Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Rahasia


__ADS_3

Lia lari terbirit-birit meninggalkan rumah sambil membawa si kecil Maulida. Langkahnya membawa keduanya pergi ke tempat kakak ipar yang kedua.


Tok...Tok...Tok...


"Kak Rahma." Panggil Lia dari luar.


"Iya, ada apa dengan kamu Lia."Tanya Kak Rahma setelah membukakan pintu untuknya.


"Aku boleh main dulu di rumah kakak yah. Di rumah sepi, aku takut sekali." Ungkap Lia dengan nafas terengah-engah.


"Yok... masuk aja atuh. Lagian Disini juga engga ada siapa-siapa. Anakku belum pulang dari sekolah." Ucap Kak Rahma dan mempersilahkan masuk Lia ke dalam.


"Duh, Anaknya malah tidur diajak main teh." Ucap Kak Rahma melihat Maulida dalam pangkuan Lia.


"Iya Kak, maklum malamnya kan habis begadang. Makanya sekarang dia itu kelelahan terus tidurnya lelap."


"Pasti, awal-awal kalau punya bayi tuh repotnya minta ampun. Terlebih lagi, pada saat malam hari mereka terkadang suka terbangun dan susah untuk tidur kembali. Malah ngajakin main."


"Iya betul sekali kak. Tapi, Alhamdulillah selama ayahnya di rawat paling dia bangun cuma minta susu aja terus tidur lagi."


"Baik juga yah, anakmu. Mengerti akan keadaan ibunya yang lagi repot."


"Alhamdulillah mudah mudahan jadi anak yang Solehah."

__ADS_1


"Aamiin Kak."


"Eh ngomong-ngomong tadi kenapa kamu kaya ngos-ngosan pas kesini. Memangnya ada apa?" Tanya Kak Rahma ingin tahu.


"Sut..." Jari telunjuk Lia menyentuh bibirnya sendiri memberikan aba-aba agar tidak memberitahu kepada siapa-siapa sebab ini adalah rahasia.


"Ada apa?." Tanya Kak Rahma kembali.


" Jadi begini kak, aku makanya ke rumah kakak bukan karena takut sendirian. Sebab, sejak beberapa hari yang lalu juga aku sering berada di rumah sendiri tapi tak merasa takut. Semua ini karena ulah Pak Ujang Suami mamah Ade. Aku takut sama dia, kak."


"Memangnya kenapa dengan Pak Ujang?."


"Begini kak, tadi dia samperin aku disaat posisiku sedang bersama anakku saja. Terus dia dengan berani mengelus pahaku dan matanya seolah menelanjangiku seperti ingin berbuat jahat kepadaku. Aku takut kak terjadi sesuatu. Makanya aku berinisiatif pergi dari rumah dan meninggalkan dirinya sendiri di rumahku."


"Tapi kak. Aku mohon jangan kasih tahu kepada Mamah Ade soal suaminya itu. Aku takut nanti dia kecewa sama suaminya dan juga aku kalau aku nantinya yang difitnah sudah menggoda dirinya." Jelas Lia.


Ternyata banyak sekali orang yang bisa tertipu dari penampilan rupanya. Orang terpandang seperti Pak Ujang yang dikenal sebagai anggota keluarga ustadz plus dia juga salah seorang DKM masjid di lingkungannya bisa berbuat demikian.


Kak Rahma pun mengerti dan memahami maksud perkataan Lia. Ia pun memperbolehkan Lia untuk datang kapan saja ke rumahnya jikalau ia merasa takut. Dan ia juga berpesan kepada Lia untuk tidak segan-segan menceritakan apa yang terjadi. Ia siap untuk melindungi Lia.


"Terimakasih banyak, Kak." Ucap Lia.


"Makasih banyak Ya Allah aku masih dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan mau ikut serta melindungiku. Semoga aku dan keluargaku selalu berada dalam lindungan-Mu. Aamiin ya rabbal Alamiin." Batinnya.

__ADS_1


Tok...Tok...Tok...


Suara pintu diketuk berulang kali. Membuat Lia yang tengah tertidur pulas bersama dengan putrinya merasa terganggu.


Lia menoleh ke arah jam yang menggantung di dinding sebelah kanannya. Terlihat jarum jam baru saja menunjukkan pukul delapan malam.


"Duh...Baru saja aku bisa beristirahat sudah di ganggu lagi. Lagian siapa yang mengetuk pintu malam-malam seperti ini." Tanyanya meracau sendiri.


Dengan sekuat tenaga ia bangkit dari posisi tidurnya dan beranjak untuk membukakan pintu. Suara ketukan semakin kuat tatkala Lia semakin mendekati pintu depan rumahnya. Ia sedikit curiga dan merasa takut. Sebab, jika mengingat kejadian siang itu bulu kuduknya jadi merinding. Tapi, untuk berjaga-jaga ia tetap harus waspada. Untuk itu, ia sengaja mengintip dari daun jendela memastikan kalau yang mengetuk pintunya bukanlah kakak ipar yang nakal itu.


Sedikit demi sedikit ia sibakkan gordennya dan melihat dari dalam. Tapi anehnya tidak ada siapapun diluar sana. Bulu kuduknya tiba-tiba merinding.


"Loh kok tidak ada orangnya. Lalu siapa yang ngetuk pintu daritadi." Ujarnya.


Ia tetap berfikir positif kalau saja mungkin tadi itu adalah orang iseng yang sedang ingin mengerjainya.


Tak ambil pusing, ia pun berlalu dan pergi ke kamar kembali. Namun, ketika ia hendak naik ke atas ranjangnya. Suara ketukan kembali terdengar.


"Siapa sih, yang ngerjain aku." Ujarnya menggerutu dan melangkah kembali ke ruang depan untuk memastikan kalau ia tidak sedang dikerjai kembali.


Lagi-lagi tidak ada siapapun diluar sana. Karena merasa kesal, ia dengan berani membukakan pintunya dan keluar mencari orang yang sedang mengerjainya tersebut.


"Hei... Saya mohon jangan ngerjain saya. Saya mau istirahat mau tidur." Teriaknya.

__ADS_1


Anehnya tak ada siapapun diluar. Hawa dingin menelusup kedalam pakaian yang Lia kenakan. Mendadak malam itu menjadi seram sekali.


Kemudian ia kembali ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat.


__ADS_2