
sementara itu di kediaman Devan tampak Raka,Rena dan pak Hamdi sedang duduk dalam keheningan di ruang keluarga.peristiwa hari ini benar-benar bagaikan petir menyambar di siang bolong.apalagi pak Hamdi,beliau tidak pernah membayangkan perusahaan yg telah dibangunnya dengan susah payah akan diambil sahabat yg pernah sama-sama berjuang dalam suka dan duka.alasan yg paling membuat pak Hamdi sedih adalah perusahaannya berpindah tangan karena dendam masa lalu sahabatnya.sungguh sesuatu yg sangat tak pernah ia duga selama ini.
Devan pun mendekat duduk disamping papanya.
"pa,jangan terlalu menjadi beban pikiran ya pa.Dev ga mau papa sampai sakit karena ini.Dev masih bisa kok membiayai keluarga kita dari bisnis usaha otomotif yg sekarang di pegang Reva.memang belum sebesar dan sehebat perusahaan papa,tapi lumayanlah pa"
"bukan itu yg paling membuat papa sedih nak,tapi papa benar-benar tidak menyangka om Erlangga yg dulu begitu dekat dengan papa bisa jadi manusia kejam seperti itu.kenapa ia menjadi begitu tamak dan tidak punya nurani.padahal dulu ia baik,sopan dan pintar"
"itu lah pa.kadang ketamakan bisa merubah jati diri orang yg tidak bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya pa"
"iya nak,kamu betul sekali"(kemudian memeluk sang putra penuh kasih sayang)
"yang sabar ya om.Rena dan mas Rafa juga minta maaf karena ga bisa berbuat apa-apa."
"iya om,kami harap om ga kecewa sama kami"
"sudah lah nak,om kan sudah bilang ini merupakan takdir dan bukan salah kalian.yg penting sekarang kita jalani saja sesuai suratan yg sudah diatur yg diAtas"
"uuummm,,,om gimana kalau kita pindah tinggal di puncak ke villa keluarga.Rena rasa disana bagus buat kesehatan dan kenyamanan kita buat sekarang.nanti kita juga bisa kelola perkebunan disana om,gimana om?"
"ide bagus mba Rena,Devan setuju.tapi,kalau tinggal disana berarti Dev akan jauh dari Jakarta"
"ehemmm (Rena terbatuk-batuk).jauh dari Jakarta atau jauh dari Sofy.hayo ngaku?!"
"dua-duanya mba...heeheee"
ditengah suasana itu hp pak Hamdi berbunyi.ternyata yg menelpon itu bu Mariam.
"Assalammualaikum pak Hamdi"
"ya,Waalaikumsalam bu Mariam.kalau ibu menelpon saya sepertinya ada yg penting ini"
"heehee,,,pak Hamdi ini.maaf pak Hamdi sebenarnya saya ingin bertanya tentang kabar perusahaannya bapak,apa benar semua itu pak?"
"iya bu,benar sekali kabar itu"
__ADS_1
"saya turut prihatin pak.semoga Allah memberikan ganti yg lebih ya pak,Aamiiin..."
"Aamiiin,terima kasih ya bu"
"sama-sama pak.oh ya pak,sebenarnya maksud saya menelpon pak Hamdi itu buat mengajak keluarga bapak makan malam bersama di kediaman kami.sudah lama sekali keluarga bapak tidak pernah kemari"
"ooo,,,iya bu.maklum kami kemaren itu sangat sibuk,sehingga belum ada waktu untuk berkunjung"
"iya pak,makanya saya ambil inisiatif sekarang pak.kalau diundang makan malam di rumah pak Hamdi kan sudah sering ya,jadi boleh lah ya kali ini di rumah saya.bapak ajak Devan,Rena,Rafa dan Aurel ya pak"
"baik bu,insyaallah nanti malam kami datang"
"baik pak,kami tunggu.Assalammualaikum pak"
"Waalaikumsallam bu"
kemudian pak Hamdi mematikan sambungan telpon dan meletakkan hp beliau di atas meja.
"anak-anak ntar malam kita diundang bu Mariam makan malam di rumahnya"
serasa mendapat oase di tengah padang asir tandus Devan sangat senang sekali. "ntar malam ya pa?"(tanya Devan antusias)
"wah,,,ada yg dapat peluang emas melepas rindu ne...heehee" (Rena pun mencubit pinggang adij sepupunya)
"apaaaan si mba Rena.iri ja sama anak muda...haahaaa"
"anak muda?ngaca sana gih,kamu t udah tua Dev,udah 28 tahun tau...haaahaaa"
"biarin mba,tapi aku kan tetap mempesona dan jadi rebutan cewek-cewek"
"punya pacar aja ga pernah,gimana mau jadi idola para cewek coba?makanya jangan cuma belajar terus,,, pendidikan boleh S2 LN,tapi belum bisa nakhlukin cewek😂😂😂"
"mba liat ja nanti,Dev pasti bakalan bisa buat Sofy jatuh cinta"😝
"kok jadi langsung beralih ke Sofy topiknya Dev?"(Rafa ikut mengambil part)
__ADS_1
"cieee,,,cieee yg lagi jatuh cinta..."lanjut Rena
"heeheehe,,,mba sama mas ini senang banget si ngetawain aku"(wajahnya pun tampak malu-malu)
pak Hamdi hanya menggeleng-geleng melihat pemandangan di depannya.tapi ia juga senang ternyata Devan begitu mencintai Sofy.
...****************...
tak terasa malam pun tiba.setelah menunaikan tiga rakaat sholat Magrib bu Mariam masuk ke kamar Sofy.bu Mariam pun memilihkan sebuah dress moderen warna pink dilemari Sofy,kemudian meminta Sofy untuk berganti pakaian.
"lho bu,kenapa uni disuruh ganti baju ya?memangnya kita mau kemana bu?"(terheran-heran)
"mau makan malam ni.udah ganti ja bajunya,trus dandan yg cantik ya sayang.ibu mau ke dapur dulu ketemu tek Imah" (kemudian menuju dapur untuk mencek persiapan makan malam hari ini)
Sofy yg masih bingung pun kemudian mengikuti perintah ibunya untuk memakai baju tersebut dan memoles sedikit wajahnya dengan make-up natural.
sementara itu,di meja makan semuanya telah tertata dengan rapi.seperti biasa,masakan Minang mendominasi ketika mereka menyambut tamu di rumah.lima menit kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman depan.Adnan yg sehabis Magrib tadi duduk menunggu di depan pun mempersilahkan keluarga pak Hamdi masuk dan langsung menuju meja makan.Devan,Rafa,Rena dan Aurel pun langsung mencium tangan bu Mariam sambil mengucap salam.
"silahkan duduk pak Hamdi,anak-anak.nan,panggil uni ya.bilang keluarga pak Hamdi sudah datang"
"baik bu"(Adnan pun langsung ke kamar Sofy)
"tok,,,tok,,,tok...uni...itu dipanggil ibu"
"iya nan,ini uni udah mau keluar.ceklek,Sofy pun muncul di depan pintu"
"wah,,,cantik banget uni ku malam ini..."
"maksud kamu,uni t cuma cantik malam ini aja,gitu???trus biasanya uni jelek??"
"ssstttt,,,ntar cantiknya ilang lho(kemudian berlalu meninggalkan Sofy)
Sofy pun menyusul di belakang Adnan.Rena yg menyadari kedatangan Sofy pun berdiri dan menyapa sambil cipika cipiki.kemudian Aurel pun menyalami tangan Sofy.
"tante Sofy cantik banget kayak plincess,pantesan om Devan suka..."
__ADS_1
ucapan polos Aurel membuat Devan salting n Sofy malu.Sofy pun kemudian menyalami pak Hamdi,lalu duduk di dekat Aurel dan Rena.sementara,pak Hamdi,Devan dan Rafa duduk bersebelahan di sepan mereka.lalu bu Mariam dan tek Imah duduk di kursi berhadapan yang terpisah panjangnya meja.mereka semua pun makan dengan lahapnya,termasuk si kecil Aurel yg berumur 3 tahun yg sangat menyukai rendang.
...****************...