Perseligkuhan Suami

Perseligkuhan Suami
Pulang kampung


__ADS_3

Keesokan harinya, ibu dan bapak sudah bersiap untuk pulang kembali ke kampung.


"Bu, apa ndak sebaiknya nginap semalam lagi? Sebenarnya asty masih kangen sama ibu". Asty membuka percakapan pagi itu, ia mencoba mengajak bicara ibunya meskipun keliatan tidak suka.


"Apa kamu mau adik kamu itu tidak ke sekolah gara-gara tidak ada ibu di rumah? Kamu tidak kasihan, kamu kan tau adik kamu itu tidak bisa apa-apa tanpa ibu". Jawab ibu ketus.


"Asty mengerti bu, tapi erina kan sudah besar bu sudah remaja. Jangan di biasakan seperti itu, kalau kebawa sampai menikah gimana bu? Kan malah kasihan nantinya". Saran asty. Wajah ibu memerah sepertinya kali ini ia tersinggung dengan ucapan asty.


"Kamu itu ndak usah mengajari ibu! Ibu tau apa yang terbaik buat erina, jadi sudah urus saja rumah tanggamu". Jawab ibu semakin kesal, merasa di gurui oleh asty.


"Ya sudah terserah ibu, bagaimanapun juga erina adik asty. Setidaknya asty juga berhak menasehatinya bu". Jawab asty, ia pun ingin di anggap.

__ADS_1


Karena semenjak datang ke rumah ini, ibu tidak pernah mengajak bicara padanya. Ia selalu membuang muka ketika bertemu asty. Makanya asty selalu menghindar ketika berada dekat mereka, takut mengacaukan suasana.


"Asty, bapak sama ibu pulang dulu ya. Kamu jaga diri baik-baik, jaga cucu kakek ya". Tiba-tiba bapak keluar, dengan membawa tas yang berisi baju ganti selama di rumah ini.


"Jadi bapak benar-benar mau pulang sekarang?". Tanya asty berharap bapak mengurungkan niatnya.


"Ia nak, lain waktu kalau masih di ijinkan kita bertemu. Pasti bapak main ke sini lagi, kan sekarang ada Arga. Bapak pasti akan selalu merindukannya". Bapak menjawab sambil mengusap rambut asty dengan lembut.


"Baiklah pak, asty akan selalu menunggu kehadiran bapak. Asty sayang bapak hiks hiks". Asty terisak, di peluknya tubuh bapak. sepertinya enggan untuk berpisah.


"Iya nak anto, bapak takut kesorean nyampai rumah, jadi harus berangkat sekarang". Bapak menjawab.

__ADS_1


"Iya nak anto, lagian kasihan erina kalau harus di tinggal lama-lama. Sebenarnya ibu juga masih betah di sini, tapi gimana lagi di rumah juga harus ada yang di urus". Ibu menyambung jawaban bapak tanpa di minta.


'kenapa harus selalu erina yang jadi alasan'. Rungut asty kecewa dengan ibunya.


"Asty bikinkan sarapan dulu ya pak". Ucap asty.


"Tidak usah nak, anti malah kelamaan ngobrol lagi. Sudah, bapak sama ibu pamit sekarang saja. Jaga cucu bapak baik-baik ya, kamu juga harus jaga kesehatan jaga pola makan. Kalau ada apa-apa segera kabari kami". Bapak berpamitan, ibu juga.


Asty dan anto hanya menatap kepergian mereka dari teras. Bukannya tidak mengantar orang tua itu, akan tetapi jarak dari kota ke kampung halaman asty cukup memakan waktu lama. Jadi anto tidak mau asty repot sendiri di rumah.


Ia berusaha menjadi suami siaga bagi istri dan juga buah hatinya ketika berada di rumah.

__ADS_1


Rumah itu kembali sepi, tinggal mereka bertiga. Asty, Anto dan Arga. Keluarga kecil bahagia yang menjadi impian setiap orang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2