Pernikahan Impian Sofya

Pernikahan Impian Sofya
Adnan dan Reva


__ADS_3

Hari ini pak Hamdi,Rafa dan Devan berencana mengunjungi pabrik untuk evaluasi bulanan.Pak Hamdi tampak akrab dengan keduanya,beliau memperlakukan Rafa sama seperti putra tunggalnya Devan.Ketiganya nampak sangat akrab dalam urusan keluarga maupun urusan pengelolaan bisnis keluarga.Pak Hamdi dan keluarga terkenal ramah dan baik pada karyawan dan orang sekitar tempat tinggalnya.Bahkan setiap dua bulan sekali selalu mengadakan kegiatan amal bagi keluarga yang kurang mampu dan beberapa panti asuhan.


Sementara Rena dan Sofy sedang sibuk bersama Aurel dan baby Azka.Sofy benar-benar sedang mendalami peran menjadi seorang ibu dengan menghabiskan banyak waktu bersama baby Azka.Dari pagi sampai sebelum Rena tidur,baby Azka selalu di urus oleh Sofy,palingan Rena hanya kebagian tugas meng-ASI kan Azka.Sofy nampak sangat bersyukur,bisa mendapatkan kesempatan dari Rena untuk selalu bersama Azka.Ketulusan Sofy membuat baby Azka sangat nyaman dan tidak rewel dipelukan Sofy.


Di ruang keluarga di sofa terpisah,hawa dingin permusuhan masih terasa.Kebaikan Adnan yang telah menolong Reva kemaren,tidak merubah keadaan.Adnan dan Reva sama-sama terlihat kesal,karena yang diminta menjaga Reva adalah Adnan.Adnan hanya melihat Reva sesekali dari kejauhan sambil mencek laporan usaha catering dan toko oleh-oleh keluarganya.Demikian juga Reva,meskipun kakinya belum pulih ia nampak tengah berkutat dengan laporan-laporan perusahaan otomotif milik Devan.


Setelah cukup lama keduanya sibuk dengan job masing-masing,Reva merasa tenggorokannya begitu kering.Beberapa kali ia memanggil bi Minah,namun tidak ada jawaban.Ya,sebenarnya hal ini bukan tanpa alasan.Devan meminta agar semua pelayan tidak ada yang membantu Reva dan menyerahkan tugas menjaga Reva pada Adnan.Reva yang mulai kesal pun berusaha berdiri.


"Lo mau kemana tante lampir?"tanya Adnan yang melihat Reva agak kesulitan berdiri karena kakinya yang sakik dan tangannya yang masih terluka


"Bukan urusan lo om jin.Kepo aja sih sama urusan orang lain"jawab Reva sewot


"Eh,tante lampir lo jangan ngerasa di atas angin ya.Kalau bukan mas Devan yang minta,ogah banget gue buang-buang waktu percuma disini"


"Helllooo,,,dengar ya om jin.Gue gak butuh bodyguard atau perawat buat jagain gue disini.Bahkan gue sangat berterima kasih kalau lo segera hengkang dari hadapan gue"


"Dasar tante lampir,udah sakit masih aja suka ngomong sembarangan.Insyaf dikit napa sih lo?Tau udah kena azab juga,sadar dong tanye lampir!"


"Jangan ngomong sembarangan om jin,ntar kena karma baru tau rasa lo!"Reva kemudian mencoba melangkah pelan menuju dapur.Sementara Adnan tetap mengawasi dari kejauhan karena jalan Reva masih terlihat mengkhawatirkan,apalagi lantai yang belum kering sempurna siap di pel bi Minah.


Baru beberapa langkah,kaki Reva yang sehat tidak sengaja menginjak air bekas pel yang masih cukup basah.Seketika tubuh Reva kehilangan keseimbangan karena kakinya yang sakit tidak bisa dijadikan penopang tubuhnya.Hal ini membuat Adnan spontan mendekat dan menahan bagian kepala dan pinggang Reva agar tidak membentur lantai.Keduanya cukup lama bertatapan mata,membuat jantung mereka sedikit berpacu dan wajah Reva merona merah.


"Sial,gue kok jadi deg-deg an gini dekat sama om jin.Jangan sampai ya gue sampai punya perasaan sama ni orang.Ihhh,Amit-amit..."kata Reva dalam hati

__ADS_1


"Kacau,kok rasanya aneh gini dekat tante lampir.Kalau dilihat-lihat dia manis juga.Adnan,stop!Lo jangan jatuhin harga diri lo dengan punya rasa sama cewek yang sering buat emosi lo jadi gak karuan"gumam Adnan dalam hati.


"Om jin,lepasin gue!Lo lagi nyuri kesempatan kan buat nyentuh gue?Dasar om jin gila!"


"Eh,tante lampir.Ini tu tugas kemanusiaan bukan keinginan gue.Lagian cewek sadis kayak lo gak punya pesona yang cukup menarik dimata gue.Gue tau,lo sengaja mau caper kan sama gue.Ga ngaruh!!"sambil melepaskan tubuh Reva yang telah mulai berdiri


"Caper sama lo?Sadar diri dong om jin!Lo tu gak cukup mempesona dimata gue.Gue haus dan mau ambil air minum ke dapur.Soalnya pelayan di rumah ini lagi pada budeg semua,paham lo?"


"Ooo,jadi cuma karena lo haus jadi gangguin gue yang lagi kerja"


"Eh,om jin gue gak peduli ya,mau lo kerja,mau lo sibuk apa guling-guling juga,gu-e ga ba-ka-lan peduli.Paham!"


Ditengah perseteruan keduanya,bi Minah muncul membawakan segelas air putih untuk Reva dan teh untuk Adnan.


"Selow non cantik,tadi bibi teh lagi sibuk pisan.Jangan marah ya neng cantik,ntar cepat tua lho!"


"Model kayak tante lampir ini bi,mau marah apa gak,bakalan sama aja.Tetap bakalan cepat tu,apalagi sewot banget"


"Diam lo om jin!Gerah gue berada dekat sama lo"perlahan memundurkan langkah menjauhi tubuh Adnan


"Dasar ga tau terima kasih lo tante lampir"kesal Adnan


"Bodo amat..."jawab Reva cuek

__ADS_1


"Haduh,so sweet banget yah den Adnan sama non Reva ini.Jadi ingat waktu bibi sama mang Asep masih muda,apa itu namanya ya non kalau bahasa seberang sana.Bas cupel gitu non...Heehehhehe"


"Best couple maksudnya bibi?Kalau bibi sama mang Asep mungkin iya,tapi ga dengan kita bi"


"Kita?Lo aja tante lampir gue gak"


"Terserah lo om jin,cowok resek gak berperasaan"mencibir Adnan


"Eh,tante lampir yang gak berperasaan gak tau terima kasih itu lo ya.Bukannya ngehargain gue yang udah bantuin lo,malah makin belepotan aja itu mulut ngata-ngatain gue"


"Heh,lo kalau nolongin orang itu yang ikhlas dong om jin,gak pernah belajar apa di sekolah soal keikhlasan dan saling tolong menolong"


"Gak usah sok pintar dan nasehatin gue lampir,sok tau lo.Sok imut,sok suci,sok baik,sok paham agama!"nada Adnan mulai naik membuat Reva agak terperangah dan mulai memelankan suara


"Jangan bawa-bawa agama lo om jin.Lo gak berhak menilai gue sembarangan"lalu Reva beranjak duduk kembali ke sofa tempat duduknya tadi untuk minum dan kembali menatap lap topnya.Kata-kata Adnan kali ini agak menggores Reva karena teringat akan statusnya dan Renata yang dari kecil yatim piatu dan dibesarkan pak Hamdi dan istrinya.Namun,baru sesaat merasakan manisnya kasih sayang mama Devan yang tak pernah membedakan antara anak dan keponakan,mama Devan pun kembali kepangkuan Illahi.Reva sadar,ia memang tidak begitu memahami agama,tapi ia bukanlah penjahat yang pantas dihina seperti itu dengan kekurangannya.


Adnan pun berusaha mencuri-curi pandang memperhatikan apa yang sedang terjadu dari Reva.Ia merasa sangat aneh,karena hari ini Reva mengalah dan terlihat sedih setelah mereka berdebat tadi.


Kenapa si tante lampir?Lagi kedatangan tamu bulanan ya?Tumben menyerah gitu aja?Apa tadi itu kata-kata gue terlalu berlebihan ya?banyak pertanyaan yang diucapkan Adnan sambil berbisik pelan sekali


"Bi,sini sebentar"Adnan pun memanggil bi Minah untuk mencari tau ada apa sebenarnya dengan Reva.Mereka pun menuju taman belakang untuk bercerita,sementara Reva nampak hanyut dalam pikiran dan pekerjaannya.Awalnya,bi Minah yang telah lama bekerja dengan keluarga pak Hamdi Wijaya papa Devan menolak bercerita,namun Adnan berhasil meyakinkan tidaka akan menceritakan pada siapa pun.Adnan nampak sendu dan menahan air mata mendengar bi Minah bercerita.Ia merasa menyesal telah meluapkan kata-kata yang membuat Reva tersinggung dan sedih.


"Maafin ketidak tauan gue ya Reva"baru kali ini mulut Adnan dengan tulus menyebut nama Reva,walaupun tidak langsung di dekat yang bersangkutan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2