Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
1:1000


__ADS_3

Sekitar satu jam lamanya perjalanan Lia beserta keluarga Pak Ridwan kini telah sampai di tempat tujuannya. Lia turun dari mobil dan berdiri tepat di depan sebuah gedung bertuliskan Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kakinya seakan berat untuk melangkah dan enggan untuk berpindah dari tempat ia berdiri. Hal itu dikarenakan karena Lia takut menghadapi kenyataan yang akan terjadi kepada ayahnya.


Agus yang melihat istrinya ketakutan mencoba menenangkannya dan mengajaknya untuk selalu berpikir positif. Agus meraih lengan istrinya dan menggenggamnya. Merekapun melangkahkan kakinya bersama untuk masuk ke IGD sementara Pak Ridwan dan ketiga kakak iparnya membuntutinya dari belakang.


"Bismillah." Ucap Lia dalam hati.


Ia mencari sosok Bu Sulastri dari setiap sudut ruangan tak mendapati apa yang di cari. Ia beralih ke ruang pendaftaran dan menanyakan perihal dimana bapaknya di rawat.


Salah seorang pegawai yang bertugas dibagian pendaftaran kemudian mencari data pasien yang baru saja disebutkan oleh Lia.


"Pasien atas nama Bapak Mamat yang baru masuk ada di ruang IGD nomor 9."


"Terimakasih Bu." ucap Lia kemudian mencari ruangan yang disebut tadi oleh petugas pendaftaran.


Sebuah ruangan bertuliskan Nomor 9 kini berhasil ditemukannya tapi saat membuka ruangan tersebut tak mendapati sosok sang bapak dan ibunya. Ruangan itu kosong "Kemana sebenarnya."Tanya Lia dalam hati.


Karena tak sabar ingin melihat keadaan sang ayah ia kemudian bertanya kepada petugas rumah sakit yang lainnya.


"Pak, maaf saya mau bertanya. Pasien atas nama Bapak Mamat yang ada di ruangan nomor 9 kemana yah?" Tanyanya.


"Oh pasien Pak Mamat baru saja pergi ke ruang CT Scan. Untuk menjalani pemeriksaan secara menyeluruh dibagian kepalanya." Jawab sang petugas.


"Oh iya terima kasih. Lalu bisa tolong tunjukkan dimana ruang pemeriksaan CT Scan nya." Pinta Lia pada petugas.


"Kakak, tinggal pergi ke arah sana kemudian belok ke kanan disanalah ruangan CT Scan nya." Tutur seorang petugas rumah sakit yang terlihat dari bajunya seperti seorang suster.

__ADS_1


"Terimakasih ya Bu." Ucap Lia sambil manggut-manggut.


Sebelum sampai ke tempat yang dituju. Sebuah brankar dorong yang berpapasan melintas di depan mata Lia membuat Lia tercengang dan terbelalak kaget setelah melihat orang yang berada di brankar itu ternyata adalah ayahnya. Sang ibunda juga tak menyadari kalau sang putri ada di depan matanya. Ia melewatinya begitu saja tanpa menoleh siapa yang berada di hadapannya.


"Bu." Panggil Lia.


Menyadari ada yang memanggilnya. Sang ibunda menoleh ke belakang.


"Lia." Seru Bu Sulastri dengan suara yang amat berat.


Lia menghampiri ibunya dan memeluknya.


"Ibu yang sabar yah." Ungkap Pak Ridwan sambil mengelus punggung Bu Sulastri dengan lembut.


"Tidak apa-apa Bu."Ungkap Kak Suparman.


"Bagaimana Bu, keadaan Pak Mamat?" Pak Ridwan.


"Saya, juga belum tahu Pak keadaan suami saya. Yang pasti dia baru saja diperiksa secara keseluruhan tadi melalui CT Scan." Jelas Bu Sulastri.


"Bu, Bapak kenapa bisa jadi begini. Memangnya Bapak sakit apa Bu?." Tanya Lia.


"Prediksi dokter tadi pas datang kesini katanya Bapak menderita hipertensi. Sampai saat ini bapak belum juga sadar. Ibu khawatir terjadi apa-apa. Sebelum bapakmu tak sadarkan diri dia selalu menanyakan kapan Lia akan melahirkan." Tutur Bu Sulastri.


Melihat kondisi Pak Mamat yang terbaring lemah dan tak berdaya. Lia dan ibunya menangis tersedu-sedu. Keduanya tak bisa menahan pilu yang mereka tengah hadapi. Tangis pun pecah suasana hening ruang IGD seolah ramai dengan nada tangisan mereka.

__ADS_1


"Lia mendingan ajak Ibu buat mendoakan Bapak atau berdzikir bersama-sama. Kita doakan yang terbaik untuk bapak." Ajak Mamah Ade kepada Lia.


Lia seolah mendapat pencerahan. Ajakan Mamah Ade akhirnya disetujuinya. Dipimpin oleh Kak Dadang Merekapun bersama-sama memanjatkan doa kepada Sang Khalik untuk kesembuhan Pak Mamat.


Tak berapa lama, seorang pria berjubah putih lengkap dengan Stetoskop yang menggantung di lehernya memanggil Bu Sulastri. Seluruh keluarga Pak Mamat dimintai untuk hadir ke ruangannya.


Setelah semuanya berkumpul, Dokter Andi sesuai dengan nama yang ada dalam name tag yang menggantung di saku jasnya mencoba menjelaskan kondisi pisik pak Mamat saat ini.


"Kenyatan pahit ini memang harus disampaikan meskipun sangat menyakitkan. Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh anggota keluarga Pak Mamat. Saya sebagai seorang dokter harus menyampaikan berita buruk ini kepada semuanya." Ungkap Dokter Andi memberikan ancang-ancang.


"Berita buruk apa Pak dokter?" Tanya Lia.


"Sesuai dari hasil pemeriksaan CT Scan tadi. Kondisi Pasien saat ini kritis alias koma. Kondisinya sangat buruk. Ibu bisa lihat di dalam gambar ini." Ucap Dokter Andi sambil menunjukkan titik mana yang mesti dilihat dalam hasil CT Scan.


Semuanya ikut melihat. Kemana arah telunjuk sang dokter.


"Ini adalah batang otak yang mengatur dan mengontrol berbagai organ dan anggota gerak tubuh. Batang otak terletak tepat di atas tulang belakang dan di bagian belakang kepala. Salah satu organ vital pada tubuh manusia ini berfungsi untuk membawa dan menyampaikan sinyal dari otak ke seluruh bagian tubuh. Pasien telah mengalami stroke Batang otak dan seluruh pembuluh darahnya pecah. Sehingga pasien kehilangan kesadarannya. Bagian yang lebih buruknya lagi, pasien tidak dapat diselamatkan meskipun operasi dilakukan. Perbandingannya sangat kecil yakni 1:1000. Akan tetapi, kami sebagai seorang dokter akan merawat pasien dengan baik. Untuk itu saya memohon untuk keluarganya memberikan tanda tangannya disini. Untuk pasien dipindahkan ke ruang ICU. Jikalau terjadi hal-hal yang buruk seperti sifatnya pasien mengalami penurunan tingkat kesadaran atau pasien sulit bernafas maka tim kami akan mengambil tindakan dengan memasang alat bantu pernapasan langsung ke paru-paru pasien." Jelasnya.


"Itu berarti bapak saya tidak bisa sembuh pak Dokter?" tanya Lia.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, kemungkinannya itu sangat kecil. Hanya keajaiban Allah SWT yang mampu memberikan kesembuhan untuk bapak anda." Jawab Dokter Andi.


Bak ditusuk duri yang sangat tajam, mendengar penjelasan dari Dokter Andi membuat Bu Sulastri dan Lia sangat terpukul amat luar biasa. Tiap tetes air mata yang dikeluarkan oleh keduanya adalah bentuk rasa sayang dan cinta kepada Pak Mamat. Bukti jikalau mereka tak rela melihat Pak Mamat berbaring tiada berdaya.


Agus menghampiri sang istri. Kemudian diraihnya dan membawanya kedalam dekapannya. Ia menghapus air mata sang istri dengan kedua ibu jarinya. Dan mengisyaratkan sesuatu yakni tak baik menangisi seseorang yang sedang berbaring lemah. Pantasnya bagi kita mendoakannya dan memberikan hadiah untuk mereka dengan cara mengaji dan berzikir. Lia menangis dalam dekapan sang suami. Sekali lagi mata Lia terlihat menatap sang ayah dengan tatapan yang nanar dan membisu seribu bahasa. Dalam hati, ia berkata "Pak, Lia mohon maaf sama bapak belum bisa jadi anak yang Solehah, belum bisa membahagiakan bapak dan belum bisa memberikan segalanya untuk bapak. Pak, jangan tinggalin Lia sendiri disini Pak. Lia mohon."

__ADS_1


__ADS_2