Perseligkuhan Suami

Perseligkuhan Suami
Alasan Ibu


__ADS_3

"Sekarang gantian mama yang sarapan, arga sama papa temenin mama di sini yaa". Anto mengambil alih gendongan arga, asty pun mulai menikmati sarapannya. Arga memang anak yang nurut, tidak rewel sejak pulang dari rumah sakit. Mungkin karena asi ibunya bisa langsung keluar sehingga arga tidak pernah kelaparan.


Acara sarapan pagi telah selesai, asty membereskan meja makan dan mencuci semua piring dan peralatan dapur yang tadi ia gunakan.


Setelah semua selesai ia'pun membereskan kamarnya yang tadi belum sempat di bereskan dan masih berantakan, ia belum melihat ibunya menggendong arga, sepertinya memang tidak ada niat untuk itu. 'Apa salahku sehingga ibunyapun seakan tidak mau menyentuh anakku'. Gumam asty dalam hatinya.


Sementara ia masih sibuk membereskan yang lain, karena di rasa aman. Arga sudah tertidur dalam ayunan papa'nya.


"Sini mas, tidurkan di sini arga'nya. Mas temenin bapak ya". Pinta asty.


"Iya, arga bobo dulu ya nanti kita main lagi". Sambil ia kecup pipi mungil itu, ada ketenangan di wajah anaknya.


Anto kembali bergabung dengan kedua mertuanya yang sedang asik ngobrol.


"Begini nak anto, mungkin bapak sama ibu hanya menginap malam ini saja. Karena masih banyak pekerjaan bapak di kampung. Kami juga tidak tega meninggalkan erina sendirian di rumah, yaa maklum dia anaknya belum bisa mandiri hehehe. Mungkin karena selama ini terlalu di manja, jadi ya begitu berbeda dengan asty. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah". Puji bapak untuk asty.


"Apa ndak sebaiknya dua atau tiga malam pak? Mungkin asty masih kangen". Saran anto.


"Nanti lain waktu kalau ada libur sekolah, bapak ibu bisa ke sini lagi biar sekalian ajak erina". Jawab bapak dengan alasan yang masuk akal.


"Baiklah kalau begitu anto tidak bisa memaksa pak". Jawab anto.


Lama mereka berbincang kesana kemari.. jarang ada kesempatan seperti ini di karenakan kesibukan masing-masing.


Jam makan siangpun tiba. Dengan cekatan asty menyiapkan segala sesuatunya, mumpung arga belum bangun. Dengan bahan seadanya, kebetulan ia sudah menyetok bahan makanan untuk beberapa hari saat sebelum melahirkan, ia mengolahnya untuk makan siang.


"Mas ajak bapak dan ibu untuk makan siang". Panggil asty dari ruang makan.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu, Arga pun terbangun dan menangis. Asty segera segera meraihnya.


"Eeeehhh...anak mama sudah bangun yaa, minum asi dulu yaa". Asty berbicara pada anaknya, dan segera menyusui.


Sementara di meja makan mereka masih terlibat obrolan, kali ini ibunya buka suara.


"Nak anto kalau nak anto setuju, ibu punya rencana nanti seandainya erina tamat SMP, biar dia melanjutkan di sini saja. Itung-itung mengenal lingkungan perkotaan biar tidak kuper (kurang pergaulan). Bagaimana??". Usul ibu, tanpa meminta pendapat suaminya. seolah-olah ia putuskan sendiri.


"Ohh kalau ibu punya rencana seperti itu, nanti anto bicarakan dulu sama asty bu, biar bagaimanapun dia kakaknya. Bukan begitu pak?". Jawab anto dan berbalik tanya pada bapak.


"Betul nak anto, bapak sependapat dengan nak anto. Memang segala sesuatu itu harus di rembug, jangan di putuskan sendiri. Karena kita hidup berkeluarga". Jawab bapak seraya menyindir istrinya.


Seketika wajah ibu menjadi merah, seakan tidak terima dengan ucapan suaminya barusan.


"Ya bukannya memutuskan sendiri pak, ibu cuma ingin yang terbaik untuk erina. Itu saja kok, toh nak anto tidak keberatan. Betulkan nak anto?". Ibu membela diri dan tidak mau kalah.


"Saya si tidak keberatan bu, tspi kami harus bicara dulu. Maksud saya, saya sama istri saya tidak mau timbul masalah di kemudian hari". Jawab anto bijak, takut ibu mertuanya tersinggung.


Tujuannya ke sini bukan untuk membahas soal erina, tapi soal cucunya yang baru lahir.


"Ya sudah!". Jawab ibu ketus.


"Oh iya mana ini cucu kakek, tadi kedengarannya bangun". Bapak mencari keberadaan cucunya.


Sedari tadi asty mendengar pembicaraan mereka saat di ruang makan.


'Ternyata ini alasan ibu mau datang ke sini, hanya untuk mambahas erina. Bukan karena cucunya, pantas saja seolah tak mau menyentuh apalagi menggendong' pikir asty.

__ADS_1


"Iya kakek, arga di sini". Asty tersenyum. Hanya bapak yang mau bermain dengan arga, sepertinya sudah sangat dekat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam pun tiba, setelah mereka membersihkan diri masing-masing.


Asty menunjukan kamar tamu yang agak luas, untuk istirahat kedua orang tuanya.


Karena di rumahnya ada 3 kamar, dan kamar yang satunya belum ia bereskan.


"Bapak sama ibu tidur di kamar ini ya, barangkali bapak sama ibu mau istirahat. Hari sudah malam, pasti bapak ibu juga capek dari pagi belum istirahat". Ujar asty.


Ibu langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk, tanpa mengucap sepatah katapun pada asty. Sepertinya hanya ada erina saja di hati ibu.


"Iya asty terima kasih, kami akan tidur dulu selamat malam". Bapak menjawab.


Entah mengapa tiba-tiba asty memeluk bapaknya, berbagai pertanyaan tentang ibunya ia pendam air matapun mengalir.


"Asty kamu mengapa menangis nak?". Bapak bertanya lirih.


"Asty ndak apa-apa, asty cuma masih kangen pak. Kangen sama bapak dan ibu". Asty menutupi rasa yang sesungguhnya.


"Bapak juga masih kangen kalian, tapi kan masih banyak waktu untuk kita bisa bertemu lagi. Sekarang kamu juga tidur, sudah malam. kamu harus istirahat yang cukup, bapak juga sudah ngantuk". Bapak mengusap rambut asty dengan lembut.


'


"Iya asty pamit tidur ya pak". Jawab asty segera berlalu menuju kamar masing-masing.

__ADS_1


Akhirnya mereka lelap dalam mimpi masing-masing.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2