
Rumor perceraian antara Lia dan Agus kini sudah menyebar hampir keseluruh bagian penjuru desa. Warga desa pun ikut meramaikan suasana hati yang sedang bergemuruh layaknya ombak yang sedang pasang surut itu. Tak tentu haluannya terombang ambing di lautan deburan.
Ting...Sebuah pesan baru masuk. Dika meraih ponselnya dari tepi ranjangnya.
"Dika, ada kabar baik untukmu." dikirim satu menit yang lalu oleh Winda teman kursus Lia yang telah mengenalkan Lia kepadanya.
"Ada kabar baik apa?."Tanya Dika mengirim balik pesan.
"Lia, akan bercerai. Dia dan keluarga suaminya sudah menandatangani surat perceraian." Jawab Winda.
Mendapatkan jawaban tersebut Dika terkejut bukan main. Iapun segera menelepon balik Winda dan ingin memperjelasnya.
__ADS_1
Kriiinggg.... baru saja deringan pertama seseorang yang berada di balik sana mengangkat ponselnya.
"Assalamualaikum Dika." sapa seorang wanita berpostur tubuh pendek dengan kulit sawo matang itu.
"Wa'alaikum salam Win. Pesan yang kamu kirim tadi itu beneran. Apa jangan-jangan kamu lagi ngerjain aku yah." Ucap Dika tak percaya.
"Ini tuh informasi up to date banget Dik. Real ini mah Dika. Coba aja kamu lihat postingannya Lia di Facebook dia kayak yang lagi sedih. Terus aku juga sudah nelepon ke Lia. Dan Lia ngasih tahu sendiri sama aku kalau dia akan bercerai." Ungkap Winda dengan nada serius.
"Beneran Dika ngapain juga aku bohong. Engga ada untungnya buat aku." Ujar Winda.
"Tapi emang kenapa Lia bisa cerai gitu aja. Masalahnya kenapa?." Tanya Dika yang terus-menerus mencecar Winda dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin membuatnya penasaran.
__ADS_1
"Masalah itu aku engga tahu Dika. Mohon maaf ya aku gak bisa menjawab pertanyaanmu. Bukankah ini kan yang kamu mau. Ini kesempatan emas untuk kamu bisa balikkan lagi sama Lia. Kamu juga kan masih mencintainya iya kannnn?." ucap Winda dengan ciri khasnya yang konyol tapi lucu.
" Ah kamu lagi seriusan malah dibercandain. Udah dulu ah. Aku tutup teleponnya. Makasih juga atas informasi yang berharga ini." pungkasnya dan menutup teleponnya.
Setelah menutup teleponnya. Ia beralih ke akun sosial medianya dan mencari tahu lebih jelasnya tentang Lia. Perlahan-lahan ia masuk secara sembunyi-sembunyi ke dalam beranda akun sosial media milik Lia. Dan menelisik beberapa bagian riwayat status ceritanya yang terbaru. Benar saja, sebuah postingan sedih ia temukan di akun beranda milik wanita cantik itu. Dan baru di unggah dua hari yang lalu.
Pucuk dicinta, ulampun tiba. Peribahasa itu seolah mewakilkan doa-doa Dika. Doa yang selama ini ia panjatkan kepada Sang Maha Kuasa dikabulkan hanya dalam kurun waktu satu bulan. Tak sia-sia ia rajin beribadah dan berdoa di sepertiga malamnya. Terbayar sudah dengan kabar yang sangat membahagiakan. Kabar itu berasal dari wanita yang ia cintai sejak pada pandangan pertama tahun lalu.
Kabar duka bagi Lia tapi tidak untuk Dika. Kabar itu seperti secerca harapan untuk Dika meraih cintanya kembali. Ia akan berusaha dan berupaya untuk melanjutkan hubungannya yang sempat terputus karena sebuah komitmen pernikahan yang dijodohkan. Ia berjanji pada dirinya sendiri disaat Lia sudah resmi bercerai dan masa iddahnya sudah selesai. Dengan tekad dan keberaniannya ia akan datang menemui Lia sang pujaan hati untuk melamarnya.
Harapan itu semakin hari semakin tumbuh. Dika tak sabar menanti saat-saat dimana ia akan bertemu dengannya.
__ADS_1
"Semua akan indah pada waktunya. Kita lihat saja nanti. Sayang." ungkapnya seolah sedang berbicara dengan Lia sambil memandangi potret wanita yang ia cintai itu dengan penuh harap.