
Sarapan pagi sudah siap.
Asty memanggil mereka untuk segera makan bersama.
Setelah selesai sarapan.
"Kira-kira kamu mau daftar sekolah yang mana besok rin?". Tanya asty.
"Mungkin yang terdekat aja mbak, biar tidak terlalu banyak ongkos". Jawab Erina.
"Baiklah, kalau yang terdekat mungkin mbak bisa antar dan arga juga bisa mbak ajak. Kasian kalau di tinggal". Ujar asty.
Ibu yang mendengar obrolan mereka langsung bergabung, hatinya lega karena ia tidak jadi menjaga arga.
"Kalau begitu ibu saja yang jaga rumah, kan kalian keluar semua. Nak anto juga kan harus kerja. Bagaimana?". Ibu nimbrung.
Asty melihat kali ini ibunya senang.
"Baiklah kalau begitu, asty setuju". Jawab asty.
"Tante arga masih ingin main, ayo tante temenin arga". Rengek arga, di sela-sela obrolan mereka.
"Iya iyaa, tante datang". Erina berlari kecil menuju tempat arga bermain.
__ADS_1
Ibu dan asty masih sibuk membereskan dapur, sekalian mempersiapkan bahan untuk masak siang nanti.
Setelah itu mereka bergabung di ruang tengah, sedangkan anto di teras depan seorang diri.
Rumahnya jadi ramai, arga ada teman bermain.
'Akan lebih ramai lagi kalau seandainya arga sudah ada adik, pasti tambah seru kalau semua kumpul' pikir anto dalam hati.
Dan tanpa di sadari ia senyum-senyum sendiri membayangkan keluarga kecilnya.
"Mas kok senyum-senyum sendiri gitu? Ada apa nih?". Tiba-tiba asty berada di sampingnya menggoda.
"Ah masa sih, nggak kok". Anto kebingungan dan malu.
"Lha wong tadi aku liat sendiri kok. Mas lagi senyum-senyum, ayooo lg mbayangin apa sih?". Tanya asty.
"Kamu itu yaa, ndak suka liat orang bahagia sedikit aja". Celoteh anto, iya cubit hidung istrinya.
Mereka tertawa berbarengan, dan cukup keras membuat ibu dan erina menoleh ke arah mereka berdua.
Baru kali ini asty dan anto bisa duduk berdua di teras rumah karena ada ibu dan erina yang menemani arga.
Semenjak ada arga, waktu untuk berdua berkurang karena arga lebih membutuhkan perhatian mereka.
__ADS_1
"Asty, bagaimana kalau arga punya adik dalam waktu dekat? Apa kamu siap?". Tanya anto, sambil memandang wajah istrinya dengan penuh harap.
"Jangan dulu lah mas, tunggu arga berusia lima tahun saja". Jawab asty.
"Hmmmm, mas pikir kamu mau kita punya anak lagi dalam waktu dekat". Anto sedikit kecewa dengan jawaban asty, tapi segera ia buang rasa kecewanya. Karena mungkin asty memang belum siap.
"Maaf ya mas, mungkin mas kecewa dengan jawabanku. Tapi mas kan tau, arga masih butuh pendampingan ketika bermain. Nanti kalau tiba-tiba punya adik, aku tidak bisa mengawasinya terus. Otomatis lebih fokus pada dede bayinya". Asty menjelaskan alasan kenapa belum siap.
"Iya ya bener juga, ya sudah kita tunda dulu sampai arga lima tahun". Anto mau mengerti istrinya.
"Makasih ya mas, kamu mau mengerti aku". Ucap asty tersenyum senang.
Asty bahagia karena anto adalah suami yang pengertian dan tidak pernah memaksakan setiap keinginannya.
Beruntung ia memilikinya, suda ganteng, pintar, mapan, sabar, pokoknya sempurna deh buat asty.
Kadang terbersit dalam hati asty, ingin sekali ia bermanja-manja pada suaminya.
Biar romantis gituu.
Tapi ada rasa malu pada anto.
'Iihh ntar di kira istri kegatelan, nggak mau ah'. Gumam asty dalam hatinya. sambil sesekali melirik orang yang ia sayangi.
__ADS_1
(Aku mencintaimu mas....).
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...