
Hari-hari penantian yang panjang di lalui oleh asty dan anto, seakan mereka tak sabar untuk melihat buah hatinya...entah mirip siapa, yang pasti menurut hasil USG berjenis kelamin laki-laki. Itulah yang membuat anto tidak sabar menunggu hari yang di nantikan.
"Anak papa, kapan kamu lahir nak? Papa udah nggak sabar ingin cepat-cepat menggendongmu". Ucap anto sembari mengelus perut istrinya yang membulat.
"Sabar dong papa kan sebentar lagi juga kita ketemu. Iya kan sayang". Asty pun mengelus perutnya, sebuah tendangan lembut dari dalam perut asty tepat di telapak tangan anto.
"woww jagoan papa nendang nihh, sehat-sehat ya anak papa mmmhh". Anto sangat gembira sekali.
Hari ini hari minggu, anto ingin mengajak istrinya untuk jalan-jalan sekalian berbelanja keperluan si kecil nantinya.
"Asty bagaimana kalau hari ini kita beli semua keperluan anak kita? Sekalian kita jalan-jalan, mumpung mas libur juga". Ajak anto.
"Boleh juga mas tunggu ya mas, aku mau ganti baju dulu". Asty berlalu ke kamarnya.
Anto menunggu sambil duduk di teras depan, 'Kenapa aku tak ajak ibu mertuaku saja untuk ke sini, biar ada yang menjaga asty pasca melahirkan'. Pikir anto.
Setelah berganti baju dan membawa tas, asty segera keluar menemui sang suami, tak lupa mengunci pintu karena rumah kosong.
"Ayo mas kita berangkat, nanti keburu sore". Ajak asty.
__ADS_1
"Siap istriku sayang". Anto terkekeh dan akhirnya mobilpun melaju menuju pusat perbelanjaan yang tidak terlalu besar namun di situ komplit, karena semua yang mereka butuhkan tersedia di sana.
"Sudah semua mas tinggal kita ke kasir". Kata asty.
"Ayo". Jawab anto.
"Bagaimana kalau kita sekalian makan malam sayang? Udah mulai gelap lhoo, daripada sampai rumah masak sendiri kan capek". Saran anto setelah mereka selesai berbelanja.
"Okelah kalau begitu, asty nurut aja apa kata mas hehe". Asty menyetujuinya, karena memang benar kali ini di merasakan capek. Mungkin karena usia kandungan yang mendekati kelahiran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Asty dari tadi mas berpikir, bagaimana kalau ibu kita panggil ke sini untuk sementara waktu? Agar bisa menemanimu ketika mas tidak di rumah, apa kamu setuju?". Tanya anto ketika melihat istrinya keluar dari kamar.
Asty bingung, dan berpikir lama.
"Bagaimana sayang? Setujukah dengan permintaanku?". Anto bertanya sekali lagi.
"Menurutku tidak usah dulu mas, kita kabari saja kalau anak kita sudah lahir. Bukannya apa, takutnya ibu sibuk dengan pekerjaannya". Jawab asty, menutupi perasaan sakit hatinya pada ibu.
__ADS_1
Tiba-tiba asty merasakan tidak enak pada perutnya, mulas tapi tidak berlangsung lama.
Lalu duduk di teras depan, ia pikirkan kata-kata suaminya.
'Apakah ibu mau kalau seandainya di ajak ke rumah ini? Tapi bukannya aku juga anaknya, anak kandungnya. Kenapa seolah-olah ibu tidak suka aku hamil, bukankah setiap orangtua menantikan hadirnya seorang cucu. Atau mungkin tidak begitu dengan ibuku?". Asty berpikir dalam hati.
Dan rasa mulas itu datang lagi, kali ini agak lama hingga asty melenguh.
"Maaass perutku kok mules yaa? Tadi juga, tapi yang ini agak lama huuufffft". Suara asty terdengar sangat pelan menahan sakit.
Anto segera menghampiri.
"Apakah mungkin itu pertanda akan melahirkan? Sebaiknya kita segera ke dokter Asty, agar cepat tertangani". Ajak Anto.
Tanpa menunggu jawaban asty, anto bergegas menyiapkan segala keperluan istri dan calon anaknya agar tidak bolak balik rumah sakit, karena sadar mereka hanya berdua.
Segera mereka masuk ke dalam mobil, menuju ke rumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1