
Satu hal yang paling ditakutkan dalam sebuah hubungan pernikahan adalah perceraian. Tak ada pasangan suami istri yang ingin bercerai. Sebelum melangsungkan pernikahan, keinginan untuk hidup bersama selamanya, menjadi tujuan yang ingin digapai berdua.
Mungkin kata-kata bijak seperti diatas berlaku untuk pasangan yang menikah atas dasar cinta suka sama suka.
"Berpisah."Kata-kata itu terus terngiang-ngiang dikepala Lia seolah mendapat penekanan karena tak terima hal itu harus terjadi.
Mungkin saat ini keadaannya begitu rumit. Ia menjadi gundah gulana ketika memikirkan soal perceraian. Apakah ini harus terjadi atau tidak?. Itulah pertanyaan yang selalu ia ulangi disetiap doa sepertiga malamnya berharap mencari jawaban yang terbaik untuk masalah yang ia hadapi.
Mungkin saja dari sudut pandang orang, perceraian itu tentu saja wajar terjadi karena hubungan Lia dan Agus hanya sekedar dijodohkan. Pantas jikalau ada salah satu pihak yang merasa ketidakcocokan. Akan tetapi jika dilihat dari sudut pandang agama. Perceraian merupakan hal yang dibenci oleh Allah SWT. Awalnya memang dijodohkan tetapi sebuah pernikahan mutlak ikatan janji suci dan sakral sekali tidak untuk dipermainkan.
Kriiinggg... Kriiinggg... Kriiinggg... Suara telepon berdering.
"Assalamualaikum pak..."
"Wa'alaikum salam. Eh Pak Mamat ada apa nelepon pagi-pagi sekali."
"Ada yang perlu saya bicarakan pak. Ini penting sekali. Ini mengenai rumah tangga anak kita."
"Maksud pak Mamat ini bagaimana?." tanya Pak Ridwan tak mengerti.
"Nanti saya jelaskan secara rincinya. Saya tunggu kedatangan Bapak kesini." undang Pak Mamat.
"Oh... Kebetulan saya sedang ada tamu di rumah." Tutur Pak Ridwan dengan santainya.
"Oke kalau begitu biar saya yang datang kesana." ucap Pak Mamat.
-"-
__ADS_1
Breem...breem... breem...Suara sepeda motor Pak Mamat berderu di depan halaman rumah Pak Ridwan. Kedatangannya telah diketahui oleh Pak Ridwan.
"Bu, kesini dulu sebentar!." Perintah Pak Ridwan kepada Bu Hajar yang sedang sibuk mencuci piring.
"Iya pak." Segera Bu Hajar memenuhi panggilan suaminya.
"Bu, Pak Mamat sudah sampai kesini. Tolong Ibu temui dia dan memohon untuk tunggu diruang sebelah. Bapak kan sekarang lagi ada tamu. Nanti Bapak temui dia setelah tamu ini pergi." Titahnya.
Ia pun mengerti dan segera melaksanakan perintah dari suaminya itu.
"Assalamualaikum." sapa Pak Mamat.
"Wa'alaikum salam pak. Kata bapak disuruh tunggu di ruang sebelah. Nanti setelah tamu itu pergi bapak akan menemui Pak Mamat." titah Bu Hajar sesuai dengan perkataan suaminya.
Pak Mamat tidak keberatan untuk menunggu sebagai seorang tamu dia harus tetap mengutamakan tata tertib bertamu meskipun di dalam hatinya tersimpan amarah yang sangat besar.
"Maaf Ya Pak sudah lama menunggu." Sapa Pak Ridwan sambil bersalaman.
"Sedang sibuk ya Pak. Banyak sekali tamu yang datang rupanya." Ucap Pak Mamat basa-basi.
"Engga juga pak."Timpal Pak Ridwan singkat.
"Jadi langsung saja bahas persoalan anak-anak kita." Ucap Pak Mamat tegas.
Pak Ridwan juga tidak keberatan. Ia mengangguk dan mempersilahkan Pak Mamat untuk memulai pembicaraan dari pokok permasalahannya.
"Saya ingin bapak menandatangani surat ini."Ujar Pak Mamat menyodorkan selembar kertas.
__ADS_1
"Kertas apa ini?." Tanya Pak Ridwan.
Ia pun menelisik dan membacanya dengan seksama.
"Astagfirullah." Ucap Pak Ridwan kaget setelah membaca surat itu.
"Ada apa ini pak. Kenapa tiba-tiba bapak kesini dan menggugat anak saya untuk bercerai dengan istrinya. Apa kesalahan putra saya. Tolong jelaskan ini pak!." pinta Pak Ridwan.
Pak Mamat pun menjelaskan sesuai dengan apa yang diceritakan putrinya. Ia juga mengatakan tak terima jikalau putrinya dinafkahi oleh bapak mertuanya. Sebab, suatu saat nanti kita tak akan pernah tahu usia seseorang. Takutnya tiba-tiba bapak mertuanya meninggal otomatis siapa yang akan menafkahi anaknya. Sementara menantunya tidak bisa bekerja. Apalagi mengingat usia Pak Ridwan yang kini tidak muda lagi.
Pak Ridwan tidak bergeming sama sekali. Ia mempelajari secara seksama dan mengartikan penjelasan Pak Mamat dengan detail.
"Bapak tidak perlu khawatir." Celoteh pak Ridwan membuka suara.
"Bagaimana bapak bisa sesantai itu." Ucap Pak Mamat tak terima.
" Memang putra saya tidak dapat bekerja seperti orang normal biasanya. Tapi saya sudah mengelola sawah peninggalan kakeknya yang sebentar lagi akan pindah kepemilikannya kepada putra saya. Putri bapak tidak akan kelaparan. Saya juga sudah merencanakan untuk usahanya agar bisa mendapatkan uang. Yaitu dengan membangun sebuah kontrakan yang akan disewakan kepada yang membutuhkan. Maka setiap bulan akan selalu ada pemasukan buat kebutuhan sehari-harinya. Jikalau masih kurang ada kolam ikan di samping rumah Putra saya. Sesekali dia bisa memancingkan ikan sebagai lauk pauknya. "Tutur Pak Ridwan panjang lebar.
"Selain itu, putra saya kan juga memiliki banyak saudara. Saudara-saudara putra saya tidak akan membiarkan adiknya dalam kesusahan." Pungkasnya.
"Saya gak bisa mempercayai omongan Bapak. Sebelum semuanya terlambat mari kita selesaikan saja." Ungkap Pak Mamat dengan tegas.
"Astagfirullah, coba dipikirkan kembali Pak. Urusan perceraian saya pasrahkan kepada anak-anak kita. Setuju atau tidaknya itu tergantung dari keputusan mereka." ujar Pak Ridwan pasrah.
Pak Ridwan kembali memberi perintah kepada istrinya untuk segera memanggil Putra dan menantunya kehadapannya. Ia pun bergegas melenggangkan kakinya menuju kediaman sang pengantin baru itu.
Singkat cerita. Kini Agus dan Lia dihadapkan dengan pilihannya masing-masing. Lia dengan berat hati menyetujui perceraian tersebut. Dengan sekuat tenaga ia mencoba berlapang dada meski kini dadanya tengah sesak sekali atas keputusannya yang membuat dirinya enggan untuk berbicara apa-apa lagi. Rasanya sakit sekali melebihi sakitnya patah hati karena diputusin sama sang pujaan hati. Sementara Agus tak bergeming sedikitpun. Ia syok dan tak terima kenapa disaat ia sudah jatuh cinta keadaan memaksanya untuk berpisah dengan wanita yang ia cintai. Tanpa disadari bulir-bulir bening membasahi pipi wajah pria yang kurus itu. Hatinya terluka sama persis saat dimana ia ditinggalkan oleh ibunda tercintanya.
__ADS_1
"Ya Allah, aku tak tega melihat pria yang sudah sebulan tinggal bersamaku menangis. Ya Allah kuatkan aku kuatkan juga dia. Akulah yang bersalah tak seharusnya aku mengadukan segala keluh kesah ku tentang masalah rumah tanggaku kepada keluargaku. Inilah yang terjadi. Aku sudah bersalah dan berdosa. Padahal ia begitu tulus mencintaiku. Aku mengetahui itu karena melihat dari sikap dan perhatiannya kepadaku. Aku juga tak tahu perasaan apa yang sedang menjalari hatiku. Kenapa sesakit ini. Ya Allah ampunilah aku." Batin Lia berdoa dalam hati.