita sayang." Jelas Dika.


"Terus apa hubungannya dengan malam pertama dan panggilan sayang?." Tanya Winda polos.


Dika mendekati Winda. Kini ia duduk disamping Winda. Tubuhnya ia hadapkan kepada Winda agar saling berhadapan. Tangannya meraih kedua lengan Winda, sekejap ia menatap Winda sangat lekat. Kedua pasang netra itu saling bertemu. Seperti ada magnet yang menarik hati Winda, tatapan Dika seolah menghipnotisnya. Sehingga, Winda tak bergeming sedikitpun saat Dika tengah menatapnya. Tatapan yang sendu dan hangat itu seolah membuat Winda merasa ada getaran yang tak jelas.


Dika menciumi kedua lengan Winda saling bergantian. Kemudian Dika beralih mencium ke kening dengan penuh penghayatan. Bersamaan dengan itu, Winda menutup matanya meresapi kecupan Dika ke keningnya.


"Sayang, aku ingin memilikimu seutuhnya maukah kau mengizinkannya." Tanya Dika sebelum melakukan tindakan selanjutnya.


Winda hanya membalasnya dengan senyuman dan menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.

__ADS_1


"Terimakasih sayang." Ucap Dika membalasnya.


Lampu kamar pun dimatikan, Dika mendekati wajah Winda dan memberikan kecupan hangat di bibir ranum milik Winda yang belum terjamah oleh siapapun. Semakin lama kecupan itu semakin menggelora dan Winda merasakan tubuhnya memanas apalagi disaat kecupan Dika berpindah pada puncak pundaknya memberikan sensasi yang luar biasa nikmatnya. Akhirnya malam itu menjadi saksi penyatuan bagi sepasang insan menggapai surga duniawi yang tiada tara nikmatnya.


__ADS_2