
Malam itu, setelah Lia menyelesaikan sholat isya yang disambung dengan mengaji surah Al-Mulk dari Kitab suci Al Quran. Sekelebat bayangan hitam kembali lewat dihadapan Lia yang tengah mengaji dengan khusyu. Hari itu, sudah dua kali bayangan hitam muncul dan seketika membuat Lia mendadak pusing dan sakit kepala.
Lia tak hentinya mengucapkan asma Allah sebanyak-banyaknya. Lambat Laun rasa pusing dan sakit kepalanya mereda. Lia pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Allah setelah rasa sakit itu hilang. Tiba-tiba seekor burung gagak hinggap di atas atap rumah Lia dan tak hentinya bersuara.
Deg ... Perasaan takut dan gelisah menghinggapi dirinya. Badannya mendadak menjadi lemas, kakinya gemetar dan hampir pingsan. Melihat kondisi istrinya Agus menghampirinya dan membawa istrinya ke kamar untuk beristirahat.
Agus menyodorkan segelas air putih hangat pada Lia. Kemudian memijit keningnya dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi kenapa Lia bisa mendadak seperti itu.
Lia menjelaskan semuanya dari awal hingga ia seperti itu. Dari mulai ia melihat bayangan hitam hingga mendengar suara burung gagak yang bersuara di atas atap rumah mereka.
Agus mencoba untuk menenangkan istrinya itu. Bahwasannya kita hanya seorang hamba baik buruk yang akan terjadi kepada kita adalah kehendak dari-Nya. Tugas kita hanyalah berdoa semoga semuanya baik-baik saja.
Lia menghela nafas panjang dan berusaha untuk tenang. Ia sedikit lega dengan ucapan suaminya. Ia membenarkan segala ucapan dari suaminya. Ia pun berdoa dalam hati.
"Ya Allah semua yang terjadi di dalam kehidupanku ialah kehendakMu. Aku disini hanya sebagian kecil hambaMu. Aku harap semuanya akan baik-baik saja. Hilangkan lah rasa gelisah dan takutku ini. Sesungguhnya Engkaulah pemilik rasa semua umatnya. Dan hanya kepadaMulah tempat kembaliku."
Keesokan harinya, seperti biasa Pak Mamat selalu bangun dini hari untuk melaksanakan sholat malam yang tak pernah ia tinggalkan. Seuai menyelesaikan sholat malamnya ia lanjutkan dengan memperbanyak dzikirnya. Hari itu adalah hari Jum'at tanggal 1 Desember 2017. Langit pagi yang biasanya nampak cerah benderang hari itu sangatlah berbeda. Tak seperti biasanya matahari enggan memancarkan sinarnya. Langit mendadak mendung tapi hujan enggan turun membasahi bumi seperti ada sesuatu yang sangat ditunggu.
__ADS_1
"Bu, sudah ada kabar belum dari Lia. Apa dia sudah melahirkan?." Tanya Pak Mamat dari arah kamar.
Bu Sulastri yang berada di tengah rumah pun menjawab. "Belum pak."
"Lalu kapan ya, Lia melahirkan." tanya Pak Mamat lagi.
"Jika sudah waktunya, Lia pasti melahirkan." Ucap Bu Sulastri kembali menjawab.
"Tumben pak, wajah bapak hari ini begitu ceria, bersih, dan bercahaya." Batin Bu Sulastri.
Kriinggg...Kriiiing...Kriiiingggg.... Suara gawai milik Bu Sulastri berdering. Dibalik layar ponsel tertulis jelas nama Lia. Bu Sulastri segera menjawab panggilan tersebut. Kalau-kalau itu kabar Lia akan segera melahirkan. Pikir Bu Sulastri.
"Iya Lia, Assalamualaikum." Sapa Bu Sulastri.
"Iya Bu, Wa'alaikum Salam." Jawab Lia.
"Bu, Lia lagi kepengen banget sayur katuk. Tapi disini kebetulan susah sekali mendapatkannya. Bahkan hampir tidak ada yang jual. Setahu Lia di tempat ibu ada tanaman katuk kan. Jadi Lia ingin sekali katuk itu Bu."
__ADS_1
"Oh, kebetulan memang ada Lia. Nanti biar bapak yang anterin kesana buat Lia. Iya kan Pak." Teriak Bu Lia dari arah kamar.
Pak Mamat yang tengah sibuk menyantap makan pagi dengan semangkuk mie instan di ruang tengah mengiyakan permintaan Bu Sulastri dan Lia. Mendengar permintaannya dikabulkan Lia sangat bahagia. Ia bahkan ingin menjamu sang ayah dengan masakannya. Saat itu, Lia tengah memasak pepes ayam yang dibelikan oleh sang ayah kemarin. Sengaja ia masak hari itu karena ingin masakannya dicicipi oleh sang ayah. sebab ia tahu kalau ayahnya itu sangat menyukai masakan yang diolah dengan cara di pepes.
"Ini kejutan buat bapak." Ungkapnya dalam hati Lia.
Beberapa saat kemudian, belum ada lima belas menit ia menyudahi obrolannya dengan sang Ibu di telepon. Tiba-tiba gawai milik Lia berdering. Nampak dilayar kaca ponselnya tertulis nama Ibu. Sesegera mungkin Lia menjawab panggilan itu. Boleh jadi Ibu ingin mengabarinya kalau sang ayah sedang menuju perjalanan kesana. Pikir Lia.
"Ya Bu ada apa Bu." Tanya Lia.
Dengan nafas tersengal-sengal suara ibu yang menderu akibat menangis memberikan kabar kepadanya kalau Pak Mamat tengah menghadapi sakaratul maut.
Sungguh saat itu bak disambar geledek. Lia terperanggah dan merasa tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar dari ibunya. Sempat Lia mengatakan kepada ibunya pasti sedang berbohong dan ingin mengerjainya saja. Namun, semua tuduhan itu dipatahkan semuanya dengan tangisan sang ibu yang semakin menjadi-jadi. Panggilan sang ibu pun terputus.
Lia hampir tak mampu berkata-kata. Sebab, sekitar sepuluh menit yang lalu saat ia menelepon ibunya, ia masih mendengar suara ayahnya yang mengatakan kata "Iya" dengan jelas sekali. Segera Lia mencari suaminya dan air mata pun tak bisa ia bendung lagi. Sambil menceritakan apa yang terjadi air mata terus menerus mengalir deras membasahi pipinya.
Akhirnya kabar mengenai sang besan tengah menghadapi musibah sampai juga ke telinga bapak mertua Pak Ridwan beserta Kakak iparnya.
__ADS_1