
Pagi harinya.
Asty hendak ke rumah anto, ia ingin mengambil barang-barang miliknya dan juga arga.
Asty sudah memutuskan untuk hidup sendiri, membesarkan kedua anaknya kelak.
Ia akan memulai usaha dari nol.
Kebetulan ia mahir membuat makanan atau jajanan.
Asty sudah bersiap untuk pergi, arga sementara di titipkan pada bapak.
"Mau kemana asty?". Tanya ibunya yang ternyata sudah bangun terlebih dulu.
"Asty mau ambil barang-barang asty dan arga bu, di rumah mas anto, titip arga untuk hari ini ya bu asty segera kembali kok". Jawab asty.
"Memangnya kamu mau di sini terus?". Ibu bertanya lagi.
"Iya bu, sebelum asty dapat tempat untuk tinggal". Jawab asty, dan ia segera berpamitan pada ibu.
"Asty pamit dulu bu". Asty mencium punggung tangan ibunya.
"Hati-hati". Ucap ibu.
Setelah kepergian asty, ibu segera membangunkan bapak yang masih tidur nyenyak.
Ia tidak berani membangunkan anto yang saat itu juga tidur di kursi.
"Pak, bangun! Asty kenapa pergi?". Ucap ibu seraya membangunkan suaminya.
"Ada apa sih bu? Masih gelap juga". Jawab bapak sambil mengusap matanya.
"Asty pergi pak, tadi pamit sama ibu. Katanya mau ambil barang-barang dia sama arga". Ibu menjelaskan.
__ADS_1
"Hah! Kenapa ibu tidak bangunkan bapak?". Protes bapak.
"Lah ini di bangunkan malah kaya orang bingung gitu". Jawab ibu kesal.
"Sebenarnya ada apa lagi sih pak?". Tanya ibu lagi.
"Asty memutuskan untuk pisah dadi anto bu, dan ia meminta erina nikah dengan anto". Jawab bapak pelan.
Ia kecewa dengan keadaan ini, rumah tangga yang sedang merasakan manisnya madu. Kini harus berakhir dengan menyedihkan.
Ibu berpikir, kali ini ia kuat.
"Pak, apa sebaiknya mereka tidak usah pisah. Biar nanti kalau anak erin lahir kan bisa asty yang merawatnya". Saran ibu.
"Bu, kamu ini ngomong apa? Mana ada istri yang mau merawat anak dari selingkuhan suaminya?". Tanya bapak geram.
"Ada kok, kaya di sinetron-sinetron itu lho pak". Jawab ibu enteng.
"Kali aja asty'nya mau pak, kan kita belum tanyakan juga". Jawab ibu lagi.
Bapak hanya menggelengkan kepala, ia tidak tau dengan jalan pikiran istrinya.
Bapak keluar dari kamarnya, dan ternyata anto sudah bangun.
"Nak anto sudah bangun?". Sapa bapak.
"Sudah pak". Jawab anto.
"Asty tadi pergi, katanya mau ambil barang-barangnya di rumah nak anto". Bapak menjelaskan.
"Asty pergi jam berapa pak?". Tanya anto.
"Bapak kurang tau, asty pamit sama ibu". Jawab bapak.
__ADS_1
Anto segera ke kamar mandi untuk sekedar cuci muka saja.
"Anto mau susul asty pak, takut terjadi sesuatu padanya". Anto berpamitan pada bapak, dan berlari keluar.
Anto mengemudikan mobilnya secepat kilat, agar ia sampai lebih dulu.
Sepanjang perjalanan, Asty hanya melamun.
Sesekali terdengar suara kondektur bis yang mecari penumpang.
Asty kembali teringat masa lalunya, awal bertemu dengan anto.
Flashback.
Mereka bertemu dan berkenalan di dalam bis.
Dan pertemuan itulah yang akhirnya membawa mereka ke sebuah hubungan yang serius, hingga akhirnya menikah dan punya anak.
Kehidupan yang mereka jalani sangat bahagia, karena mereka saling mencintai dan saling melengkapi.
Sungguh pasangan yang serasi.
......................
"Ahhhhh". Asty mendesah dalam lamunannya.
Ia tidak percaya kalau kehadiran erina justru membuat rumah tangganya hancur.
Seandainya waktu dapat di putar kembali, ia akan menolak permintaan ibu.
Tapi semua sudah terlambat, tekadnya sudah bulat. Ia ingin pisah saja dengan suaminya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1