
"Sayangku kau dimana?." Teriak Dika memenuhi segala penjuru rumah.
"Apaan sih Dika, teriak-teriak malu tahu kalau kedengaran sama tetangga yang lain disangka kita sedang ribut." Terang Winda melangkahkan kakinya menghampiri suaminya itu.
Dika tiba-tiba memeluk Winda. Sang istri tentu saja tampak heran ada apa sebenarnya. Sikapnya seolah berubah seratus delapan puluh derajat. Winda merasa perubahan sikap Dika begitu drastis apalagi semenjak melakukan malam pertama dengannya. Dia menjadi lebih manja dan sikapnya sangat romantis tidak seperti dulu.
"Ada apa sebenarnya Dika kenapa tiba-tiba kau memelukku?." Tanya Winda menyelidik.
"Aku hanya ingin memelukmu sayang. Masa engga boleh. Lagian nih kita itu sudah resmi mau peluk atau ciuman juga engga perlu khawatir hukumnya kan halal bukan haram." Terang Dika.
"Tapi kan maksudku bukan seperti itu...." ucap Winda terhenti. Sebuah kecupan mendarat dengan sangat mulus tepat di bibir ranum miliknya dan juga milik dirinya.
Winda tercengang mendapatkan kecupan tersebut dan tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia hanya terdiam mendapati kecupan yang semakin kesini semakin memanas. Dika tanpanya dengan sengaja memancing hasrat Winda dengan mencumbunya lebih dalam lagi. Winda yang tak ingin kalah pun ikut membalas ciumannya itu. Dan suasana kian memanas akhirnya Winda dibawa ke kamar oleh Dika.
Direbahkannya tubuh Winda secara perlahan-lahan dan Dika kembali mencumbuinya dengan sangat bergairah dan agresif. Winda tak hentinya mendesah mendapatkan sentuhan dari Dika yang memabukkan hati dan pikirannya. Setelah permainan semakin panas, akhirnya Dika kembali melakukan penyatuan. Bahkan Dika sampai melakukannya berulang kali. Ia merasa candu terhadap Winda.
Tentunya, bukan hanya karena hasrat biologis semata yang ingin didapatkan oleh Dika tetapi ia mencoba untuk membuka hatinya untuk Winda. Maka sepenuhnya ia lakukan dengan ikhlas dan belajar mencintai Winda. Meski memang tak mudah melupakan Lia. Tapi, semuanya bisa terjadi apapun itu jika Ia sudah berkehendak.
__ADS_1
Dika duduk bersandar ditepi ranjangnya dengan posisi istrinya yang masih tak beranjak dari tempat tidurnya. Sambil mengusap lembut wajah istrinya itu ia berkata "Sayang makasih yah sudah mau jadi istriku."Ungkapnya.
"Iya Dika sama-sama. Seharusnya tidak perlu berterima kasih. Malah harusnya aku yang terimakasih sudah mau menjadikanku istrimu." Tutur Winda.
"Aku berterimakasih karena kaulah wanita satu-satunya yang bisa kupercayai bahwa aku dapat membuka hati ini kembali." Ungkapnya.
"Iya Dika." Balas Winda singkat.
Dalam hati ia berkata "mungkinkah dia dapat melupakan Lia. Aku harap itu benar dan perkataannya saat ini bisa dipercaya."
Muachhhh... Kembali Dika mengecup bibir indah milik Winda.
Winda hanya membalasnya dengan senyuman yang mengembang. Baginya ia sudah bahagia diperlakukan layaknya seorang putri. Keduanya pun tertidur pulas.
Ting...Suara notifikasi berdering di salah satu aplikasi ponsel milik Dika. Dika terbangun dan meraih ponselnya. Ia bergegas melihat pemberitahuan apa hingga ponselnya berdering. Ketika ia mengklik aplikasi tersebut terpampang jelas baru saja Lia memperbaharui statusnya di salah satu akun media sosial. Isi statusnya seperti sedang galau dan sedih.
Dika tentu saja penasaran ia pun berinisiatif mencari tahu. Ia mengetikkan beberapa kata untuk dikirimnya melalui kolom kometar. Kebetulan pada saat itu, Lia tengah aktif. Dan betul saja pesannya dibalas oleh Lia melalui pesan pribadi.
__ADS_1
"Dika, maaf ya ini hanya sebagian kecil isi hatiku saat ini." Ungkap Lia.
"Iya, kamu kenapa Lia coba ceritakan ada masalah apa. Kamu dapat curhat sama aku. Aku kan sahabatmu. Masih ingat kan." ungkap Dika mengingatkan.
"Engga ah, rasanya engga pantas jika harus bercerita kepadamu."
"Engga apa apa kok, aku engga keberatan. Malahan ya aku ingin membantu kamu. Siapa tahu aku bisa bantu."
Susah payah Dika membujuk agar Lia bercerita akhirnya Lia mau bercerita. Ia menceritakan segala keluh kesahnya tentang bapak mertuanya yang telah melukai hatinya itu.
Tak terasa, Dua puluh lima menit telah berlalu. Saking asyiknya Dika bercakap-cakap dengan Lia hingga lupa waktu. Winda menggeliat badannya ia lenturkan kesana kemari. Melihat di tepi ranjang suaminya telah terbangun dan sedang mengotak- atik ponselnya.
".Dika, sedang apa kamu." tanya Winda.
"Engga aku cuma lihat pesan masuk aja siapa tahu ada yang penting." Balas Dika berbohong.
" Oh..." Celoteh Winda singkat.
__ADS_1
Dalam hati berkata " Pasti lagi chatingan sama Lia. Tapi gak apa apa insyaallah aku kuat." Tuturnya