Perseligkuhan Suami

Perseligkuhan Suami
Jangan bilang mau pisah


__ADS_3

Asty sampai di kampung halaman.


Ia peluk kedua orang tuanya, hatinya hancur melihat kedua orang tuanya yang menyambutnya, harapan bahagia terpancar di wajah keriputnya, akan tetapi yang ia bawa saat ini hanya kekecewaan yang teramat sangat.


"Kakek, Arga mau main sama kakek". Rengek arga pada kakeknya.


"Iya sayang". Jawab bapak, ia bopong cucu kesayangannya.


"Ayo masuk asty, mana nak anto?". Ibu mempersilahkan asty dan mencari keberadaan anto, tapi tidak ada.


"Mas anto kerja bu, adi tidak bisa antar kami". Jawab asty di buat setenang mungkin agar ibu tidak curiga.


"Apa kalian bertengkar?". Ibu yang selalu menebak-nebak. Dan selalu firasatnya itu benar.


"Ah..ndak kok bu, cuma arga kangen sama kakeknya, ia merengek terus jadi asty ajak ke sini aja". Asty berbohong.


"Oo begitu, bagaimana kabar erina? Katanya dia ngontrak rumah setelah lulus, apa sudah kerja? Kok bisa ngontrak rumah". Tanya ibu lagi.


"Erina kabar baik kok bu, kalau untuk bayar kontrakan si mungkin dia ada kerja sampingan. Kan katanya mau lanjut kuliah juga". Jawab asty hanya berdasarkan 'katanya' saja. Karena ia sendiri tidak tau uang darimana yang buat bayar kontrakannya.


"Ya sukurlah, tapi bukannya kontrak itu mahal ya as? Trus untuk biaya sehari-hari juga kan pasti butuh banyak uang, ibu jadi curiga". Lagi-lagi ibu menebak. dan perasaannya memang tidak salah.


Tapi asty belum mau cerita, karena takut keduanya syok.

__ADS_1


"Ya lumayan sih bu, asty juga bingung kenapa tiba-tiba erin minta ngontrak padahal sudah enak tinggal sama aku". Asty jadi teringat perselingkuhan suami nya, mungkin itu yang membuat erin lebih baik ngontrak.Agar mereka lebih leluasa. Asty menunduk takut ibu melihat perubahan raut mukanya.


Ibu memperhatikannya dengan diam-diam.


"Asty". Ibu mengangkat dagu asty, kali ini ibu berkata lembut.


"Iya bu". Asty menitikan air mata.


"Ceritakan pada ibu, ibu tau kamu sedang tidak baik-baik saja". Pinta ibu.


Asty memeluk ibunya erat, erat sekali seakan ingin menumpahkan kesedihannya pada ibu.


tubuhnya bergetar.


Kebetulan arga dan bapak sedang jalan-jalan di kebun belakang, jadi hanya tinggal mereka berdua.


"Bu jika asty cerita sekarang, apa ibu kuat mendengarnya?". Asty bertanya, takut jantung ibu kambuh. (ibunya punya riwayat sakit jantung).


"Tidak apa-apa, ibu akan kuat untuk mendengarkannya". Jawab ibu.


Tapi asty ragu, takut sesuatu yang buruk menimpa ibunya.


"Nanti saja ya bu, Asty kuatir ibu tak kuat mendengarnya". Ucap asty. asty juga sadar jika selama ini ibu membedakan kasih sayangnya, ibu lebih menyayangi erin di banding dirinya. jadi ia urungkan niatnya untuk cerita.

__ADS_1


"Apa kalian ribut? Jangan bilang kalian juga mau pisah". Ibu menebak lagi. Ribut memang benar, tapi untuk berpisah asty belum berpikir sejauh itu.


"Iya bu, kami memang sedang tidak cocok dan ini untuk pertama kalinya selama asty menikah dengan mas anto". Asty bercerita.


"Tapi untuk berpisah, asty tidak berpikir sejauh itu bu. Asty hanya ingin menenangkan pikiran saja, kebetulan arga juga kangen sama bapak". cerita asty hanya sebatas itu.


"Kalau begitu tenangkan dulu hati dan pikiranmu, agar kamu bisa berpikir dengan jernih". Saran ibu. Asty mengangguk setuju.


Asty lega, karena saat ini ia bisa berpikir bagaimana cara menceritakannya pada kedua orangtuanya agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.


Tapi ia juga tidak bisa memendamnya terlalu lama, lambat laun mereka akan tau hal yang sesungguhnya terjadi.


......................


Saat ini erina belum tau kalau kakaknya pulang kampung, karena anto juga belum membritaukannya.


Pikirannya sedang kalut, jadi belum terpikirkan untuk membertaukan tentang asty pada erin.


"Ah biarkan saja dulu". Anto berucap sendiri.


ia benamkan wajahnya pada bantal sofa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2