Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Malam Pertama


__ADS_3

Apa yang paling bahagia bagi seorang pengantin tentu saja jawabannya adalah menjadi pengantin bagi orang yang kita cintai dan sayangi. Selain itu, malam pertama bagi pengantin baru merupakan moment yang paling ditunggu. Menurut survei yang dilakukan banyak diantaranya mengatakan jika "Malam Pertama" merupakan malam yang wajib untuk dilalui setiap pengantin baru. Kini saatnya bagi pengantin baru khususnya Lia dan Agus harus melewati malam pertama tersebut.


Berbicara tentang malam pertama, Lia dan Agus yang masih polos satu sama lain tidaklah tahu menahu apa yang mesti dilakukan pada saat malam pertama. Akan tetapi, Agus seolah ingat pesan dari kakak pertamanya Ka Dadang mengatakan sesuatu yang sangat intens, intim dan dekat. Seolah kembali ke dalam ingatan tadi sore saat Agus sedang bercengkrama dengan saudaranya.


Sore itu, Ka Dadang memperagakan suatu gaya melalui tangannya. Seolah tangan yang satu dan lainnya merupakan sepasang kekasih yang saling berpelukan dan berciuman. Memadu kasih dan bercumbu.


Dikala itu, wajah Agus tampak memerah karena malu. Seakan-akan Agus mengerti apa yang disampaikan oleh Ka Dadang.


Kembali dimana Agus dan Lia. Ia nampak kebingungan bagaimana cara memulainya agar suasananya tidak secanggung ini. Bagaimana tidak, Agus dan Lia sudah sejam lalu mereka berada di kamar tapi tidak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraan.

__ADS_1


Mula-mula Agus mendekati Lia dan mengajaknya untuk tidur bersamanya. Lia yang juga begitu polos pun mengikuti jejak Agus untuk segera tidur. Kini mereka sudah berada di atas tempat tidur. Memakai selimut yang sama dan tidur seranjang dengan pria yang baru saja dikenal nampaknya membuat Lia sedikit gugup. Jantungnya berdegup sangat cepat tatkala seperti sedang memainkan sebuah melodi. Begitu bergemuruh sampai rasanya seperti ada sesuatu yang hendak keluar dari tubuhnya. Akibatnya membuat Lia sesak nafas. Agus yang melihat kondisi Lia sedang tidak baik baik saja berinisiatif memeriksa keadaannya.


Dan ternyata badan Lia sedikit demam dan tubuhnya ikut menggigil bersamaan dengan cuaca malam yang sangat dingin disebabkan hujan yang turun sejak ba'da isya tadi.


"Bagaimana ini? Apa yang mesti aku lakukan?." batin Agus khawatir terjadi apa-apa kepada istrinya.


"Mudah-mudahan cara ini berhasil." batin Agus.


"Mungkin dia kecapean kali setelah seharian berdiri di pelaminan." Batinnya lagi sambil mengompres Lia.

__ADS_1


Lia yang masih belum terpejam terus menerus memperhatikan gerak gerik suaminya itu.


"Dia ternyata begitu amat memperdulikanku. Padahal dia baru saja mengenalku sekitar beberapa hari yang lalu." batin Lia seolah ia tersentuh dengan apa yang dilakukan suaminya dikala ia sedang sakit.


...Tiba-tiba tubuh Lia semakin menggigil kedinginan. Padahal Agus sudah memberikan obat Paracetamol untuknya beserta air hangat. Tapi nampaknya belum ada reaksi apapun. Agus pun memakaikan selimut double pada Lia tapi badannya terus saja menggigil....


"Tidak ada cara lain lagi selain ini." batin Agus kembali seolah mengetahui cara yang paling jitu untuk menghilangkan rasa menggigil Lia.


Satu persatu kancing piyama yang dikenakan oleh Lia dilepaskan oleh Agus. Begitupun dengan pakaiannya ia tanggali semuanya. Ia memeluk Lia dengan erat. Kini keduanya pun saling memadu kasih. Malam itu mereka melakukan selayaknya hubungan suami-isteri. Rasa menggigil yang merajam tubuh Lia pun sudah hilang bersamaan dengan itu iapun mengeluarkan keringat yang sangat deras karena aktivitas mereka tadi malam sebagian juga karena efek obat yang ia minum tadi. Keduanya pun tertidur sangat lelap.

__ADS_1


__ADS_2