Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Lia Akan Segera Melahirkan


__ADS_3

"Allahu Akbar." Seru imam memberikan aba-aba kepada makmum untuk mengikuti setiap gerakannya.


Lia dan Bu Sulastri di belakang para makmum laki-laki juga turut mengikuti setiap gerakan imam yang sedang melaksanakan sholat jenazah. Baru saja melaksanakan takbir yang pertama tiba-tiba Lia merasakan ada yang mencolek tangannya dari belakang. Entah siapa dalam hati Lia penasaran. Namun, ia kembali untuk tetap khusyu mengingat ia sedang melaksanakan sholat saat ini.


Setelah menyelesaikan sholat jenazah. Lia bertanya kepada Bu Sulastri "Apakah ibu yang baru saja mencolek tangan Lia?"


"Ibu tidak mencolek tangan Lia." Jawabnya.


Lia enggan untuk bertanya lagi sebab, ibu sudah mengatakan tidak. Lalu siapa yang tadi mencolek Lia. Ia melihat ke belakang namun tak ada seorangpun di belakangnya. Lia mencoba berfikir positif meski tadi ia sempat merinding.


Seusai melaksanakan sholat jenazah. Imam kemudian memerintahkan kepada beberapa makmum untuk mengangkat jenazah Pak Mamat untuk segera dikebumikan. Sekitar pukul sebelas siang, jenazah pak Mamat akhirnya selesai dikebumikan. Meski sudah berjanji untuk tidak menangis lagi. Namun, air mata tak mampu ia bendung. Kembali lagi, air matanya berlinang membanjiri seluruh pipinya. Melihat istrinya kembali menangis, Agus mencoba menenangkan dan menghibur istrinya dengan sebuah nasihat "Kamu, pasti kuat. Aku selalu ada untukmu. Bersandarlah kepadaku jika kamu belum kuat. Aku disini akan membuatmu bangkit dari kesedihan ini. Sebab, aku juga pernah mengalaminya. Aku paham betul betapa sedihnya engkau saat ini. Namun, keputusan tuhan lebih baik dan kamu harus percaya itu." Ungkap Agus dengan mode isyarat. Ia usap pipi istrinya yang basah dengan kedua ibu jarinya. Dan mengecup lembut kedua matanya.


Perlakuan Agus kepada Lia seolah memberi kekuatan untuk tegar. Lia seakan-akan merasa bahwa sosok bapaknya ada didalam diri suaminya. Seketika saat itu, walau masih dalam keadaan terisak-isak. Lia mencoba ikhlas dan insyaallah dirinya bisa tegar. Kemudian berdoa kepada sang Khalik "Ya Allah tabahkanlah hati ini, kuatkan diri ini atas kehendak-Mu. Insyaallah ini yang terbaik untuk bapak dan aku."

__ADS_1


Seusai pemakaman, acara dilanjutkan dengan tahlil bersama-sama di rumah. Seluruh keluarga berkumpul untuk mendoakan almarhum Pak Mamat.


Singkat cerita, Lia lalui kehidupannya seperti pada umumnya. Meski masih belum percaya kalau sosok ayah sudah tidak ada lagi disampingnya. Namun, ia mempercayai hal itu sebab, ia tak mendapati sosok ayahnya kembali. Beliau telah pergi selama-lamanya dan tak akan pernah kembali. Hanya kenangannya yang abadi di dalam hatinya.


Begitupun juga dengan Bu Sulastri, sosok suami yang selalu ada di sampingnya kini telah tiada. Tempat ia bernaung kasih dan sayang kini telah hilang. Terlebih lagi, Bu Sulastri menggantungkan hidupnya kepada suaminya. Kini ia harus berjuang sendirian untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Sebab, ia tahu sekarang bahwa tak ada lagi yang dapat diandalkan. Adapun Lia anaknya tak bisa diandalkan sebab, saat ini ia sedang hamil besar.


Tepat dua minggu telah berlalu, Sekitar pukul 3 dini hari. Perut Lia mengalami kontraksi, sepertinya waktunya untuk melahirkan telah tiba. Lia merasakan perutnya sangat mulas sekali. Beberapa kali ia pergi ke toilet.


"Enggak tahu tiba-tiba perutku mulas sekali. Sakit sekali rasanya." Ungkap Lia sambil mengelus perutnya yang besar itu.


"Sepertinya kamu mau melahirkan. Tunggu aku panggil Mamah Ade dulu." Ucap Agus kemudian berlalu pergi meninggalkan Lia sendiri di kamar.


Tok...Tok...Tok...

__ADS_1


Suara pintu diketuk hingga berulang kali. Namun, tak ada seorangpun yang membukakan pintu. Maklum saja di jam-jam segitu pada umumnya orang-orang masih terlelap tidur. Meski begitu, Agus tidak pantang menyerah. Ia kemudian terus menerus mengetuk pintunya lebih keras lagi. Setelah hampir genap sepuluh kali Agus mengetuk pintu. Usahanya ternyata membuahkan hasil. Seseorang membukakan pintu.


"Ada apa Gus, Jam segini ketuk-ketuk pintu?."Tanya Mamah Ade menggunakan bahasa isyarat.


" Itu....Anu...Lia..." Ucap Agus panik.


"Pelan-pelan Agus, mamah tidak mengerti maksud kamu. Sekarang jelaskan perlahan-lahan." Ujarnya.


"Perut Lia terasa sakit. Ayo antar bawa ke dokter atau bidan." Ungkap Agus dengan mode isyarat.


"Aduh, kenapa tidak bilang daritadi. Ayo kita berangkat sekarang. Setahu mamah itu tanda-tanda dia akan segera melahirkan."


"Pak bangun, telepon Abah (Yang dimaksud adalah Pak Ridwan). Bilang ke Abah, telepon Mang Henda suruh kesini untuk bawain mobilnya. Kita harus segera ke bidan. Lia akan melahirkan." Ucapnya dengan jelas kepada suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2