Penyesalan Sang Istri

Penyesalan Sang Istri
HARI YANG DINANTIKAN


__ADS_3

"Ya Allah, jikalau ini semua memang bagian dari rencana-Mu untuk masa depanku. Aku mohon berilah aku kekuatan, keikhlasan, dan kumudahan bagiku untuk menerima semua jalan takdirku." Sepenggal doa yang ia panjatkan kepada Sang Khalik mengingat keputusan Bapaknya yang sudah bulat untuk menjodohkannya.


Pagi itu, tidak seperti biasanya Ibu Sulastri sudah sibuk di dapur menyiapkan berbagai jamuan. Sedangkan, Pak Mamat sedang sibuk di halaman rumahnya memotong rumput dan menyapu halaman. Entah mengapa semuanya begitu sibuk hanya Lia seorang diri yang tidak sibuk. Ia malah bersantai-santai dengan MP3 nya.


"LIA..." Panggil Ibu Sulastri.


"Iya Bu." Jawab Lia dan menghampiri sumber suara.


" Sekarang Lia cepat Mandi dandan yang cantik pake baju yg rapi dan sopan jangan lupa nanti gelar karpet ditengah rumah pokoknya harus beres ya sebelum jam 9 pagi." Perintah Ibu Sulastri pada Lia.


"Tumben Bu, ada apa sih sebenarnya?" tanya Lia heran.

__ADS_1


" Eh Lia ini bagaimana kamu lupa ya ini kan hari dimana kamu akan bertemu dengan calon suamimu. Sudah sekarang cepat lakukan perintah ibu." Titahnya kembali pada Lia.


Lia tak bisa berkata apapun. Iya berjalan menuju kamar mandi dengan sangat malas. Dan menggerutu Kenapa harus hari ini. Akan tetapi Lia tidak punya pilihan. Lia pasrah dan akan menghadapinya dengan lapang dada.


Pukul 09.00 WIB yang dinanti dan hari yang dinantikan kini telah tiba. Sebuah mobil kijang berhenti didepan rumah Lia. Siapa lagi kalau bukan Keluarga Pak Ridwan yang datang untuk melamar Lia.


Dengan senyum yang mengembang Pak Mamat menyambut hangat keluarga Pak Ridwan dan menyalami satu persatu anggota keluarga Pak Ridwan.


Mulanya, Pak Ridwan memperkenalkan Anaknya kepada Pak Mamat. Pemuda itu bernama Agus Suratman. Usianya 29 tahunan . Pak Ridwan menceritakan sekilas tentang putranya itu. Bahwasanya putranya penyandang disabilitas. Ya, tidak dipungkiri Kalau Agus memiliki badan yg sehat dan wajahnya juga lumayan tampan. tapi dibalik itu Agus memiliki kekurangan diantaranya dia tunarungu dan tunawicara juga. Tetapi, Pak Ridwan memastikan bahwa anaknya sangat baik, perilaku dan sifatnya sangat baik. Dan insyaallah menjadi pilihan yg tebaik buat anaknya juga.


Setelah cukup lama berbincang, pak Mamat dan pak Ridwan berjabat tangan. Seluruh raut wajah para keluarga Pak Ridwan bahagia bukan kepalang sebab sebentar lagi putranya akan segera menikah. Pak Mamat pun berharap bahwasanya Agus dapat memberikan kebahagian untuk Lia putri semata wayangnya.

__ADS_1


Disisi lain, Lia hanya termenung bergelayutan dengan pemikirannya sendiri. Ia bertanya pada dirinya sendiri kenapa aku tidak dapat memutuskan siapa yang akan menikah denganku kenapa bisa bisanya keluargaku menerima perjodohan ini. Padahal yang akan berumah tangga nantinya kan aku. Bagaimana jadinya jika aku harus hidup bersama orang yang tidak aku kenali sebelumnya bahkan aku juga tidak diberikan kesempatan untuk mengenalnya. Ini terlalu cepat bagiku. Lalu bagaimana dengan Dika kekasihku? "tanyanya dalam hati.


"Putuskan Dika sekarang juga." kata Pak Mamat mendekati Lia dan membuyarkan semua lamunannya. Dan kata-kata Pak Mamat tadi seolah menjawab pertanyaan Lia.


" Pak, bagaimanapun bapak harus kenal dulu Dika." ujar Lia mengomentari pernyataan tadi.


"Tidak bisa, Lia kamu sudah bapak jodohkan dengan Agus anak Pak Ridwan dia baik dan dia sangat cocok denganmu." kata Pak Mamat memberikan penjelasan.


" Tapi pak, apa bapak tidak salah pilih dia Penyandang Disabilitas. bagaimana aku harus hidup dengan orang yang bahkan tidak bisa berkomunikasi denganku." ujar Lia mencoba memberi tahu sebab penolakan nya.


" Bapak sudah banyak mempertimbangkannya jadi pilihan bapak pasti tidak akan salah. Nak turuti keinginan Bapakmu ini. Insyaallah kamu pasti bahagia." Tuturnya berharap anaknya mau menerima perjodohan ini.

__ADS_1


__ADS_2