
Sore hari masih di rumah erina.
Mereka sudah bersiap untuk ke dokter.
Erina sudah nampak segar.
"Ayo kita berangkat sekarang". kata erina.
Anto pun bangkit dari duduknya, ia berjalan limbung seperti tidak ada semangat.
"Mas kamu sakit? Apa kita tunda besok saja ke dokternya". Ucap erina cemas.
"Nggak apa-apa, sekarang saja lebih cepat lebih baik". Jawab anto.
Sebelum berangkat anto mencuci wajahnya terlebih dahulu agar terlihat segar .
Setelah itu mereka segera menuju ke dokter.
"Bagaimana dokter?". Anto bertanya setelah dokter selesai memeriksa keadaan erina.
"Istri anda sehat-sehat saja, begitu juga janin yang ada dalam kandungannya. Tolong di jaga ya bu". Jawab dokter.
Anto tercengang. 'Erina hamil'.
Erina pun kaget, apa yang harus ia lakukan. Sementara anto adalah suami dari kakaknya.
Haruskah ia menjadi madu dari kakaknya.
Bagaimana perasaannya ketika tau kalau suaminya berselingkuh.
Pikiran mereka kacau balau.
__ADS_1
"Baik dok, terima kasih kami pamit". Ujar anto kemudian. Sambil menggandeng tangan erina keluar dari ruangan dokter.
"Bagaimana ini mas? Ini yang aku takutkan". Erina sedih, ia menangis di dalam mobil. Sejenak mereka merenungi perbuatannya.
"Kamu tenangkan diri dulu, kita pikirkan nanti setelah semuanya tenang". Ucap anto menenangkan.
"Pasti mbak marah pada kita mas, apalagi kalau bapak dan ibu tau. Mau jadi apa aku". Tangis erina pun memecah.
"Ayo kita pulang saja dulu, hari sudah malam. mas juga harus pulang ke rumah agar mbak asty tidak curiga". Mobilpun melaju ke kontrakan erina, anto langsung pamit pulang karena sudah malam.
......................
Asty menunggu kedatangan suaminya, tidak biasanya pulang malam tanpa pembdritahuan.
Asty tertidur di sofa depan tv, sedangkan arga sudah tidur di kamarnya.
Anto sampai rumah sekitar jam 10 malam.
Sengaja ia lambatkan mobilnya, untuk berpikir alasan apa yang akan dia katakan pada istrinya.
Di lihatnya asty tertidur di sofa, perutnya sudah terlihat menonjol, usia kandungannya sudah menginjak lima bulan.
Ia bopong tubuh asty, di pindahkan ke kamar pribadinya.
di pandanginya wajah tulus istri tercintanya,
ada perasaan sedih dan bersalah di hatinya, tak terasa anto meneteskan air matanya.
'Maafkan aku asty, aku sudah menghianatimu. Maafkan aku, aku khilaf'. Gumamnya dalam hati.
Ia usap rambut asty dengan lembut.
__ADS_1
"Mas sudah pulang?". Tanya asty lirih, suara itu yang selalu meneduhkan hatinya.
"Kok mas nangis, ada masalah apa mas? Cerita sama asty, arangkali asty bisa bantu meringankan". Ucap asty yang kini sudah duduk di ranjang.
Tanpa menjawab, anto memeluk tubuh istrinya dengan dada yang semakin bergemuruh. Tubuhnya bergetar, ia tidak peduli dengan statusnya sebagai suami yang seharusnya kuat dan bisa melindungi keluarganya. Ia sadari ternyata ia laki-laki lemah iman dan mudah tergoda.
Asty semakin pusing di buatnya.
Banyak hal yang membuatnya bingung akhir-akhir ini, di tambah malam ini.
Suami yang ia kagumi menangis di pelukannya, sepertinya beban yang ia tanggung terlalu berat dan sulit untuk di ungkapkan.
"Mas ada apa? Bisakah kamu bagi kesedihanmu ini padaku, aku istrimu mas. Suka dukamu adalah suka dukaku juga". Suara asty lembut, semakin membuat hati anto bertambah remuk. Tak kuasa menahan tangisnya.
'Semoga asty mau mengampuninya'
"Asty maafkan mas ya, mas udah berbuat salah padamu ada arga juga. Mas berdosa sekali". Suara anto terdengar parau.
"Sebenarnya ada apa mas? Kamu pulang larut malam apa kamu di pecat?". Tanya asty penasaran
Anto menggelengkan kepalanya.
Haruskah ia mengatakan yang sebenarnya malam ini?.
"Tidak asty, hanya saja mas belum bisa cerita sekarang". Ucap anto masih dalam kwsedihannya.
Ia menundukkan kepalanya, tangannya menggenggam tangan asty erat.
"Ya sudah nanti kalau sudah siap, ceritakan saja padaku. Aku siap mendengar dan siap membantu semampuku mas". Asty menjawab dengan senyum yang teduh, seteduh hatinya. Yang mampu mendinginkan suasana.
"Sekarang kita tidur mas, besok kan harus kerja". Ajak asty.
__ADS_1
Akhirnya merekapun tertidur, karena hari sudah sangat larut bahkan hampir pagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...