Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Kakak Ipar Yang Nakal


__ADS_3

Demi keberlangsungan hidup Lia rela mencari nafkah sendiri. Terutama untuk keperluan sang buah hati yang ia sayangi.


Berkat mengikuti kursus menjahit di LPK Mekarsari ia dapat membantu segala kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan sang buah hati. Meski dinilai masih pemula namun, hasil karyanya cukup membuat pelanggan puas.


Dan tanpa sepengetahuan Bapak mertuanya ia diam-diam ikut program menabung dan arisan setiap minggunya. Sebab, ia mempunyai cita-cita untuk memberikan hadiah kecil berupa gelang untuk si mungil Maulida.


Hari demi hari keadaan Agus kian membaik. Dokter juga sudah mengatakan hal baik itu kepada Kak Suparman bahwasanya satu atau dua hari lagi Agus bisa pulang secepatnya.


Kak Suparman juga memberitahukan hal baik ini kepada Agus dan yang lainnya.


"Alhamdulillah ya De, akhirnya bapakmu akan segera pulang ke rumah ini. Rumah ini begitu sepi kalau hanya ditempati dua orang saja. Untungnya ada kamu ya De. Kalau tidak ada kamu, mamah disini sendirian sepi sekali tidak ada yang mengajak mamah mengobrol. Ya, meskipun hanya saling tukar bahasa isyarat setidaknya ada yang ngajak mamah bicara." Ungkap Lia mengajak bicara putri kecilnya yang masih bayi itu. Sang anak hanya memperhatikan sang ibu sambil sesekali tangannya menggenggam jari telunjuk sang ibu.


Ceklek...

__ADS_1


Suara pintu dibuka dari arah luar. Seseorang masuk tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Lia.


Langkah kaki kian terdengar sangat jelas dan mendekati arah kamar Lia. Benar saja, seseorang itu adalah seorang laki-laki yang usianya tidak jauh dengan bapak mertuanya.


Lia melihat ke arah laki-laki itu secara seksama dan merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Ia mengerjapkan matanya berulang kali.


Laki-laki itu semakin dekat mendekati Lia yang hanya berdua dengan Maulida.


Pak Ujang duduk bersampingan dengan Lia. Awalnya ia tak merasa curiga namun, entah kenapa sebuah firasat tiba-tiba muncul. Sehingga ia merasa jadi ketakutan.


"Tidak ada apa-apa. Bapak hanya ingin lihat keadaan Lia. Apa sudah sehat atau belum." Tanya Pak Ujang yang mendekati Lia semakin intim bahkan tangannya dengan berani mengelus paha mulus milik Lia.


Perlakuan Pak Ujang kepadanya membuat ia merasa risih. Firasatnya ternyata benar, yang ia takutkan akan terjadi sesuatu yang buruk padanya. Bayangan buruk menghantui pikiran Lia. Jelas saja, Lia sangat ketakutan. Pasalnya, siang itu ia hanya berdua dengan bayinya yang kini tengah tertidur pulas. Sudah begitu, tampak kondisi rumah sangat sepi.

__ADS_1


Mata Pak Ujang menatap Lia dari atas hingga ujung kaki. Tatapannya seperti menelanjangi Lia. Tatapan pun berhenti tatkala melihat salah satu bagian kancing baju yang menutupi bagian dada sudah terbuka. Maklum pada saat itu, Lia baru saja menyusui Lia. Sehingga ia belum sempat membenarkan kembali kancing baju tersebut.


Pak Ujang semakin mendekati Lia dan tangannya semakin berani mengelus kembali paha mulus Lia lagi dan lagi.


"Wah, ada yang tidak beres dengan ini orang. Aku harus punya siasat untuk bisa pergi dari kamar ini dan keluar dari rumah ini." Batin Lia.


"Maaf pak, saya mau ngajak main Maulida dulu keluar." Ungkap Lia sambil membawa anaknya dan melangkahkan kakinya dengan sangat terburu-buru meninggalkan Pak Ujang sendiri di kamar Lia.


"Kan anakmu sedang tidur. Lalu kenapa diajak main. Kasian anakmu mau istirahat." Jawab Pak Ujang sambil tersenyum penuh arti.


Lia hanya menoleh ke belakang sebelum akhirnya benar-benar pergi keluar kamar. Ia tak menggubris apa yang dikatakan Pak Ujang. Yang terpenting dalam pikirannya bahwa ia selamat dari hal-hal yang buruk terjadi.


Pikiran kotor yang sempat menggelayutinya seketika menghilang bersamaan dengan perginya sosok Lia. Pada akhirnya, Pak Ujang pergi keluar dan meninggalkan rumah itu dalam keadaan kosong. Ia sekilas melihat dari arah luar bahwasanya Lia pergi ke rumah kakak ipar lainnya yang letaknya tidak jauh dari rumahnya itu. Ia mengira kalau Lia mengetahui apa yang akan ia lakukan kepadanya. Namun, bukan berarti rencana kali ini gagal. Sebab, masih banyak rencana lainnya dan kesempatan pun masih terbuka lebar.

__ADS_1


__ADS_2