Perseligkuhan Suami

Perseligkuhan Suami
ARGADINATA


__ADS_3

"Halo ibu, apa kabar bu?". Sapa anto ketika telepon telah terhubung,


"Kabar baik nak anto, ada apa ya kok telfon ibu sepagi ini? Sepertinya ada yang penting". Ibu bertanya dengan ramah, berbeda ketika asty yang menelfonnya delapan bulan yang lalu.


"Syukurlah bu, begini anto ingin menyampaikan kabar gembira buat ibu dan bapak. Malam tadi asty telah melahirkan cucu ibu dan bapak, bayinya laki-laki. Dan mereka dalam keadaan sehat, apakah ibu dan bapak bersedia ke rumah kami bu?". Dengan lancar anto mengutarakan maksud dan tujuannya menelfon sang mertua.


"Baiklah nak anto, nanti ibu sampaikan ke bapak dulu ya? Semoga bapak mau ke sana untuk menengok cucu. Pasti cakep kayak nak anto hehehe". Jawab ibu mertua.


"Baikk bu, trima kasih. Saya tutup dulu ya bu? Sekali lagi trima kasih". Panggilan berakhir.


Ada rasa yang aneh ketika bertelepon dengan ibu mertuanya, sepertinya tidak ada perhatian terhadap asty sedikitpun. Ada apa sebenarnya? Apakah ini yang dulu pernah membuat asty sedih saat mengabarkan kehamilannya, tapi kenapa? Anto melamun, lalu tersentak oleh panggilan asty dari dalam kamar.


"Mas". Panggil asty..


"Iya sayang ada apa?? adakah kamu merasakan sakit?". Jawab anto seraya mendekati istrinya yang sudah duduk di kasur.


"Enggak kok mas, nggak ada yang sakit. Oh iya apa jawab ibu? Apakah beliau mau datang ke rumah mas?". Asty penasaran akan jawaban ibunya.


"Ibu akan bicarakan dulu sama bapak, mas yakin mereka pasti datang kok. Bukankah anak kita ini cucu pertama mereka". Anto tersenyum penuh harap.

__ADS_1


"Semoga ya mas". Jawab asty, seperti tidak yakin.


"Iya, sekarang kamu makan ya? Mas suapin, kamu pasti lapar karena semalam berjuang sendiri demi jagoan kita". Anto tersenyum bahagia, ada banyak cinta terpancar dimatanya untuk sang istri.


"Aku mau makan sendiri aja mas, masa kaya bayi pakai di suapin segala iihh mas lebay deh". Asty terkekeh.


"Yaaaa nggak papalah kan buat yang tersayang, sekali-sekali apa salahnya? Biar romantis gitu". Goda anto.


"Baiklah aku mau, tapi sekali ini saja ya mas. Malu di lihat orang". Asty'pun mau menuruti kemauan anto.


"Baiklah ratuku, sekarang makan yang banyak biar cepat sehat dan kita pulang". Anto bersemangat.


Suapan demi suapan ia berikan pada istrinya, sambil sesekali membersihkan makanan yang menempel di bibir asty.


"Baiklah, yang penting perut kamu sudah terisi. Sekarang minumlah dan jangan lupa minum obat ya". Di kecupnya kening asty, asty merasa telah menjadi istri dan ibu yang paling bahagia saat ini.


"Mas bagaimana kalau kita beri nama anak kita Argadinata? Kelak ia menjadi seorang pemimpin yang berwibawa. Bagaimana menurutmu mas?". Tiba-tiba asty berpikir tentang sebuah nama untuk bayinya.


"Boleh, nama yang bagus. Aku setuju, Argadinata". Anto menyetujui nama itu.

__ADS_1


'kelak ia menjadi anak yang kuat, seorang pemimpin yang berwibawa, yang bisa membawa nama harum untuk keluarga, nusa dan bangsa' terselip doa untuk sang anak.


Tiba-tiba handphone anto berbunyi, membuyarkan lamunan anto.


"Halo, bagaimana bu?". Ternyata ibu mertuanya


"Halo, begini nak anto rencana ibu sama bapak besok mau datang, itu aja". Kabar dari ibu asty, tentu asty akan bahagia. Pikir anto sebelum sambungan terputus.


"Ooh iya bu baik, terima kasih bapak dan ibu mau datang sekali lagi trima kasih bu" Anto bahagia.


"Iya sama-sama nak, sudah dulu ya ibu tutup teleponnya". Sambungan terputus.


Anto bergegas menghampiri asty.


kini asty sedang berlatih berjalan. Karena memang ia melahirkan secara normal, jadi masa pemulihanpun cepat.


"Besok ibu dan bapak akan datang asty, baru saja ibu menghubungi mas". Ucap anto.


"Oh ya? Benarkah mas??". Asty tak percaya.

__ADS_1


Dia hanya bisa berharap bapaknya tidak seperti ibu, yang seakan tidak menyukainya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2