Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
Saling Membantu Bukan Berarti Babu


__ADS_3

Mengingat pernikahan itu adalah sebuah janji suci yang sakral perlunya dihargai sebagai suatu kehormatan yang mesti dijaga bersama-sama meski pengutaraan janji itu dipertemukan baik dalam sebuah perjodohan atau ketidaksengajaan. Hal ini berlaku bagi kedua pasangan ini. Yakni Lia dan Agus serta Winda dan Dika.


Pagi itu pukul 05.30 WIB suara ayam jantan berkokok terus menerus memenuhi segala penjuru langit. Sehingga suaranya terdengar sampai ke dalam rumah. Begitupula Winda yang mendengar suara ayam jantan itu berkokok membuat dirinya terbangun dan terbelalak kaget melihat jam dinding telah menunjukkan pukul 05.40 pagi. Winda mengingat kejadian semalam bahwa dirinya telah melaksanakan malam penyatuan yang sangat indah, romantis dan bergelora sehingga membuatnya tidur terlalu pulas dan tak mendengar suara adzan subuh.


Ia pun membangunkan suaminya yang masih tertidur di sampingnya.


" Dika, ayo bangun kita kesiangan!." Seru Winda sambil menepuk-nepuk lembut pipi suaminya yang putih bersih itu dengan sedikit jambang yang membuatnya tampak mempersona dan gagah.


Dika menggeliat dan membuka matanya secara perlahan dan melihat dihadapannya tampak wajah Winda yang imut tanpa make up sedikit pun.


"Iya sayang, ada apa?." tanya Dika mencubit pipi Winda dengan lembut.


"Uh bisa-bisanya cubit pipi Winda. Tuh lihat jamnya!." titah Winda dan menunjuk jam dinding yang terpampang jelas di depan keduanya.

__ADS_1


Dika yang menyadari kalau ia dan istrinya kesiangan. Keduanya panik dan beringsut sesegera mungkin untuk mandi dan melaksanakan sholat subuh biarpun terlambat. Karena dalam kondisi darurat, Dika menawarkan untuk mandi bersama-sama. Winda sempat menolak namun, dikarenakan posisinya tidak memungkinkan untuk menolaknya. Akhirnya keduanya mandi bersama dengan Winda mengajukan sebuah syarat.


"Jangan melakukan apa-apa di kamar mandi." Terang Winda dengan nada mengancam.


" Itu tergantung sayang." Ucap Dika seraya mengedipkan matanya sebelah dengan sedikit menggoda istrinya.


" Ih apaan sih Dika. Nanti terlambat ayo lekas kita mandi dan sholat." Ajak Winda.


Sementara di tempat lain, Agus dan Lia tengah melakukan bersih-bersih. Keduanya sudah bangun sejak pukul 04.30 pagi. Seusai melakukan sholat subuh keduanya saling kompak membersihkan setiap sudut rumahnya. Sehingga pada pukul 06.00 rumah tampak bersih dan nyaman.


"Kamu, tunggu di rumah aku akan beli sayuran untuk di masak hari ini." Ucap Lia dengan mode isyarat.


Agus mengiyakan dan mengizinkan istrinya untuk pergi ke warung.

__ADS_1


Saat Agus sedang sibuk mengepel lantai di teras tempat bersantai. Pak Ridwan datang dan menegur anaknya. Bahwasannya, tidak pantas seorang lelaki dijadikan jongos oleh istrinya sendiri. Agus tentu saja tidak bisa mendengar perkataan ayahnya yang egois itu. Disaat yang bersamaan Lia juga baru sampai dan mendengar perkataan ayah mertuanya tersebut. Dalam hati Lia berkata "Bagaimana bisa beliau berkata seperti itu." Tanyanya dalam hati.


Lengan Lia meremas baju daster yang ia kenakan saat itu hingga berbekas dan menjadi kusut. Lia merasa kata-kata mertuanya itu ditujukan kepadanya. Seolah-olah Pak Ridwan kesal kepada Lia karena putranya diperlakukan sewenang-wenang. Padahal Agus hanya ingin membantu menyelesaikan tugas rumah. Apalagi saat ini Lia tengah hamil tentunya sebagai seorang suami ingin menjaga sang istri agar tidak terlalu kecapean.


Pak Ridwan dengan mode isyarat memberi tahu kepada Agus "Janganlah mau disuruh-suruh sama istri. Tugas menyapu, ngepel, mencuci, masak, dan sebagainya adalah tugas istri. Kamu itu pemimpin tidak boleh jadi babu bagi istrimu." Terang Pak Ridwan.


Sambil mengintip pembicaraan Agus dan Bapaknya. Lia semakin pilu mendengar kata-kata pak Ridwan tersebut. Hatinya terluka bagaimanapun seorang bapak tidak mungkin berkata itu kepada putranya itu sikap yang sangat egois. Dan itu tidaklah baik untuk hubungan mereka. Karena bahwasanya, berbuat baik kepada istri adalah sebuah pahala. Membantu menyelesaikan tugas istri di rumah adalah pekerjaan yang sangat mulia.


"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah memberi nafkah sebagian dari harta mereka,” (QS. An-Nisa’: 34)."


Jadi sederhananya, posisi isteri hanya tinggal buka mulut dan suami yang berkewajiban menyuapi makanan ke mulut isterinya. Tidak ada kewajiban isteri untuk belanja bahan mentah, memasak dan mengolah hingga menghidangkannya termasuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Semua itu pada dasarnya kewajiban asasi seorang suami.


Namun di dalam rumah tangga diperlukan cinta terhadap satu sama lain sehingga baiknya tidak ada kasus saling menuntut hak karena semuanya dilakukan dengan tolong menolong akibat rasa sayang itulah spesialnya dalam berumah tangga suka dan duka dilalui bersama apapun dilakukan bersama.

__ADS_1


__ADS_2