
Hari ini nampak suasana sedih dan memprihatinkan di ruang petinggi gedung Wijaya cop.sepertinya masalah yang sangat besar telah terjadi,membuat wajah murung pak Hamdi,Devan,Rena dan Rafa termasuk pak Ben.sebenarnya hal ini sudah tergambar sebelum terjadi di pikiran pak Hamdi ketika ia bertemu dengan pak Erlangga hari itu.namun seperti tersihir dan menepis pikiran buruknya ia telah menerima kesepakatan yg membuat kelacauan hari ini.
pak Hamdi masih tidak percaya apa yang barusan ia dengar dari seseorang penelpon.pak Erlangga baru saja memberikan peringatan pada pak Hamdi,menyetujui tuk menyerahkan perusahaannya demi nasib semua karyawan yg telah setia bekerja dengannya,atau tetap bertahan yg akan berujung pada segala macam pasal pada tuntutan pidana.ia terduduk lemah bersandar di kursi pimpinan perusahaaan.
Rena dan Rafa hanya tertunduk lesu,karena mereka telah memberikan peringatan waktu itu.harusnya mereka lebih keras hari itu pada pak Hamdi,namun apa lah daya mereka berdua.pak Ben pun ikut prihatin dengan apa yg ia lihat hari ini.sedangkan Devan seakan merasa tidak berguna sebagai anak laki-laki yg tidak mampu melindungi papa dan perusahaannya dari kelicikan sahabat papanya.
Seharusnya mereka sadar dengan banyak kejanggalan yang terjadi dan segera di antisipasinya.mulai dari kenaikan harga bahan bangunan dan peralatan kerja yg tidak wajar dan di luar logika,adanya korupsi dana kegiatan yang tidak terpantau.mereka telah mencoba menyelidiki,namun tidak berhasil seolah keberpihakan terjadi kepada orang yg telah merencanakan semuanya dengan sangat sempurna.akhirnya pak Hamdi telah menemukan solusi dan mencoba mengutarakannya.
"Dev,Ren,Rafa dan pak Ben.seperti keputusan saya sudah bulat untuk mengikuti keinginan pak Erlangga untuk menyerahkan perusahaan ini kepadanya.ini demi nasib semua karyawan kita,saya tidak mau mereka terkena imbas masalah saya.sekarang saya sudah cukup merasa bersalah pada keluarga saya"
"pa,apa papa yakin ini yg terbaik?"
"iya om,sambung Rena"
"apa ga sebaiknya om pikirkan ulang,lanjut Rafa?"
"om tidak pernah seyakin ini.jika kita harus kehilangan satu perusahaan demi keselamatan orang banyak,berarti ini yg terbaik yg harus terjadi.papa yakin Allah punya rencana baik untuk kita setelah ini"
"baik lah pa kalau itu keputusan papa"jawab Devan sedih
lalu pak Hamdi meminta pak Ben untuk menelpon pak Erlangga untuk penandatanganan surat penyerahan perusahaan kepadanya.pak Erlangga sangat senang dan bangga dengan keberhasilannya menakhlukkan orang yg pernah jadi sahabatnya itu.
"haahaahaa...itulah akibatnya Hamdi,kalau kau berani mengambil sesuatu yg penting dihidupku.perlahan aku akan menghancurkan kamu dan keluargamu,hingga tak ada kebahagiaan dalam hidup kalian"
__ADS_1
Aji yg tidak setuju dengan pelampiasan papanya hanya diam.baginya balas dendam itu tidak baik,karena hanya akan menimbulkan masalah baru nantinya.Aji mewarisi sifat sang mamanya Alin,yg sangat ramah,penyabar dan ramah.Aji selalu ingat pesan mamanya untuk berbuat baik kepada siapa saja,sekalipun orang yg jahat kepadanya.bagi Aji bukan tugas manusia membalas perbuatan jahat manusia,tapi Allah pasti punya rencana dan menata semua diwaktu yg tepat.
"pa,sudah berapa kali Aji bilang.ini semua tidak perlu pa,papa sudah kelewatan"
"diam kamu Aji.kamu cuma perlu nurut aja sama papa.lagian kalau papa makin sukses toh kamu juga kan nanti yg menikmatinya"
"maaf pa,Aji tidak ingin papa terus-terusan menjatuhkan lawan bisnis papa dengan cara kotor seperti ini"
geram mendengar perkataan putranya,pak Erlangga pun menampar pipi Aji hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi kirinya.
"dasar anak brengsek,jangan coba kamu mengatur-ngatur papamu ini seperti mama sialanmu itu"
"sadar pa,apa yg mama raih sekarang itu juga berkat mama,warisan mertua papa"
belum sempat pak Erlangga menyelesaikan kata-katanya Aji pun menyela...
"pa,satu hal yg perlu papa tau.Aji ga takut dengan apa pun yg akan papa lakukan,meskipun papa akan membunuh Aji sekali pun"
mendengar hal itu membuat pak Erlangga tambah marah...
"ooo,,,baik kalau begitu.lawan terus papamu ini Aji!!!jangan salahkan papa apa yg akan terjadi pada mamamu nanti"
"papa benar-benar keterlaluan"(kali ini Aji terpaksa menurunkan nadanya dan menahan emosinya demi keamanan sang mama)
__ADS_1
dari Aji kecil,ia selalu menyaksikan mamanya sering jadi sasaran kemarahan papanya.bahkan dulu papanya sering membawa perempuan ke kamar tamu di rumahnya.ia tidak ingin mamanya akan ikut jadi tumbal kekerasan papanya lagi kali ini.sudah cukup rasa sakit yg diberikan papanya terhadap mamanya selama ini.
"kalau kamu nurut,papa pasti akan memperlakukan mamamu dengan baik anak papa satu-satunya"(melihat Aji dengan senyum jengkel penuh kemenangan"
setelah perdebatan itu mereka pun berangkat bersama Fani dan asisten Con.semua dokumen itu memang telah disiapkan pak Erlangga sebelum ia memberikan kontrak ketiga proyek jebakan itu kepada pak Wijaya.ia memang terkenal licik dikalangan pebisnis karena sering menghalalkan segala cara untuk menjebak rekan bisnisnya.namun karena sekarang perusahaannya sedang naik daun dan merupakan perusahaan terbesar diIndonesia saat ini,lawannya terpaksa hanya hening dalam kediaman.tapi bukan berarti tidak ada rencana untuk menggulingkan pak Erlangga suatu hari nanti.perusahaan yg telah banyak dirugikan pak Erlangga pun sedang mengatur strategi yg akan dipraktekkan suatu hari nanti tanpa sepengetahuaannya.
sesampainya di Wijaya cop,resepsionis pu langsung menyambut mereka dan mengantar ke lift khusus petinggi perusahaan.di dalam lift pak Erlangga masih memperingatkan Aji putranya,agar tidak mengacau dan menurut apa yg ia perintahkan.ia kembali mengingatkan apa yg terjadi jika Aji berani membantah dengan ekspresi seperti singa yg sedang menandai mangsanya.
ting,,,pintu lift pun terbuka.pak Erlangga dan rombongan segera menuju ruang Dirut perusahaan Wijaya cop.tanpa permisi,ia langsung masuk dan memasang tampang kemenangan penuh kebanggaan.
"bagaimana pak Hamdi,sudah siapkah putra anda untuk menandatangani berkasnya?"(dengan sombong dan angkuh)
Devan dan Rafa yg geram mulai mengepalkan tangannya.tapi kode dari pak Hamdi seakan menjadi tanda agar mereka diam dan tidak perlu melawan hari ini.
mencoba tetap tenang dan tegar pak Hamdi pun menjawab.
"tentu saja sahabat.putraku akan segera menyerahkan perusahaan ini kepadamu"
"alaaahhh,,,ga usah sok baik dan berbasa-basi kamu!!!Fani,keluarkan berkasnya dan suruh Devan segera tanda tangan.masih banyak yg harus kita urua setelah ini"
"baik pak"(fani pun segera menyerahkan berkas kepada Devan)
tanpa menolak Devan pun hanya bisa menandatangani berkas itu dengan perasaan bersalah karena tak mampu mempertahankan kepemilikan perusahaannya.setelah itu,tanpa berkata dan berpamitan pak Erlangga dan rombongan berlalu pergi dengan memperingatkan kalau mulai besok dan seterusnya mereka yg ada di ruangan itu tidak perlu lagi muncul di perusahaan tersebut.hari itu,pak Ben atas perintah Devan mengumpulkan seluruh karyawan dan mengumumkan ada pergantian pemilik perusahaan.setelah itu mereka semua pulang ke rumah dengan perasaan tak menentu,terutama pak Hamdi yg masih tidak menyangka bahwa sahabatnya bisa melakukan hal seperti itu terhadap dirinya dan keluarganya.
__ADS_1
...****************...