Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Sebuah Permintaan


__ADS_3

Memasuki usia kehamilan ke tiga bulan, Lia tak hentinya merasakan mual yang semakin hari semakin menjadi. Morning sick Ness yang dirasakannya amat begitu parah sehingga di awal kehamilannya ia tidak dapat makan nasi mencium baunya saja ia sudah muntah-muntah.


"Kasihan sekali putri kita yah Bu." Ungkap Pak Mamat tiba-tiba ditengah heningnya malam. Membangunkan Bu Sulastri yang tengah terlelap di sampingnya.


"Kenapa gitu Pak. Ada apa dengan putri kita." Seru Bu Sulastri sambil mengucek matanya yang sedikit lengket.


"Engga tahu, akhir-akhir ini bapak sering kepikiran dengan kondisi Lia yang setiap harinya selalu muntah-muntah akibat hamil muda. Bapak kasian sama Lia. Karena ngidamnya terlalu parah." Jelas Pak Mamat.


"Iya pak. Ibu juga dengar kabar dari putri kita. Makan pun sulit mencium bau nasi saja ia sudah kepayahan. Kalau Bapak memang sangat mengkhawatirkan Lia. Bagaimana jika besok kita mengunjungi Lia disana." Ajak Bu Sulastri.


Pak Mamat tanpa basa-basi mengiyakan ajakan tersebut. Ia sedikit merasa lega. Apalagi mengingat, ia sudah sebulan ini tidak melihat putrinya.


Keesokan harinya, Pak Mamat ditemani Bu Sulastri pergi ke kediaman menantunya itu. Alangkah bahagianya, ia dapat bertemu dengan putri semata wayangnya. Saat bertemu dengan putrinya, ia memeluk erat tubuh Lia. Seakan-akan ia sudah lama tak berjumpa. Bulir bening jatuh membasahi pelipis pria renta itu.

__ADS_1


"Lia, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Pak Mamat kepada Lia sambil mengelus wajah putrinya yang tampak kurus itu.


"Lia, belum baik-baik saja pak. Lia masih belum bisa makan. Yang ada Lia hanya bisa berbaring di tempat tidur seharian bahkan jika perut terasa lapar hanya buah kurma yang dapat mengobati rasa lapar itu." Jelas Lia menerangkan.


"Tapi, bapak sama ibu engga perlu khawatir. Lia dijaga oleh suami Lia yang baik dan penuh pengertian. Ia bisa diandalkan tenang saja pokoknya, mungkin inilah nikmat yang Allah berikan untuk Lia sebagai nikmat mengandung anugrah dari Allah. Insyaallah Lia ikhlas." Pungkasnya kembali.


Mendengar penjelasan dari sang putri rasa kekhawatiran sang Bapak terhadap putrinya jadi hilang. Terlepas daripada itu, Ia juga masih mencemaskan kondisi putrinya. Namun, tidak secemas seperti saat sebelum berjumpa dengan Lia.


Tak lupa, Pak Mamat beserta Bu Sulastri membawa oleh-oleh buah seperti apel, jeruk, dan semangka. Semua itu untuk mencoba menghilangkan morning sick Ness yang dialami Lia. Namun, sungguh disayangkan. Usaha serta upayanya tidak berhasil. Lia tetap mengalami morning sick Ness.


"Boleh, katakanlah. Insyaallah bapak dapat mengabulkannya." seru Pak Mamat menjawab.


"Pak, jikalau anak Lia lahir. Lia ingin sekali bapak yang mengubur tali ari-arinya." Ucap Lia sambil kedua tangannya ia rapatkan sebagai salah satu bentuk ia memohon.

__ADS_1


"Iya. Bapak mau." Ucap Pak Mamat mengiyakan.


Saking gembiranya, ia memeluk sang ayah kembali. Raut wajahnya tampak bahagia sekali. Ia merasa bangga telah memiliki seorang ayah yang baik.


Keesokan harinya, Lia kembali mengalami morning sick Ness. Beruntung, Agus selalu menemani sang istri dikala ia sedang ngidam seperti ini.


Pagi itu, Lia yang masih terbaring di tempat tidur merasakan ada bayangan hitam yang baru saja lewat dihadapannya. Sehingga ia terkejut dan langsung bergegas mencari bayangan itu. Namun, upayanya tidak membuahkan hasil. Yang ia lihat hanya sebuah plastik yang terjatuh akibat seekor cicak yang sedang bergelut dengan kecoa.


Agus yang melihat tingkah laku sang istri yang aneh mencoba menghampiri nya dan berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi. Kenapa ia tampak linglung seperti orang yang kebingungan.


Dengan mode isyarat ia bertanya " Sedang apa kau disana?"


" Aku barusan lihat ada bayangan hitam yang melintas di depanku." Jawab Lia dengan mode isyarat juga.

__ADS_1


"Siapa?" tanyanya lagi.


Sang istri hanya mengangkat pundaknya ke atas memberitahu kalau ia juga tak tahu. Siapa dan kenapa bayangan itu ada.


__ADS_2