
Setelah menutup pintu, Lia merasa ada seseorang yang sedang memantau gerak-geriknya. Lia curiga saat ia memeriksa keluar rumah dengan sembunyi-sembunyi ada yang masuk tanpa sepengetahuannya.
Lia terperangah melihat sosok yang melintas didepannya dikala ia menoleh ke belakang . Entah siapa tapi yang jelas itu terlihat sesosok seorang laki-laki. Dengan memberanikan diri, Lia mengikuti sosok tersebut. Sebelumnya, ia memungut benda panjang bertangkai yang sering digunakan para ibu rumah tangga untuk membersihkan lantai dari sampah.
"Bismillahirrahmanirrahim. Lindungi aku Ya Allah." Ucap Lia sebelum ia melanjutkan pencarian sosok laki-laki yang dicurigainya ingin berbuat jahat kepadanya.
Perlahan-lahan tapi pasti. Ia melewati ruang tengah sambil berjinjit agar tidak ketahuan oleh sosok laki-laki itu. Ia ingin sekali menangkap basah apa yang ingin dilakukannya di rumahnya tersebut.
Lagi-lagi laki-laki itu berhasil bersembunyi dan enggan sekali menampakkan dirinya kepada Lia.
Merasa kesal bermain petak umpet terus. Akhirnya Lia berteriak memberikan sebuah kesempatan untuk pria itu agar menunjukkan jati dirinya dengan sebuah gertakan akan melaporkannya kepada warga jikalau tidak menampakkan diri secepatnya.
Dari kejauhan, tampak seorang laki-laki yang tengah bersembunyi dibalik pintu salah satu kamar dan sedang memerhatikan gerak-gerik Lia. Entah bagaimana caranya, sehingga laki-laki tersebut sudah ada di belakang Lia. Tanpa sempat menoleh ke belakang Lia kini sudah berada di dalam kendali laki-laki itu. Tangan sebelah kiri laki-laki itu dipergunakannya untuk menyekap mulut Lia sementara tangan sebelah kanan ia pergunakan untuk mengunci pergerakan tangan Lia yang berupaya untuk membela diri serta melepaskan dirinya dari tangan laki-laki itu. Namun, sekuat-kuatnya tenaga milik seorang perempuan tidak bisa dibandingkan dengan tenaganya seorang pria. Apalah daya, Lia tidak mampu membela dirinya sendiri. Alhasil, ia hanya bisa menangis ketakutan.
Dalam batin ia berkata " Ya Allah, selamatkanlah aku dan juga anakku."
__ADS_1
"Aku harus bisa melepaskan diri darinya."Gumamnya dalam hati.
Dengan sekuat tenaga Lia memberontak. Benda yang berada di tangannya ia gunakan untuk memukul pria itu. Dalam seketika posisi kendali berubah berbalik kali ini pria itu yang terancam.
"Hah..." Lia menganga terkejut sekali. Betapa tidak ia merasa tak percaya melihat orang yang sekarang berada di hadapannya adalah Pak Ujang. Kakak ipar yang dihormati akan gelarnya sebagai ustadz serta ketua DKM masjid di daerahnya bisa melakukan hal senekad ini.
"Bapak, sudah keterlaluan kali ini. Apa yang bapak lakukan dan inginkan dari saya?"
"Sehingga bapak nekad berbuat seperti ini." Tanya Lia dengan sedikit berteriak dan mengarahkan sapu yang ia pegangi ke arah pria bertubuh tinggi kurus itu.
"Tenang...Tenang..." Ucap Pak Ujang dengan memberikan kode untuk tidak berteriak dengan posisi jari telunjuknya mengapit mulutnya membentuk angka satu.
"TIDAK, saya tidak akan tenang sebelum bapak memberikan penjelasan atas semua ini setelah itu saya minta agar bapak bisa pergi dari rumah ini secepatnya." Ucap Lia nafasnya semakin memburu emosinya semakin naik.
"Bapak, tidak ada maksud apa-apa. Bapak hanya ingin menemani Lia yang sendirian di rumah ini. Apalagi malam ini begitu dingin. Iya kan." Ucap Pak Ujang dan mengedipkan sebelah matanya. Seakan menggoda Lia. Tapi, Lia tak tergoda sedikitpun bahkan ia merasa jijik akan ucapan kakak iparnya itu. Seolah dirinya seakan-akan dilecehkan, meskipun hanya berbentuk ucapan saja.
__ADS_1
"Bapak kira saya wanita apa hah..."
"Asal bapak tau, meskipun malam ini dingin sepi dan sendirian bagi saya pribadi itu tidak apa-apa. Saya bukan wanita murahan seperti yang bapak pikirkan."
"Dasar, tidak tau malu. Pikiran macam apa yang merasuk ke jiwa bapak sampai bapak mengira kalau saya perempuan senista itu. Dan lagi, harusnya bapak ingat kalau bapak ini orang yang paling disegani di daerah ini. Selain ketua DKM bapak juga sebagai ustadz. Mau ditaruh dimana harga diri bapak sebagai seorang yang disegani dan dihormati jika kelakuan bapak seperti ini. Saya kira bapak itu alim. Nyatanya sungguh bobrok." Jelas Lia menohok.
Mendengar kata-kata pedas yang dikeluarkan oleh Lia membuat Pak Ujang sedikit kesal dan marah. Tanpa ba bi bu lagi, Pak Ujang mendekati Lia yang masih dalam posisi menyerang. Tak butuh waktu berapa lama Lia kembali dalam posisi terancam. Benda sapu yang ia gunakan sebagai tongkat untuk memukul pria itu kini sudah terjatuh dan tak lagi berada dalam genggamannya. Kini Lia di dorong ke sebuah kamar kosong sebelah kamar peraduan tempat Agus dan Lia memadu kasih.
"Tolong... Tolong... Hiks..." Lia berusaha meminta pertolongan namun ucapannya tercekat. Tangan Pak Ujang sudah lebih dulu membekap mulut Lia.
Tubuh Lia kini sudah berada di atas sebuah ranjang tua. Kali ini Lia tak dapat memberontak sebab, tubuhnya ditindih oleh tubuh pria tua itu. Meski sudah tua namun tenaga serta energinya masih sekuat tenaga seorang pemuda. Lia hanya bisa menangis, air matanya kini keluar melimpah ruah dari bola matanya. Ia merasa takut. Tubuhnya mendadak gemetar kian tak karuan. Apalagi disaat pria bertubuh tinggi itu membuka pakaiannya. Satu persatu kancing bajunya ia lepas dan disaksikan secara langsung oleh Lia.
"Ya Allah bagaimana ini. Apa yang mesti aku lakukan. Tolonglah hambaMu ini." Seuntai doa mengukir dihati.
"Kamu, jangan takut Lia. Kamu akan bersenang-senang malam ini."
__ADS_1
Lia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Memberikan kode kepada pria itu untuk tidak melakukan aksi bejadnya. Lia memberikan tatapan memelas agar pria itu dapat mengasihaninya. Namun, Pak Ujang tidak memperdulikannya ia tetap melakukan aksinya.