
"Kriiinggg...Kriiinggg...Kriiinggg..." Suara alarm berbunyi membangunkan Lia yang masih terlelap tidur sementara Agus tidak juga bergeming karena ia tak dapat mendengar suara jam Becker yang sangat nyaring tersebut. Tidak lama setelah itu gema adzan berkumandang. Lia pun bergegas pergi ke kamar mandi membersihkan diri. Untuk pertama kalinya ia melakukan hadast besar seusai menunaikan kewajibannya sebagai istri yakni melayani suaminya.
..."Ya Allah, ridhoilah setiap langkahku untuk menggapai surgamu dengan berbakti kepada suamiku. Berilah hamba mu kesabaran dan labuhkanlah hatiku jikalau aku adalah jodoh terakhirnya. Meskipun aku tau ini sebuah perjodohan yang sama sekali tidak kuinginkan. Aamiin Ya Robb."...
Seuntai doa yang Lia panjatkan sebagai penutup sholat subuh.
"Masyaallah, kenapa dia belum juga bangun?."Tanyanya.
Menepuk jidatnya sendiri "Oh iya aku lupa kalau dia kan tidak bisa mendengar. Jangankan suara adzan , jam Becker berbunyi pun tak dapat ia dengar." Ingatnya.
"A...AA...A Agus...Bangun." panggil Lia sambil menggoyangkan badan Agus berharap ia cepat terbangun.
__ADS_1
Usahanya membuahkan hasil, Agus membelalakkan matanya merasa kaget karena Lia berada disampingnya.
Menggunakan bahasa isyarat. "Apakah kamu sudah sehat?" tanya Agus.
Lia menjawab dengan memberikan jempol yang berarti kalau dia sudah baik-baik saja. Tak lupa ia juga mengucapkan terimakasih karena sudah merawatnya tadi malam. Entah apa yang akan terjadi jikalau dia tidak ada disana. Mungkin saja ia sudah masuk klinik.
"Sekarang, cepat ke kamar mandi bersihkan dirimu kemudian sholatlah." terang Lia dengan bahasa isyarat seadanya.
Agus bertanya kembali. " sholat yang berapa rakaat?"
Sebelum fajar menampakan diri dari tempat asalnya. Lia sudah sibuk sekali di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Ia berusaha semampunya untuk dapat melayani suaminya dengan baik meskipun dia belum mencintai suaminya itu.
__ADS_1
"Ayo Kita makan dulu." ajak Lia pada Agus yang baru saja keluar dari kamar.
Agus mengangguk tanda mengerti.
"Ayo kita berdoa dulu." Ajak Lia kembali. Kemudian ia menuangkan nasi dan lauk pauknya ke atas piring dan menyodorkannya kepada Agus.
Agus makan dengan sangat lahap. Dalam hati ia bersyukur telah mendapatkan wanita yang cantik dan solehah tersebut. "Pandainya ia menyiapkan makanan yang sangat lezat ini. Tak seperti makanan yang selalu diberikan oleh Bu Hajar." Ucapnya dalam hati.
Seusai sarapan pagi. Lia memiliki kesempatan untuk bertanya dan mencari penjelasan mengapa ia menanyakan jumlah rakaat sebelum sholat subuh tadi. Dengan sebisa mungkin Lia berinteraksi dengan hati-hati agar Agus dapat mengerti dan tidak merasa tersinggung karena menanyakan perihal ini.
Awalnya Agus tak mau memberitahunya. Alasan mengapa ia menanyakan hal itu tadi. Akan tetapi karena Lia bersikeras ingin tahu. Mau tak mau Agus mengalah dan memberitahukan yang sebenarnya.
__ADS_1
Agus dilahirkan dalam keadaan fisik maupun psikis yang normal seperti anak-anak lain pada umumnya. Tidak ada masalah dalam pendengarannya. Bahkan disaat usianya menginjak 4 tahun, ia sudah dapat berbicara mama papa dengan jelas. Namun, semuanya berubah setelah kejadian yang tidak diinginkan terjadi padanya. Saat itu, Ka Marzuki sedang bermain bersama Kak Suparman. Keduanya sedang bermain semprot-semprotan menggunakan pestol air yang dicampur dengan air sabun.
Semprot sana semprot sini begitulah mereka saling membalasnya. Sang adikpun jadi ingin ikut serta dalam permainan. Kak Suparman memperbolehkannya akan tetapi tidak dengan Ka Marzuki. Ia tak setuju jikalau adiknya ikut serta sebab pestol airnya hanya ada dua dan dia tidak mau kalau pestol mainannya dipinjamkan ke adiknya. Sang adik tentu tak terima ia pun menangis sejadi-jadinya dan mengatakan Ka Marzuki pelit. Tak terima karena disebut pelit oleh sang adik. Ia menghampiri sang adik lalu mengguyur adiknya dengan air yang sudah bercampur dengan sabun keseluruh wajahnya. Tak tahu jikalau air sabun itu mengenai telinganya dan sang adik semakin menangis menjerit kesakitan merasa pedih dan panas ditelinganya. Akibatnya, sang adik di vonis tidak bisa mendengar. Sejak saat itu, Ka Marzuki selalu merasa bersalah atas keadaanya saat ini karena gara gara ulahnya sang adik tak dapat lagi mendengar alias tunarunggu.